Monday, 10 December 2012

Merdekah!



Oke, sebelum saya berlanjut menyiapkan materi bahasa Indonesia untuk anak anak les besok, saya mau nulis ini dulu. Penting banget ini, penting untuk keterusan kesehatan mental, hati, dan jiwa saya.

Semua ini berkat percakapan dengan Ellena tadi siang dan sekonyong konyongnya memercikkan seember air dingin ke muka saya, melepaskan rantai rantai pembelenggu saya, dan juga membukakan mata saya lebar lebar diteruskan diganjel sama batang korek api.

Percakapan via SMS itu besar maknanya untuk saya. Saya sekarang dan saya beberapa jam yang lalu beda. Sungguh beda. Jadi begini, saya berubah pikiran.

Saya akhir akhir ini mengalami sedikit peperangan batin otak melawan hati. Akhir akhir ini hati saya seperti dilalui badai disusul tsunami begitu. Rasanya seperti saat saya naik bis Sari, tiba tiba waktu sampai di jembatan Tuntang sana, jembatannya rubuh, lalu seketika saya terlempar di sungai Tuntang yang mengalir tenang itu. Saat saya mau keluar, ternyata sungainya berlumpur dan saya terlumat hidup hidup. Dan percakapan tadi siang menyeret saya ke pinggir sungai dan memberi saya nafas buatan #piyetopiye
Oke, intinya saya berubah pikiran. Saya tidak akan terus menerus memakai baju berwarna hitam sekujur tubuh dan memamerkan wajah saya yang dilipat jadi dua belas  sepanjang hari. Saya tidak akan menghindari kenyataan atau ingin cepet cepet minggat dari Salatiga yang memberi saya penghirupan hampir 7 tahun ini. Oh, tidak.

Saya akui, hati saya kalau pun bisa memekik, dari Ambarawa sini, pekikan saya bisa mencapai Salatiga menelusuri Ambarawa kota, terminal Bawen, Tuntang, Sejambu, dan Salatiga sana. Kalau hati saya bisa berdarah, darahnya bisa disumbangkan ke PMI. Kalau hati saya bisa terkeping, bisa dijadikan serbuk pupuk biar bunganya subur. Kalau hati saya meleleh, tidak bersisa, semua leleh. Dan semua itu karena apa?? Karena cinta. Ya, cinta.

Kalau untung, cinta itu bisa menguatkan, dan kalau memang lagi buntung cinta juga berkemampuan untuk memporak porandakan. 

Dan melemparkan saya pada kesimpulan bahwa, inilah hidup. Ada cinta, air mata, kesakitan, bahagia, putus asa, dan juga sense untuk bangkit di dalamnya. Tertendang cinta, dipeluk cinta, dan dibunuh cinta.
Sampai di sini saja galau saya. Percakapan bersama sahabat saya itu menampar pipi saya. Sejauh ini saya pikir saya sudah menghadapinya dengan sangat baik. Tetapi, lalu saya tersadar, masih ada yang lebih baik lagi. Dan akan saya lakukan.

Bila ditanya lagi, saya akan bilang saya tidak menyesal. Saya tidak menyesal akhir dari hampir 5 tahun ini seperti ini. Dan bila saya dikasih pilihan, tetap akan saya pilih jalan yang ini. Jalan tentang terjadinya _____. Bukan ______ juga sih..tapi kayak gitu juga termasuk sih..tapi ya apapun itu..sudah saya putuskan. Yang saya putuskan adalah ‘akan saya hadapi’

Di lain waktu bila bertemu lagi, akan saya sapa dengan riang hati. Dan saya akan berdoa agar kita bisa bertemu lagi, agar saya punya kesempatan untuk menyapa nya.
Di lubuk hati saya terdalam, saya yakin. Saya akan mendapatkan yang lebih baik dan baik lagi dari dia. Tapi, sebelumnya, saya ingin berada di masa saya tidak mencintai siapa siapa. Saya akan menyapu bersih dia dari hati saya. Supaya saat saya jatuh cinta lagi, saya akan mencintainya whole-heartedly !! bukan alih alih pelarian atau proses berlari atau alat moving on atau semacamnya.

Saya yakin akan tiba saatnya saya bisa mempraktekkan apa yang saya lihat di Drama Korea. Saya yakin sekali. Ini bukan suggestion yang beberapa hari kemudian akan saya klarifikasi semisal ‘no matter what things I do, I remember you still, in my heart’.

Saya adalah type yang semakin disakiti, semakin kuat keinginan untuk bangkit dan berdiri.
Dan saya hanya bisa menutup entry ini dengan mengatakan,

"Merdekahh!!!"
09/12/2012 20:50

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...