Saturday, 18 May 2013

[BeraniCerita #12] Gadis Bersepatu Butut




Dengan berbekal secangkir kopi hangat dan beberapa potong brownies, sambil duduk santai di sebuah sofa menghadap langsung ke kaca besar yang menembus ke jalan raya aku menghabiskan hampir setiap sore.

Kali ini hujan besar menggempur Ibu Kota. Sambil sesekali memandang keluar, tanganku lincah menari nari di atas tut huruf. Mataku terhenti. Berjalan seorang diri, seorang anak kecil dengan payung rombeng sambil memeluk erat buku buku yang beberapa sampulnya sudah terlepas. Celana kolor putih tulang, kaos oblong bergambar ultraman, serta sepatu butut berwarna merah dirasa sudah cukup menghangatkannya.

“Mbak, gadis itu siapa ya?”, penasaranku seketika memuncah.

“Nggak tahu Mbak, setiap sore dia tidak pernah absen lewat sini sambil membawa banyak buku seperti itu. Bajunya pun hanya itu itu saja. Anak pemulung kali Mbak, mau menjual hasil tangkapannya.”, jawab salah satu pelayan sambil sibuk mengelap meja sebelah.


Hari kedua, hari ketiga, setiap hari tak pernah absen dia meniti jalan yang sama.
Suatu kali, saat dia melewati cafe, entah karena semakin sadar kalau ada yang mengamatinya atau hanya kebetulan saja, dia menoleh ke arahku. Mata kami beradu.

“Hai!”, tiba tiba saja tanganku melambai padanya.

“Sini duduk dulu, mau kemana?”, ucapku setelah dia mendekat. Aku ingin menuntaskan rasa keingintahuanku.

“Mau ke kampung yang ada di gang situ mbak.”, ucapnya polos. Rambutnya yang dibiarkan panjang tergerai seakan membingkai wajahnya yang tirus. Kelas 2 SD, seharusnya.

“Iya mbak, mau belajar sama bu guru gratis di situ.” Dia menunjuk ke gang di seberang jalan. Setelah mengucap salam, dia lari terburu buru. Bahkan aku bisa melihat kulit kakinya di antara lubang sepatu bututnya.

Dua hari kemudian...

Kali ini aku tidak hanya mententeng laptop dan tas saja. Tangan kananku dengan lincahnya mengayun ayunkan plastik besar dengan kardus segiempat di dalamnya.

“Pasti dia akan senang. Pasti.” Mukaku berbinar membayangkan wajah tirus itu akan tersenyum lebar begitu membuka isi kardus ini.

Sejam, dua jam, tiga jam. Gadis itu tak juga terlihat. Semakin tak sabar, aku bergegas keluar dan melongok ke jalan. Magrib berdentang dan dia tak juga datang.

“Ah, besok masih ada waktu.”Aku akhirnya bergegas pulang.
------
Samar samar di kejauhan gadis itu berjalan sendirian. Kali ini tanpa membawa buku.

“Dek, syukurlah kita ketemu di sini. Aku punya hadiah buat anak rajin belajar kayak kamu.” Seketika aku mengeluarkan isi plastik itu. Sepatu merah mengkilat yang masih berlabel.

“Makasih Kak”, suaranya terlihat sedikit parau, mungkin karena terlalu sering kehujanan. Dia langsung memakainya, dan pamit kepadaku.

“Hati hati yaaa..”. Kami saling melambaikan tangan. Gadis itu terlihat semakin tirus.

--------
“Kok belum pulang Mbak, nunggu siapa?”, tegur pelayan cafe. Maghrib sudah beranjak dan aku masih setia dengan kopiku.

“Adik berambut panjang itu kok hari ini nggak berangkat ya Mbak?”

Mbaknya nggak tahu, kemarin magrib ditemukan anak mengambang di sungai perpanjangan dari sungai ujung jalan itu. Katanya kemarin siang waktu hujan lebat, saat dia berjalan di tepi jalan, tepat di jembatan itu, ada truk nyalip, terus dia tertabrak dan kecebur sungai yang deras di bawahnya.”

Deg! Ini pasti mimpi. Lalu, yang aku temui setelah magrib kemarin?

 Words : 493







18 comments:

  1. Hah? ini serius...gue sampe ngucap lo pas baca pelayannya bilang ada yang tenggelam...

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini hanya flash fiction kok :3

      Delete
    2. Oh, syukurlah...saya kira nyata...

      ampe ngelewes ke hati.

      Delete
    3. nggak, aku juga ngelewes banget sampe hati kalau ini kenyataan..tapi ngelewes itu apa ya?

      Delete
  2. Bagus sih flash fictionna.. Good luck buat challenge nya y..

    ReplyDelete
  3. Bagus! Tapi miris banget itu endingnya... :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe, iya, kalau flash aku suka yang shocking :D

      Delete
  4. Cara bertuturnya bagus. Chayo! ^^

    ReplyDelete
  5. Mistis! Dan cerita yg ngalir dg eksotis! ;-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, kayak yang nulis.. *dilemparsepatubutut

      Delete
  6. jadi sepatunya dipake sama hantu dong? :)

    ReplyDelete
  7. hahha,,loh kok ceritanya gini,,haha,,tapi bagus ini

    ReplyDelete