Monday, 27 May 2013

Sekerat Pelajaran dari Emperan Toko PAULINE

20.30 WIB

Sesampainya gue di depan toko baju anak anak Pauline, tepat di pertigaan mengarah ke Bandungan, puncaknya orang Ambarawa dan Semarang, gue langsung menempelkan pantat gue dengan bijaksana ke teras toko. 

Tas backpack gue yang isinya subhanalloh cenderung inalillah gue daratkan dengan mulus ke samping gue. Gue berbisik pada pundak gue,

“Pun, cabal eaa..kapan kapan kamu aku service..”, gue pijat pelan pelan secara bergantian. -Dia mengangguk pelan-

Gue menebarkan senyum ke seorang wanita seumuran gue yang duduk tepat di kiri gue. Ini jumpa kita kali kedua.

Pulange jam segini terus to?”, gue tidak sanggup diam saja.

Iyo mbak..”, lesung pipinya tercetak samar.

Kali pertama kita ketemu, dia menyebutkan rumahnya di Banaran, Grabag. Dan kali kedua kita bertemu, hari ini.

Nak pulang jam segini terus mbak?” kembali gue melemparkan tanya.

“Iya mbak...”

“Uhm...padal kalau pagi harus berangkat jam berapa mbak?”

“Jam setengah enam, mbak..”

“Waduoooh, padahal jam segini baru sampe sini, trus nanti bisnya datangnya jam berapa Mbak?”


“Iya mbak, nggak tau ek mbak, tak tunggu sedatangnya...”

“Waduoooh, berarti nanti boboknya tiap malam jam berapa mbak?”

“Jam 11 mbak..”

“Wah, bobok jam 11 terus jam 5.30 udah cus gitu mbak??” Otak gue penuh tanda tanya.

“Iya mbak,....”

“Waaah, keren mbak, tapi itu sampai Jumat tok ya mbak?”

“Nggak mbak, sampai Sabtu. Malah biasanya Minggu juga berangkat...”. Kalau gue punya 6 jempol, langsung akan gue arahkan ke Mbaknya ini.

“Hah?? Apa nggak capek mbak??”

“Lah..piye mbak...rekasanya nggolek duek mbak...” Dia bilang, mau bagaimana lagi, emang cari uang itu susah...

And, sometimes the only choice someone has is no choice. 

Hidup kadang tidak menyodorkan pilihan. Dan mau tidak mau manusia menjalankan demi kehidupan yang lebih baik daripada tidak berbuat apa apa dan tidak mendapatkan apa apa.


“Mbak, kita nak seumuran mbak?”

“Aku 91 mbak, la sampeyan?”

“Wah, sama mbak. Aku juga 91.”

“Bulan apa mbak?” Alhamdulillah, dia balik bertanya.

“Mei mbak, la mbake?”

“Juni mbak, 10 Juni... mbake?”

“Aku 22 Mei mbak, baru aja mbak... wah berarti malah tuaan aku ya mbak...”

Di tengah pembicaraan kita, akhirnya Ayah gue datang. Dan gue pamitan dengannya,

“Sek ya mbak, ati ati ya..”

“Nggeh..”, dia mengamini.

Dan percakapan itu terus berputar putar di otak gue. Betapa kokohnya mental Mbaknya, bekerja dari pagi sampai malam. Dia harus mengangkatkan kaki pukul 5.30 pagi hari dan pulang pukul 6 malam hari. Masih harus pulang sendirian, menggantungkan nasib pada bis yang entah berapa jam sekali lewat. Sampai rumah harus tidur pukul 11, dan besoknya harus bangun subuh buta dan kembali melakukan hal yang sama. Berapa hari dalam seminggu? 6 hari. Kalau ‘beruntung’, Minggu pun harus berangkat, saudara saudara.

Dan lo tau apa yang dia lakukan??

“Lha di sana kerjaannya apa mbak?”

“Nglebokke benik mbak, ki sampe drijiku buyutan,” Dia bilang kalau pekerjaannya adalah memasukkan kancing ke celana sembari memperlihatkan jari telunjuknya yang bergerak gerak sendiri, seperti gemetar.

Guenya ngeri.

“Sehari bisa sampe seribu mbak..” Seribu celana, saudara saudara. Dari pagi sampai magrib, dia hanya duduk sambil memasukkan kancing. Dan bila dia betah, maka dia akan melakukannya over the years. Ya, bertahun tahun memasukkan kancing.

Dan melihat perjuangan orang lain se luar biasa itu gue Cuma bisa gigit jari. Batin gue serasa tertampar tampar. Batin yang dikit dikit ngeluh. Dikit dikit ngerasa,

“Tuhaaaan, kenapa harus aku Tuhaaaaaan, kenapaaaaa???” ngesot ngesot tak berdaya.

Dan dibandingkan sama pekerjaan mbaknya, pekerjaan gue susahnya hanya sebatas jari telunjuknya yang terus gemetaran.

Dan lo tahu berapa kilometer jarak yang dia tempuh? Ungaran sampai Ambarawa, kata Ayah gue sekitar 27 kilometer. Sedangkan, Ambarawa-Grabag memanjang serupa 10 kilometer, sekitar dua kali jarak Ambarawa-rumah gue. Setiap hari dia harus bolak balik mengarungi jarak 37 kilometer!!!! Dan dia hanya mengandalkan bis, dirinya sendiri, dan Tuhan.

Gue nya lagi lagi merasa tertampar. Gue yang 25 kilometer aja udah koar koar serupa,

“Liat! Gue kasiaaaan. 25 kilometer harus gue rengkuh untuk bisa menggali ilmu.”

Toh gue menggali ilmu yang bisa gue gunain untuk mencapai masa depan shine bright like a diamond. Udah gitu juga gue masih bisa leha leha ngulet indah sambil buka jendela dan bilang “Good Morning, duniah fanaaah!”  di pagi hari karena paling awal gue berangkat pukul 8. Dan juga, malamnya gue punya Ayah yang alhamdulillah bisa jemput gue. Tinggal naik, merem, sampai rumah turun, dan bersua dengan kamar gue. Sesimpel itu.

Dibandingin sama mbaknya? Meniti panjang jalan 37 km sejak subuh dan bersua dengan kamarnya mendekati dini hari. Dan terus berporos pada satu siklus. Memasukkan kancing.

Dan bila gue kayak gini masih berkeluh kesah rasanya sangat sangat nggak tau diri. Dulu gue juga waktu banyak tugas, gue mengeluh.

Gue update status,

“Tuhaaaan, kenapa Engkau menerpakan hamba dengan berbagai tugas, Tuhaaaan...”
“Tugas ini membunuhkuuu... T.T”
“Aaaaak, besok test belum belajarrrr...otakku mbledossss..”
“Kenapa skripsi susah sekali Tuhaaaan,revisi nggak jadi jadi Tuhaaaan...”
“Tuhaaaaaan, susah move on Tuhaaaaaaaan.” Seolah olah gue orang terfana yang pernah tercipta.

“Plak!!!”, harusnya itu yang gue terima.

Alloh mengucurkan berkah berlimpah ruah. Dan bila masih saja berkeluh kesah, ckckckckckckc...

Banyak tugas ngeluh, nggak ada kerjaan ngeluh. Ujan , ngeluh payungnya bocor. Panas, ngeluh wajahnya entar makin matang serupa sawo.

And for me, she is such a motivator. Tidak harus Merry Riana, atau Bong Chandra, atau Maria Teguh.

Motivator ternyata bisa datang dari banyak sisi, dapat dari teras toko pakaian, atau kursi bis Sari. Membuka lebar lebar mata kita, dan tidak mendangkalkan pikiran kita.

And everywhere you can gain the life-lesson.

“Don’t either complain too easily or be satisfied easily!”

Jangan terlalu banyak mengeluh. Hidup sehat wal’afiat pun harus disyukuri luar bisa dari orang orang yang terjangkit berbagai macam penyakit. Juga, tidak mudah puas karena hidup harus terus di-upgrade serupa Android atau pun anti-virus. Cuma sekali gini..

And started from here, LET’S GO!!!

Setelah kita berbicara panjang kali lebar serupa luas persegi panjang, ada satu hal yang gue lupa tanyain.
NAMANYA.

Gue doain, semoga mbaknya selalu sehat.... suatu saat bisa berleha leha bangun pagi buka jendela dan berkata, “Good Morning duniyaaaaaah..”
Lalu, bangun dan menyeduh kopi. Indaaaah sekali.
Mbaknya, fighting!!!!!

Wah, jadi inget cerita teman ku lainnya yang juga dipertemukan oleh emperan ini, ceritanyaa....ehm...INI
----------------------

27.05.2013 22 :07

2 comments:

  1. Siph markusiph banget dek , memang kita harus senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang di berikan Allah kepada kita ,ALhamdulillah ,
    titip salam ya untuk mbaknya semisal ketemu lagi ma mbak tersebut, heheh =)

    ReplyDelete
    Replies
    1. oke mbaaak..iya superb sekali mbak chan yak..hihihihi...
      kayaknya bakal ketemu lagi nih mbaaak :D

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...