Tuesday, 28 August 2012

A Special Ied Mubarak Eve




Assalamualaikum, para Sohabat!! Akhwat dan ukhti semua muanyaaaa…J

Happy Ied Mubarak !!

Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin!!:D

I love being villager!!! Loh loh, apa apaan ini?

Yess! I love being a part of my village I’m staying now. I have experienced many things that the others haven’t, including Malam Takbiran!

Setiap tahunnya, selalu ada 2 jenis Takbiran di desaku. Pertama, takbir berjalan. Dan yang kedua, takbir keliling menggunakan sepeda motor.

Sayangnya, karena terbentur acara lain, tahun ini aku nggak ikut takbir berjalan. Takbir berjalan, seperti namanya, ya mengumandangkan takbir sambil berjalan mengelilingi desa. Karena desaku adalah desa yang tertata, berliuk liuk jalan beraspal membelah desaku, memisahkan rumah rumah di antaranya, dan tertata sedemikian rupa sehingga rumah rumah berjajar rapi di sepanjang jalan desa yang ada. Terbentang dari RT 01, paling mentok berbatasan dengan hutan pinus atau karet aku lupa, sampai RT 06 berupa rumah makan di sepanjang jalan raya utama, yang di dalamnya terdapat SD isdiman dan Masjid Isdiman kebanggaan. Berjajaranlah kami, anak anak, ibu ibu, bapak bapak, pemuda pemudi Indonesia seperti akyu, semua muanya…

Zzzzzrrrrrrrrrrrrrrrrrreeeeeeeeeeettttttttttttttt!

Melemparkan ingatanku ke beberapa tahun lalu, saat aku belum punya pacar dan masih ingusan belum pernah pake eye liner segala macam.

“Pak, gawekke oncor pak, do meh nggowo oncor ok pak..”

“Ra iso gawe to kok, kon gawekke pakde..”

Pakde datang, oncor terbawa anggun dengan badan tegap menjuntai, dan terlihat sembulan kain gombal di paling ujung, menyembul sangat indah dan siap untuk berkobar.

“Fit, aku yo duwe oncor lho Fit…engko sumet yaaa..”

“iyo, aku yo bar digawekke bapakku ki..apik to oncorku…”

“ih, apik ik…Fit, barise mbek aku ya Fit…”

………………………………

Dahulu acara semacam ini jauh lebih ramai. Dulu pemuda pemudi niat banget buat kayak dinasaurus besar dari rajutan rangka bamboo dan kertas semen. Atau dihiasilah jalan jalan dengan lampu bertitikan bamboo yang dibuat serupa ujung menara mesjid melengkung begitu. Indah sekali, atau setelah oncor, ada periode lampion, membeli dari seorang warga yang kreatif meraup rupiah dengan menggunakan kesempatan macam ini. Lampion merah terang seperti melayang layang di tengah kegelapan. Kami, tangan tangan kecil kami, dengan sangat berhati hati dan terkagum kagum, menjaga sedemikian rupa api di dalam kertas minyak warna merah yang digeyong geyong itu,membawanya memutari desa. Still, Takbir filling up the air…

And I have such a beautiful memory, beautiful childhood.

Apa kabar Fita? Anaknya unyu sekali. :D

Soal kekompakan, desaku tidak diragukan lagi, dari RT 1 sampai RT 6, semuanya tumpah ruah memenuhi jalanan, berjalan bersama menghabiskan malam takbiran. Soal keakraban? Tak perlulah ditanya. Ingin cari orang bernama Yem semisal yang mana adalah RT 1, dan kamu bertanya dengan bu Sodah RT 6, pasti oh pastilah Bu Sodah tahu banget mana Yem itu. That close.

Selesai takbiran jalan, now time to takbir keliling!!

Aku tidak pernah melewatkan takbir jenis ini juga. Rutenya tidak perlu jauh jauh. Mulai dari SD Isdiman, lalu menyusuri jalan Ambarawa yang eksotis, belok kanan meniti TambakBoyo, lalu terus merambah, sampai Lapangan Pangsar belok kiri, terus sampai tiba saatnya BanyuBiru menyapa, dan masuk melewati jalan Brongkol, dan finish sampai lagi di desa tercinta!!

Dan tahun ini, just guess with whom I was???

Pacar? No. Father? No. Friend? No. Acquainted? Of course no.

With my grandfather! He is just so ROCK!!!

Together with my younger sister and m grandfather, we joined takbir Keliling!

Mbah kakungku itu walau pun tubuh didera kerentaan, jiwa tetap masih muda. Bermodalkan motornya, kita meramaikan suasana Idul Fitri eve bersama.

Terhitung sekitar 7 mobil dan berpuluh puluh motor bak ular merambat padat mengitari rute tersebut. Di 2 mobil pertama bak kepala ular, mengumandangkan takbir dengan live alias siaran langsung bermodalkan sound system yag telah dibawa. Jalanan padat sekali, letupan kembang api menyisakan percikan api warna warni di udara. Setiap mesjid mengalunkan nafas yang sama, Takbir yang menggetarkan hati. Dan malam kemarin, itu milik kami, umat muslim di penjuru dunia.. J

Zzzzzzzrrrrrrrrrrrrrrrrreeeeeeeeeeeeeeeeeeeetttttttttttttttttttt

Terbang ke masa lalu, saat merah putih masih seragamku, saat motor belum sebooming ini alias masih agak langka, kami ikut takbir keliling pake apa????

“Ke, angko bareng awak dewe we, rasah melu bapak mbek ibukmu…iki jelas luweh seru…”

“Iyo mbak Is, aku melu kowe ya…”

“Ayo ayo ndang do munggah…”

“Ih mbak enak ning kene sepoi sepoi ya mbak..”

“kandani ok…”

“Fit, nak pas direm ojo mepet mepet aku, aku rasane meh kawur..”

Dan kendaraan jenis ini tak hanya satu, tapi dua sampai tiga sampai 4 berjajar jajar cantik sekali. Kepala kami menyembul nyembul, ujung jilbab kami terkiwir kiwir, pegangan kami sepanjang tepi bak, dan tak jarang masih berpasir sisa mengangkut kemarin pagi. Dan itu adalah moment moment indah yang pernah aku alami. Have you ever experienced it?? I’m not sure :p

Kami teriak teriak begitu sambil terus berpegangan, tiap direm, kami teriaak..badan kami seperti digelontorkan mundur, yang paling depan bombongan, yang paling belakang sengsara.

Ah, masa kecil yang sangat artistic..

Sekarang mana ada se hebring itu? Yang ada, anak SMP berboncengan sama pacarnya yang kadang juga masih tetanggaan..berpasang pasangan gitu lah.. yang cewek pegangannya kayak mau boncengan naik jet coaster, kenceng amiiit.. #gondok

“it was okay to be with my grandpa anyway, he is the oldest person who joined it. So cool..”

“Rapopo Meyk.. “

Dan memanglah dari masa ke masa itu tradisi memang sama, hanya cara melakukan pasti ada perbedaannya. Dan apapun perbedaannya, tinggal di desa ini memberikan kebahagian tersendiri. Kompak, seakan berkeluarga, ramah ramah, dan mempunyai sifat memiliki di para antaranya.

That’s all! Sepotong cerita di malam takbiran yang tak pernah sepi di desaku. Dan saking terencananya, pagi sebelum malam takbiran, pasti ada pengumuman berdengung melalui corong mesjid mengabarkan kepada para warga,

“Assalamualaikum…bapak ibu sekalian, mengkeh bakda Isya monggo kulo aturi nderek takbir berjalan dilanjutaken takbir keliling mbeto kendaraan…kulo aturi supados nderek sedoyo.. Wassalam…”

Kurang lebihnya..

Once again, Selamat Idul Fitri, semoga segala berkah bisa tercapai dan tergenggam, kemenangan di tangan!! Yeay!!!!!

:D

1 comment:

  1. Never save tiffany magic rings for chemically addressed omega replica, just like hardwood counter surfaces, simply because have toxins which may enhance tarnishing within your tiffany sterling silver. Alternative Gear this Keep Tarnish for >Sterling Magic JewelryChalk - An oldtime fix for keeping tarnish, just simply save chalk in the tiffany replica watches common box and also carrier but it is going to of course take up chemical like residues while in the surroundings. Anti-Tarnish Whitening strips – Bought in a great many destinations, all these whitening strips are frequently manufactured from non-toxic elements this take up tarnish resulting in realtors while in the surroundings. Anti-Tarnish cloths – Like rolex replica sale, all these cloths will be frequently chemically addressed and also saturated by using remnants with magic; either take up sulfur and various corrosive toxins while in the surroundings. Silica Totes – All those minimal totes you locate around treatment plastic bottles plus athletic shoe box rolex replica sale other areas. Really handy around reading and absorbing moisture content while in the surroundings, dispose of these folks in the Tiffany & Co rings bins instead of the litter; you'll end up keeping tarnish plus recycling where possible in addition. Just simply caution a person's special T&CO jewelries while using previously recommendations, you may surly extensive have fun with the fame plus brilliance tiffany magic rings get for yourself. Additional information pertaining to care sterling breitling replica sale rings might be available for all of our webpage.

    ReplyDelete