Thursday, 28 March 2013

Jawaban Tentang Pertanyaan Bagaimana




Bila ditanya tentang bagaimana perasaanmu, bagaimana rasanya, dan apakah sakit atau tidak, maka aku akan bingung menjawabnya. Bila ditanya tentang cara melepaskan dan cara untuk bisa lagi menjalani hari tanpa perih, aku juga bingung. Karena aku tidak menggunakan cara apapun.

Saat itu, walau pun luluh lantah toh setiap pagi aku masih bisa bangun, lalu menjalani hariku. Saat itu, walau pun melebur seumpama debu, toh aku masih bisa bercanda dengan teman dan sahabat yang selalu ada untukku kapan pun aku meminta mereka.

Dan bila orang orang yang selalu tanya tentang bagaimana, aku tidak pernah mencoba untuk mencari tahu bagaimana. Karena itu terjadi begitu saja. Lalu, tentang bagaimana bisa berteman dengannya, dan saat aku berkata bahwa kami baik baik saja seumpama teman, mereka akan tercengang dan bahkan mereka menganggap kata kataku hanya hiburan semata atau pun mengandung makna paradoks.

“Ih plis, aku yang 2,5 tahun saja nggak bisa boro boro berteman, berkomunikasi saja nggak.”
“Hah? Kok bisa sih? Gimana caranya?”



Bagiku semuanya butuh proses. Aku pun toh tidak langsung bisa membuka diriku dan mulai menjalin sesuatu yang lain dari sebelumnya. Dan memang agaknya sangat amat lucu bisa berteman dengan orang yang mengisi hati kita selama kurun waktu seperempat masa hidup kita, dan yang kita cintai dengan begitu hebatnya, dulu. Mungkin bila tidak aku hapus, masih ada jejak di sini tentang bagaimana emosi menguasaiku, perih menjalar menyerabut seujur badan, sakit merongrong hati pagi, siang, dan malam. Lalu aku bersumpah mati matian bahwa seujung jari pun, seujung helai rambut tertipis yang aku punya sekali pun bahwa sepanjang hayat masih di kandung badan aku tidak akan mengharapkannya menggenggam hatiku, lagi. Dan aku berharap sepanjang waktu, sepanjang aku melangkahkan kaki menelusuri kampus, bahwa aku tidak akan pernah lagi bertemu dengannya, menatap matanya yang dulu lekat lekat sering aku tatap, menatapnya, ah, sama sekali aku tidak ingin.

Apa?? Berteman?? Rasanya, membayangkan pun aku tidak sanggup. Itu bukan karena aku benci. Sama sekali bukan, itu karena semata mata aku ingin melindungi hatiku dari kehancuran yang lebih brutal, dari ledakan yang lebih membinasakan. Karena waktu itu aku masih di tengah tengah hiruk pikuk kehidupan kuliah yang memeras otak. Dan bila hatiku juga terperas peras, maka akibatnya bisa terlalu eksplosif.
Lalu, entah apa yang datang padaku, aku berpikir tentang manisnya bertahun tahun itu. Tentang dia yang memang menginginkan pergi, tetapi aku percaya dia tidak bermaksut menghujamkan rasa sakit yang menikam nikam hingga ke ulu hati. Tidak.

Aku percaya satu hal waktu itu, bahwa memang tidak ada yang kebetulan. Dan bila memang ini adalah akhir, maka mari kita akhiri dengan indah. Indah?? Oke ini sarkastik. Tidak ada akhiran yang berujung pada peleburan hati memiliki sifat keindahan. Kehancuran sudah pasti. Dan segala hal yang hancur itu tidak indah sama sekali.

Namun, aku percaya, kapal kita memang sudah sangat retak, perjalanan itu terasa sangat melelahkan. Aku ingin mengikuti arus menuju ke pulau itu, dan dia ingin ke pulau yang berseberangan. Dalam serangan waktu kita terombang ambing bersama.

Lalu tibalah suatu masa kita harus menahkodai kapal yang berbeda. Kalau aku bilang aku baik baik saja, maka itu sarkastik total, itu paradoks mutlak, dan majas ironi dalam kadar penuh. Ada saat dimana aku apa apa. Aku terjatuh, tapi bisa bangkit lagi. Aku tersesat dan akhirnya aku tahu arah jalan pulang.

Dan bila aku telusuri ke belakang bersamanya, aku tidak ingin bermusuhan dengan masa lalu, dan terlebih lagi aku tidak ingin bermusuhan atau pun membenci orang yang dulu aku kasihi setengah mati, sepenuh hati, selama bertahun tahun tak terperi. Dan aku hanya ingin bisa dewasa. Dan aku hanya ingin berdamai dengan masa lalu, segala bentuk masa lalu. Dengannya. Aku tidak bisa membayangkan, selama bertahun tahun itu kita berbagi setiap hari lalu menghilang tanpa jejak begitu saja. Itu terlalu keji. Dan cinta tak sekeji itu. Dan bukan, ini bukan mengenai cinta, karena bicara cinta sekarang tidak ada gunanya sama sekali.

Berdamai dengan masa lalu sungguh menenangkan, menentramkanku, dan hatiku ringan tak terperi.

Aku selalu berharap yang terbaik untuknya, meraih bintang bintang yang berkerlip di mimpinya sepanjang malam, meraih pelangi yang bisa mewarnainya, karena ternyata dulu aku tidak cukup bisa memberi warna untuknya.

Ah, sok tegar banget...sok kuat. Sok malaikat. Siapa? Aku?

Salah. Itu salah satu metodeku untuk bisa melangkah keluar dari pusaran beban yang aku buat sendiri. Aku tidak ingin terbelunggu selamanya dalam rasa sakit yang merajam hati. Dan karena dia baik sekali, dia menerima uluran tanganku.

Dan di sini aku sekarang. Bahkan, aku sempat akan mengaitkan hati pada dermaga yang baru. Hanya saja kait itu tidak terlalu kuat dan kembali, aku melaut lagi.

Dan tidak apa apa. Terkadang hidup itu tidak menyodorkan pilihan, tapi keputusan. Dan bagiku, yang terpenting bukan keadaan yang terjadi, karena toh itu di luar kuasaku. Yang terpenting reaksiku terhadapnya. Aku hanya ingin bisa meninggalkan memory yang indah tanpa merusak muara akhirnya. Di mana pun muaranya, itu toh sudah terjadi.

Dan sekarang, aku mencoba berdamai dengan hati tanpa syarat. Walau pun memang dasarnya hati tidak bisa diatasi terkadang. Dan bila memang ada saatnya rindu menggelitik, maka rasakan saja. Keesokan harinya, stabil lagi. Dan bila memang rasa terkadang mencoba menjalar, tidak perlu menghindar, toh nanti tertebas akal sehat lagi. Maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hatiku walau terkadang menyusahkan karena susah diatur, tetapi dia akan kembali lagi mengikuti alur pikiran yang jernih, yang berpikir dengan berasaskan cara kerja otak, bukan emosi sesaat.

Sungguh, ini tidak mengandung kontradiksi, tidak menulis dengan hati yang terbalik dan membalik balikkan fakta. Karena I mean what I write, and here I write.

Sekian.

24.03.2013
18:26

19 comments:

  1. jujur, aku ngga dapet poin daru tulisan ini, pasalnya penulis masih menyembunyikan sesuatu dari apa yang ditulisnya, ditambah lagi rasanya tulisan ini mirip prosa semua,,, hahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku juga nggak dapat poin nulis ini semua *ehh *nggakding *bercanda
      Waduh, apa yang aku sedang semubunyikan ya Sabda Awal? hehehe...

      Delete
  2. Aku suka dengan bagian yang ini "Dan bila memang ini adalah akhir, maka mari kita akhiri dengan indah" kenapa yah kebanyakan pasangan apabila mengakhiri hubungannya harus di akhiri dengan pertengkaran yang panjang apalagi sampai bermusuhan terlalu lama -__-

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya mungkin kalau itu karena orang ketiga mungkin. misal cowoknya selingkuh, atau tiba2 udah punya pacar lagi, atau kekerasan dalam perpacaran. Mungkin...hehehe. aku juga nggak tau banyak soal itu. hehe

      Delete
  3. kalau aku ditanya dengan awalan kata " Bagaimana " aku tak akan menjawab, karena menjawab juga percuma, mereka tak tahu perasaan kita, sekarang & nanti.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe, karena aku pikir itu dijawab waktu mereka tanya, terlahirlah postingan ini setelah bertapa 7 hari 7 malam. ahahaha...

      iya sih, perasaan itu emang kita yang merasakan, ya sudah cabal eaa..hehehe

      Delete
  4. bagus bgt kakak tulisannya :')
    bukan sok tegar, tp memang tegar kok keliatanya :')
    keep smile :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasiiiih :D
      wah, aamiin...kamu juga ya, yang tegar!! Oke Kharisma?? hehehe

      YOu too, keep smiling! Life is long-way to go insyaAlloh...

      Delete
    2. sekarang jadi tau namaku -_-"

      yuhuuu \(^^)/

      Delete
    3. This comment has been removed by the author.

      Delete
    4. iyaaa..khan kamu juga ngeadd fb akuu..:*
      pokoknya semangat ya beb!!:D

      Delete
  5. saya gaka bingung mbak..tapi sangat menikmati kata-katanya
    sperti puisi

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih Moti si spesialis bikin postingan dengan kata2 berat tetapi menarik.. hehehe..:)

      Delete
  6. kunjungan perdana nih..
    saya lihat blognya menarik dan sering update, jika berkenan saya ingin mengajak agan untuk bertukar link atau saling ollow.

    ReplyDelete
  7. sarkastik total, paradoks mutlak, majas ironi, kontradiksi, bahasanya tinggi banget, butuh berulang kali baca dan nyari keterangan di google biar tau maksudnya -,,-

    ReplyDelete
    Replies
    1. ehehehe, nah khan jadi tambah ilmu khan..hehehehe. aku juga jadi merasa nggak sia sia jadi guru les bahasa Indonesia walo sebenarnya aku di fakultas bahasa inggris. jadi tau istilah itu karena hrus belajar lagi dan akhirnya bisa disisipin di tulisan seperti itu. semuanya worthwhile ternyata..gimana? setelah cari artinya masih nggak mudeng apa sudah dicerahkan?:D

      Delete
  8. Ini cerpen atau novel yak? Maaf saya bingung, yang penting bisa ninggalin jejak aja. heheheheh. Sukses selalu buat mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. bukan keduanyaaa. ini curhatan berdiksi prosa..hahaha..
      yak, meninggalkan jejak sukses, saatnya meninggalkan jejak ke blog kk.:D
      aamiin, makasiiih:D

      Delete
  9. hahahaha .. sep sep .. move on itu emang proses wkwkkwkwk

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...