Monday, 6 May 2013

Ayo Layangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan!!


“Tarik tarik....”, ucap seorang anak laki laki seakan memberi komando ke anak laki laki lainnya yang sedang menarik ulur –hatiwanita- benang berujung layang layang, melayang layang, berkelok kelok lincah di langit.

“Saiki sendal! Disendal cepet!!”, seorangnya lagi seakan tidak mau kalah. Dia bilang tarik saja secara tiba tiba.

“Yah, pedooot...mau kurang kuat sing nyendal ok yo dadi kalah...”, Dan pada akhirnya bercelotehlah lagi anak laki laki lain mencerca kekalahan si anak yang terlihat sedikit kecewa. Layang layangnya temangsang, putus –cinta-.

Seperti biasa gue sehabis ngelesin jalan sekitar 100 meter dari gapura tempat dimana gue turun dari angkot. Siang sampai sore hari, anak anak di sekitar daerah suka bermain layang layang. Gue tengok ke atas, 3 sampai 4 layang layang saling beradu di udara.

Pemandangan itu langsung melemparkan ingatan gue ke sekitar 9-10 tahun yang lalu. Sewaktu gue masih duduk unyuk di bangku dengan seragam merah putih.


Kalau anak perempuan seusia itu lagi suka sukanya mainan barbie. Barbienya dimandiin, dikasih lipstik, digendong gendong, terus dikasih baju renda renda warna pink. Atau, mainan boneka serupa teddy bear, atau yang gede gede, juga warna pink. Kalau yang cowok ya dulu musimnya main tamia gitu sama beli lintasannya sekalian nanti saling diadu yang paing cepat punya siapa. Atau mainan kasti, sepak bola, daaaaaaaan layang layangan.

Kalau gue? Layang layangan. Bersama dengan teman teman gue cewek dan juga cowok, kita beli layang layang, lalu dirangkai dengan benang sambil nyanyi,

Kuambil buluh sebatang
Kupotong sama panjang
Kuraut dan kutimbang dengan benang
Kujadikan layang-layang

[ *from http://www.index-of-mp3s.com/lyric/lagu-anak-indonesia/layang-layang.html ]
Bermain berlari
Bermain layang-layang
Berlari kubawa ke tanah lapang
Hatiku riang dan senang


Ada yang polos, ada yang gambarnya ultraman. Macam macam. Serempak kita menuju ke tanah lapang persis di sebelah Mesjid Isdiman berhadapan dengan bukit dengan lengkungan serupa lembah kecil berupa sawah sawah berterasering sedemikian rupa tepat diantaranya. Lapangan yang sekarang sudah beralih bentuk dan fungsi menjadi Ambarawa Rest Area. Kalau kalian sering melintasi jalan Ambarawa-Jogja pastilah tahu tempat itu. Di sana dulu gue menyebarkan serpihan kenangan, bermain layang layang.

Gua tarik ulur tu –hatilelaki- benang layang layang. Teman gue dengan semangat memegangkan layang layang buat gue. Itu khan sebelum terbang harus ada yang megangin dengan jarak beberapa meter dari si pemegang kaleng susu dengan banyak lilitan benang. Di ujung sana, teman gue akan berteriak beradu keras dengan deru kendaraan yang hilir mudik melintas jalan persis di samping lapangan.

“Ke, siaaaaaaaaaaap???”

Gue berkonsentrasi penuh. Tangan kiri memegang kaleng susu bendera dengan segenap jiwa, dan tangan kanan memegang pangkal benang siap untuk meluncurkan layang layang ke udara.

“Siaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaap!!!”, teriak gue tak kalah keras..

Dan langsung dia mengangkat tinggi tinggi layang layang gue, dia hadapkan sedemikian rupa ke angin pembawa layang layang, dan....

Layang layang gue terombang ambing sebentar, lalu saat akan naik ke atas, layang layang gue oleng.

“Wah, keadaan kritis!!” pikir gue..

Gue tarik lalu ulur...tarik lagi..lalu ulur...keringat gue sebiji jagung menetes melintasi dahi, pelipis, pelupuk mata, pipi, berhamburan. Gue fokus sefokus fokusnya.

“Anak laki laki aja bisa gua juga harus bisaaaahhh. Bisya bisya!!” gue mencoba memotivasi diri gue sendiri.

“Ayo!! Ayo!! Ayooo!!” temen cewek gue yang lain bertugas sebagai cheerleader dadakan. Sebentar lagi mereka akan membentuk piramid.

Gue tarik dan ulur sampai –hatinyatertatihtatih- titik darah penghabisan.

Layang layang mulai stabil, lalu gue mulai lengah..

Layang layang gue njebur sawah. Katam. Gue beli lagi.

Lain hari gue berganti tugas. Gue karena selama beberapa kali percobaan selalu gagal dan menyebabkan uang saku gue yang menjadi di ambang kehancuran, gue akhirnya berganti haluan menjadi pemegang layang layang sambil belajar tehnik menerbangkan –harapankosong- benda berbentuk 2 segitiga saling berbagi sisi dasar itu.

“Ke, kurang adoooohh”, temen gue memekik, kurang jauh katanya.

Gue tergopoh gopoh mundur beberapa langkah.

“Semene??”, gue bertanya apakah jaraknya sudah cukup atau belum.

Iyo. Sing duwuuuur!!!”, serta merta dengan sepenuh tenaga gue ‘njinjit’ dan menaikkan layang layang dengan lengan gue yang kurus kayak korek api tanpa pentul.

“Saiki!!”, gue melepas sosoknya layang layang itu pergi, biar saja dia terbang bebas, terbang tinggi tak terperi. Gapai semua cita citamu. *salahfokus

Bermain layang layang sambil merasakan semilir angin berhembus. Memandang batang padi saling berayun seirama deru angin. Saling menertawakan tiap kali layang layang temen gue jatuh di sawah dan tidak bisa diselamatkan, atau terkadang ‘temangsang’ di pohon dan tidak berani memanjat. Coba dulu gue udah punya kamera ya...

Temen gue waktu itu masih kecil kecil. Masih polos, masih belum terkontaminasi bobroknya dunia.  Masa dimana tiap harinya Cuma kepikiran dua perkara.

“Besok ada PR apa?”

Dan

“Sepulang sekolah mau mainan apa??”

Dulu kita mainan bukan mainan indoor yang membuat anak anak menjadi autis seperti jaman sekarang. 

Mainan kita jaman dulu bisa membantu kita bersosialisasi dan menikmati masa kecil bersama teman teman.
Gue mainan ‘betengan’ dengan misi utama merebut benteng pertahanan lawan dengan menyelip dan bersembunyi, juga melepaskan tawanan yang dipenjara kubu lawan. Sistemnya pun sampai sekarang gue masih ingat. Nanti kapan kapan gue jelasin.

Lalu, ada strengan atau lompat tali dengan berbagai variasi. Ada juga lompat kilan memakai lengan dengan tangan dibuka selebar lebarnya saling bersusunan. Lalu, ada sundamanda dengan 2 variasi juga, yaitu sundamanda bentuk salib dan sundamanda payung. Itu lho yang pake ‘gacuk’ terbuat dari serpihan –hati- genting bata sambil lompat lompat melewati kotakan bersusun digambar di atas tanah dengan kapur tulis ambil sekolahan. Ada juga bekelan yang menggunakan bola karet dan beberapa bekel. Dulu gue paling suka setinan, itu lho pake setin dengan ‘gacuk’nya biasanya setin warna putih susu satunya seratus perak. Ada juga kasti dengan piranti milik Erwin, salah satu teman SD gue. Kalau bosen, bisa juga main tong mok. Bermodalkan lagi lagi kaleng susu bendera dengan batu. Batu dilempar dari kaleng susu sebagai garis startnya dan pada akhirnya yang kalah harus mencari orang orang yang bersembunyi, sejenis hide-and-seek.

Kalau itu juga sudah bosan bisa main...ah, gue lupa namanya. Ada papan gitu yang berbentuk segiempat dengan keempat ujungnya dilubangi. Lalu, ada seperti lingkaran lingkaran pipih. Sistem kerjanya sama dengan kalau kita main billiard, tetapi nggak pake stick, pake jari dengan sistem ‘menyentlik’. Duh, bahasa Indonesianya menyentlik apa ya aduh. Yang kalah, wajahnya dicoreng pakai kapur ambil dari sekolahan atau bedak tabur Mars yang putih. Terakhir ada juga mainan Teletubbies. Ini gagasan brilian dari Erwin. Kita akan menjadi Tinky Winky, Dipsy, Lala, dan Poo. Lalu joget joget membentuk lingkaran dengan berkacak pinggang dan bergoyang goyang meniru Teletubbis yang pada akhirnya saling berpelukan sama lihat video dari matahari apa ya? Duh, ingatanku...

Bandingkan dengan sekarang???

“Anj*ng!! Duh, aku kalah, matiiiii!!” sambil memencet mencet keyboard komputer di warnet dengan binal.

“Assssss***, aku yo iyooo!! Logo* tenan kiiiiii!!!!” umpat anak yang lain dengan tatapan penuh ambisi.

“Diajar we saiki diajarrrrrr!!!! Waseeeeeeem!!! Bali ning markas bali ning markas!!!” Anak anak menjadi beringas dan tak terselamatkan dari penggempuran akhlak *ciebawabawakhlak

Dulu teman gue yang cowok nggak pernah sumpah serampah. Saat lompat tali lalu kalah, kita saling menertawakan, bahagia sekali. Kita juga main masak masakan, bisa masak nasi goreng lalu makan sepiring untuk bersama. Asem?? As*? Kucing? Sapi? Kadal? Tak pernah meluncur dari mulut kita. Dek Ina, Mbak Isa, Erwin, Joko, Fita, Wida, Elfi, Andang, Oki, Topan, tak pernah berkata seperti itu.

Dan sungguh, gue rindu serindu rindunya dengan masa dulu. Saat game center online belum ada, saat mainan traditional masih bertahta. Bermain sama saja menjalin kebersamaan. Dan sekarang bermain sama saja menyendiri dan menepi dari dunia luar.

Well, everything changes, but sometimes, those kind of changes ended up with damage. Dan ini setara dengan kerusakan generasi.

Sangat disayangkan. *nangisdipojokan *pinginjadidutamainantradisional

19 comments:

  1. one thing from your post tonight is you are a great writer dek :)

    you can sell it to the publisher, I think ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaaaah, thank you sooo much mbak!!heehehe..
      I want to try it! tapi kalo publisher gitu kira kira dimana ya mbak...

      Delete
  2. Azzzz... layangan..
    gue suka banget tu maininya..

    kog bahasa jawa ya.. emang mbak org mana...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang bisa? hahaha...

      iya, aku khan orang Semarang...tepatnya di Ambarawa :D

      Delete
  3. dari dulu sampe sekarang gue gk bisa nerbangin layangan :D hehehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya secara Riza tinggal di Jekardah..nggak ada tanah lapang adanya mall khan??? heheehhe

      Delete
  4. Wahhh gue kangen masa masa main layangan :')) Nice postt :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah gue salah akun :s
      Numpang nyimak sekalian BW :3

      Delete
  5. layangan ini yang bikin jarang pulang :P

    ReplyDelete
  6. Eh..gue suka banget loh jalan ceritanya. Penempatan diksinya juga keren.

    Mainan dulu emang bagus,tapi kita lahir dijaman yang berbeda. Gak keren kan kalo kita mainin mainan yg dulu dijaman yg semodern ini? Bisa2 kita menyandang status ketinggalan jaman.

    Ini rada lebay deh "Gue tarik dan ulur sampai –hatinyatertatihtatih- titik darah penghabisan"

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah makasih yaaa...hehehe.. akhirnya usaha ku merangkai kata tidak sia siaaa..

      iya bener banget sih, iya makanya itu sekarang udah tergeser dengan budaya yang western-like jadinya ya begini deh...hmm...

      yah, itu sih bukannya rada lebay, tapi emang lebay banget. kan 80% isi dari cerita ini lebay maksimal...hehehe

      Delete
  7. Layangan. Ingat waktu kecil suka main layangan, dan dimarahin yang punya sawah karena tanamannya sengaja keinjek:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. weeeh..la cc nya sama mblecok mblcok sih...akalau aku di lapangannya..jadi bisa lari ke sana dan kesini, mobat mabit kayak gasingan..haha

      Delete
  8. widih.. kata-katanya simple tapi menohok banget.
    "Dulu kita mainan bukan mainan indoor yang membuat anak anak menjadi autis seperti jaman sekarang." setuju banget sama yng ini. Keren

    ReplyDelete
  9. Menarik, Meyke!
    Permainan jaman dulu tuh menumbuhkan jiwa sosial kita, permainan sekarang bikin anak-anak jadi individualis dan antisosial.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Mbak, benar sekali...sangat disayangkan ya mbak....

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...