Wednesday, 24 April 2013

Jika Aku Menjadi FIKSI


Perlahan lahan ku bangun jika, untuk aku, dan juga kamu.

Sekeping demi sekeping ku kumpulkan jika

Sedetik demi sedetik, detik menjadi menit, menit menjadi jam, jam menjadi hari, hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan, bulan menjadi tahun. Bertahun tahun.

Aku kumpulkan jika sedikit demi sedikit, sesuap demi sesuap.

Aku isi serpihan jika di antara kita. Sedikit, sedikit, sedikit...

Menjadi bukit.

Jika ku melampaui batas, menerobos waktu yang masih berkabut di depan mata. Bukan, itu bukan di depan mata, jauh di sana, berkilo kilo meter jaraknya. Jika yang menggiring hatiku semakin memasuki mu. Jika yang berpendar pendar tak terperi. Jika ku yang....

Plak!! Kenyataan menampar keras mukaku. Memerah, berdarah darah.

Plak Plak Plak!!! Jika menghabisiku. Benar benar habis. Bukan lagi hingga tetes terakhir. Se molekul pun tak ada. Aku habis. Miris.

Jikaku menyeret ku mendekati tepian, lalu tanpa belas kasihan mendorongku sekonyong konyongnya. Terpelanting, batu batu kenyataan membenturku, bertubi tubi. Sakitnya, merajam rajam. Ngilu, ngilu menembus sampai batas tulang rusuk. Busuk!

Dan mulai detik itu, aku bersumpah akan menghabisi segala jika. Persetan dengan jika.

Demi Tuhan, segala jika yang mendera dera, yang pernah menggebu gebu, menggema gema di setiap sudutku, demi Tuhan, akan aku habisi hingga potongan terakhir.

Sejak hari itu, setiap hari aku menggiling jika yang sempat membawaku terbang, terbang jauh, dan lain hari, mendorongku jatuh. Berserakan, tercecer cecer. Habis!!!!

Aku kubur segala jika, karena jika ku padamu membinasakan ku sedikit demi sedikit. Dan aku tidak akan binasa hanya karena kumpulan jika. Aku kubur segala jika, karena sejak hari itu, jika telah mati. Mati mutlak, mati di tempat. Dan selamanya tak akan mampu bernafas. Kau rebut oksigen ku, kau cacah cacah, bahkan itu bukan lagi mutilasi. Karena kenyataannya, yang aku punya bukan lagi serpihan, apalagi potongan. Yang kau tinggalkan, serbuk! Bahkan setiap sel nya sudah tidak dapat dibagi lagi menjadi dua.

Jika itu serupa garam beryodium, dioleskan tanpa ampun di luka yang menganga. Perih!

Jika itu seumpama empedu bertemu lidah, pahit!

Jika itu bak air laut memuncah muncah berjalan ke daratan, memporak porandakan!

Jika itu pisau di dalam daging, mengoyang ngoyak!

Sakit!!

Kau tak pernah tahu bagaimana aku melewati hariku, mencoba membungkam hati yang tercabik cabik, membungkusnya dengan koran bekas berlapis lapis, menutupi wajahku dan melapisinya setebal 10 sentimeter, hingga orang orang tak bisa lagi melongok sampai batas ceceran.

Bila jika itu adalah hotel J.W Mariot, aku akan berpikiran sama dengan pemuda itu, aku hancurkan hingga tak ada lagi yang tersisa. Aku bom!! Duarrrr!!

Semua binasa.

Santai saja, aku selalu berusaha setiap waktu, setiap detik, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, akan aku habisi semua jika yang masih melekat. Karena bila tidak, fitrah cinta bukan lagi saling membahagiakan, tetapi saling membinasakan. Fitrah cinta?? Apa apaan. Itu sudah aku bunuh.

Sudah aku bunuh? Apa apaan?? Memangnya siapa aku? Hati bukan vcd atau pun dvd player.

Dan cinta pun bukan untuk di-play.

Peduli setan dengan tulang rusuk dan seperangkat radar neptunus. Peduli setan dengan cinta bertahtakan jika. Karena yang tersisa hanya ngilu yang merayap membelah belah, karena yang ada sakit yang mendera dera, karena yang ada isakan yang menggema gema.

Dan bila hatiku tak bisa berhenti melafazhkan jika, awas saja.

Akan aku terobos segalanya, segala darah dan nanah. Cinta itu buka drama Korea, menye menye!

Cinta itu bukan sinetron Indosiar, tak masuk akal! 

Dan cinta itu bukan aku dan kamu, karena Tuhan tidak mempertemukan jika ku dan jika mu di halaman yang sama.

Ini benar benar lucu. Karena semua ini fiksi semata. Jika aku menjadi tulang rusukmu itu adalah fiksi. Jika aku menjadi tujuan radar neptunusmu itu pun hanya sebatas fiksi. Mengapa begitu?

Karena aku dan kamu tidak akan bertemu lagi di debaran yang serupa, di tepian hati yang setara, di gelombang radar yang bisa saling menemukan.

Mengapa jika ini adalah fiksi? Karena ini tidak pernah terjadi, karena ini hanya mimpi, dan karena ini sudah mati.

*cerita ini semata mata saya buat untuk mengikuti Best Article Blogger Energy.

24.04.2013
20:15   

12 comments:

  1. Oke, sukses utk Blogger energynya ya...
    keren-keren!

    ReplyDelete
  2. jika ini pantas menangin best article be, aku ikhlas kok

    *keliatan males baca* wkwkw

    ReplyDelete
  3. beh... keren-keren diksinya nih, banyak hal yang bisa kebuka cuma gara-gara jika.

    emang jika itu adalah fiksi semata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe, makasih Bay... it is encouraging :D

      Delete
  4. Kak diksinya keren. Tulisannya keren. Imajinasinya keren. Ah dari awal sampe akhir gak bosen baca nya. Jika saja semua pada porosnya. Berjalan pada tugasnya masing-masing. Lalu suatu hari nanti, jika takdir nya ada aku. Jika itu akan melebur menjadi kita. Kita yang melebur lalu terpencar-pencar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih Bocil! hehehehe..aduuh, kalau udah melebur jangan terpencar pencar pliss, sakiiiit..hehehehe..

      good writing, :)

      Delete
  5. Bagus nih.. kayak Novel 5 Centimeter aja..

    Sukses ya mbak, buat Best artikelnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, emang novel 5 centimeter gimana?? jadi penasaran @.@

      iya, makasiiih..hehe

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...