Thursday, 6 June 2013

Astrid punya MIMPI : MAYORET


“Mbak, tahun depan aku pingin jadi mayoret!”

Ujar adikku, seusai jadi pom pom girl di Kecamatan tahun lalu,


Kala itu, dia masih duduk di TK kecil setelah mengatamkan bangku PAUDnya yang penuh keindahan.

Ini juga kali pertama dia tampil melakukan sesuatu di depan publik, orang banyak. Dan sebatas sebagai pom pom girl saja. Pagi pagi sekali dengan semangat menggebu dia berangkat diantar Ibu. Perannya sebagai pom pom girl membuatnya senang sekali.

Dan karena pada hari itu aku libur kuliah, aku menyempatkan diri untuk melihat penampilan Atrid di balai kecamatan.

Dan karena emang dasar penyakit telatan susah ilangnya, baru menginjakkan kaki di gapura kecamatan, pertunjukkannya sudah mendekati klimaks. Si barisan pom pom girl memutari barisan pemain drumband beserta mayoret dan kemudian menghilang bersama bersama ke belakang.

Dan akhirnya aku hanya bisa mengabadikan kebersamaan Astrid bersama teman temannya seusai pertunjukan.


Dan sampai di rumah, adikku dengan penuh binar berkata tahun depan ingin menjadi mayoret!

Bila dibandingkan dengan temannya yang lain, tinggi adikku tidak bisa dibilang menjulang, dan tubuhnya pun agak tidak sintal dan montok. Biasanya, mayoret akan dipilh dengan kriteria tinggi menjulang dan badan sintal seperti mereka berdua itu.

Lalu, beberapa bulan kemudian, saat aku pulang ke rumah, dia langsung berceloteh.

“Mbak, aku tahun depan jadi mayoret mbak!”, ungkapnya dengan bahasa Jawa yang super kental.


“Kok bisa?”, aku pikir dia sedang berhalusinasi semata.

“Iya mbak, lha semua yang ditunjuk buat jadi mayoret pada takut semua ok mbak.. Malah do nangis ditunjuk mayoret, mbak..” dia menggebu gebu.

“La terus pas bu guru nunjuk aku, aku ya langsung mau. Wong jadi mayoret tu enak kok ya mbak, didandani ya mbak, sepatune apik.. Elin juga waktu ditunjuk langsung mau. Sama kayak aku”

Elin pun sebelas dua belas dengan Astrid, bahkan dia lebih mungil.

“Emang kamu nggak malu, takut salah?”

“Ora mbak, aku malah pingin ok. Aku meh menthel...”

“Errrrrr....”

Dan akhirnya dari pom pom girl, Astrid dengan tekadnya yang kuat dan keberanian yang tidak diragukan lagi bisa mencapai level mayoret.

Well, Astrid tidak dipilih pada awalnya. Hanya saja, temannya yang lain tidak mau mengambil kesempatan terbentur ketidakberanian atau malu.

Dan kesempatan datang pada Atrid. Jelas Astrid senang bukan kepayang.

Setiap Sabtu sepulang sekolah dia latihan di sekolah. Lalu, di rumah kerjaannya maju dua langkah mundur dua langkah sambil muter muterin gagang sapu lantai dan mulutnya bersenandung seirama ketukan nada.

“Piye mbak aku mbak?” Dia minta dipuji.

“Wah, apik tenan..apik..”

Lalu dia semakin menjadi jadi mundur maju sambil muterin gagang sapu ke segala arah. Aku menyelamatkan diri.

And finally, her dream come true!!!!


Sehari sebelum tampil, aku bertanya padanya,

“Piye Tid? Siap??”

“Wah, siap banget mbak...jadi mayoret enak ok mbak...besok aku jam 6 udah harus pergi lho mbak, aku didandani...”

Dan aku nggak perlu bilang ‘all is well’, adik ku udah lebih daripada sekedar well.


Akhirnya mimpi adikku setahun lalu terbayar lunas. Sah??? Saaaah....



Dan dari Astrid terpetiklah pelajaran hidup nomor 87

“It is not the matter of how you look outside, but how you feel inside.” (bener nggak nih?)

Astrid, yang tingginya tidak seberapa dibandingkan temannya yang lain, dan juga tidak semontok temannya yang lain pun bisa naik lepel menjadi mayoret. Why? Because she has willing, because she dares to take a challenge when others don’t.

Kata tweet, ‘you are not who you are, but who you wanna be.’ Wohohoho...

Yah, emang selagi kita mau berusaha dan kita mau mencoba, apa apa yang di awalnya terlihat mustahil, pada akhirnya pun sangat tidak mustahil.

Tulisan ini aku tulis khusus untuk adikku yang akan segera mengenakan seragam merah putih, -tinggaldikerek-.

Jadi kalau pada masanya nanti Astrid udah besar dan internet belum kiamat serta blog ini masih menyemarakkan dunia maya, Astrid bisa baca tulisan mbak Ike. Astrid kecil pemberani yang keren!
Semoga selalu keren, dan semakin keren seiring bertambahnya usia.

Berani mengambil kesempatan, dan jangan cengeng karena dunia ini fana. Cemunguth!!!

Ini mbak Ike waktu masih unyuk kayak kamu...
Sayangnya, dulu nggak ada mayoret mayoret begituan...Drumband belum musim, adanya gosok gini berjamaah berbaris di sepanjang selokan kecil di depan TK.


 



























3 comments:

  1. Wah lucu-lucu... cute-cute... cantiq.. moga mimpinya tercapai ya.. bermimpi menjadi mayoret yang profesional, nggak ada salahnya kok.. itu hebat :))

    ReplyDelete
  2. keren keren deh adeknya mbak Mey, semoga jadi anak yg tangguh dan berani .

    ReplyDelete
  3. wahh... kereenn... anak kecil aja udah berani bermimpi yaaakkk.....

    dari wajahnya juga kelitan kalo dia punya PD yang tinggi.. tangguh dan berani..

    calon mayoret masa depan. eaaakkk

    ReplyDelete