Monday, 23 July 2012

Marhaban Ya Ramadhan (Seribu Kisah Bulan Ramadhan)

Assalamualaikuuuum the world!! J

Akhirnya hari Ramadhan menjumpai lagi, berarti ini adalah hari Ramadhan ke 21 kalinya. Setiap kali mengingat kata Ramadhan, seperangkat kenangan langsung bermunculan. Setiap aktivitas yang hanya bisa dilakukan di saat Ramadhan juga melayang layang. Yang pertama soal ‘Kuliah Subuh’. Dulu sewaktu masih SD dan SMP, aku beserta teman teman serombongan tumpah ruah ke mesjid Tengah. Di desaku yang membentang dari RT 01 sampai RT 06, terdapatlah 1 mesjid besar bertuliskan Mesjid Isdiman yang berdiri cantik di pinggir jalan sebelah kanan bila melintas dari arah Ambarawa persis sebelum jalan meliuk liuk yang menghampiri Warung Eva di penghujungnya, yang di samping mesjid itu terpampang pemandangan menawan sebuah serupa bukit berterasering sawah hijau dan hutan di bawahnya sawah tampak berkawah kawah. Indah! Itu Mesjid yang dijadwalkan untuk sholat Ied, baik idul Fitri maupun Idul Adha. 1 Mesjid lagi di tengah desa bernama Baitul Mustaqim yang bercat hijau bertahta kuning yang meneduhkan. Itu dijadwalkan untuk kuliah subuh. Setiap pagi di Bulan Ramadhan kami tumpah ruah sholat Subuh berjamaah, walau semakin lama semakin sedikit saja. Tiga mushola lainnya dijadwalkan untuk Taraweh, Tadarus, dan Sholat wajib 5 Waktu yang tersebar di RT 01 sampai RT 04

Nah, dulu benar benar banyak yang kuliah subuh. Dulu, sewaktu Fita belum punya anak, Mbak Isa belum menikah, semua masih serupa gadis lugu tak tersentuh kontaminasi dunia. Hehehe..

Subuh subuh betul setelah Sahur aku nggak tidur lagi. Menunggu teman teman dan mbah putri untuk pergi kuliah subuh. Well, harus diakui salah satu alasan mengapa ramai adalah ada saja donator yang membagi bagikan entah Al-Qur’an, buku surat surat pendek dan Hadits, buku buku agama lainnya di kuliah Subuh itu. Kami, termasuk aku berlomba lomba untuk bisa menjawab pertanyaan dengan menuliskan di selembar kertas, lalu dioper ke depan dan dikocok, yang beruntung dan jawabannya benar, bisa langsung membawa pulang Al-Qur’an baru. Soalnya bervariasi dari soal Sebutkan Rukun islam, Rukun Iman, Istri Nabi Muhammad, kapan dan dimana Al-Qur’an diturunkan, dan sejenisnya.

Sewaktu SD, harapan terbesarku waktu itu adalah kuliah, maka aku rajin ikut kuliah Subuh. Karena itu bernama KULIAH Subuh. Itung itung latihan melakukan hal yang berbau kuliah..

Itu sewaktu pagi. Setelah siangnya tidur, kalau nggak kuat ya buka dulu waktu Bedug, sorenya ada lagi. Hal yang belum tentu wajar dilakukan di luar bulan Ramadhan. Tadarus. Beramai ramai dulu kita pergi ke mushola. Bermodalkan sebuah Al-Qur’an warna merah ukuran maksimal, dan juga sebuah speaker yang berujung toa mushola, aku beserta teman teman mengalunkan dengan indahnya ayat ayat suci milik Alloh. Baiklah, indah memang kalau pas giliran mereka. Jikalau giliranku tiba, suara ngebass parau pilu sedikit tersendat sendat memenuhi angkasa desa. Dulu Fita dan Mbak Isa dan Mbak Siti adalah idolaku. Mereka bertiga adalah jebolan Pesantren yang ditekuninya selama bertahun tahun, sedangkan aku tamatan Pesantren Kilat maksimal 3 hari di SD Isdiman dan SMP Negeri 2 Ambarawa. Jelas pembawaannya beda tak tertolak. Mereka bisa membaca sambil mengalunkannya sedemikian rupa, menghiasinya dengan lekukan lekukan nan indah, bisa berhenti di tempat yang semestinya dan kemudian mengulangi sekata sebelumnya tanpa mengubah artinya, mengenali setiap tanda kecil di ujung kalimat baik itu harus berhenti sejenak, harus terus saja, atau bisa kedua duanya alias optional. Mereka membaca Al-Qur’an laksana menyanyi. Dan aku?? Mbak Siti terus mengoreksi bacaanku karena yang harus dipanjangkan, aku pendekkan, yang harus dibaca samar aku jelaskan, yang seharusnya didengungkan aku lempar lemparkan.. aku frustasi, nafasku tersengal sengal, keringat dingin menganak sungai membuatku sumuk dan dahaga merambati kerongkonganku yang sedari sekitar 8 jam yang lalu belum dibasahi,mataku mendelik delik menatap nanar setiap huruf hijaiyah yang menari nari anggun di Al-Qur’an, mbak Siti tetap dalam konsentrasinya untuk terus mengoreksiku padal itu live-show dimana Bapak dan Ibu pasti sedang mendengarnya di ujung lemparan toa yang menggema seantero desa, tapi aku tetap mencoba…hehehehehe….

Itu sewaktu sore sambil ngabuburit begitu ceritanya..

Suara ngeng menggema menyelimuti desa, aku minum dan makan. Berbuka puasa. Istirahat barang sejenak, sholat Taraweh menanti….

Di desaku sholat Taraweh dilakukan sebanyak 23 rakaat beserta sholat Witir di penghujungnya. Dulu sewaktu SD atau SMP, aku jarang ikut full. Ikut hanya rakat rakaat di awalnya, sedangkan tengah ke akhir aku duduk duduk sambil mengobrol dengan teman teman.. maklum anak anak. Tapi sewaktu SMA, aku full karena sadar kalau sudah besar dan level spiritualnya aku rasa meningkat beberapa level, ibarat les Bahasa inggris sewaktu aku SD aku di tingkat beginner 1,2,3. Naik SMA aku memasuki tingkat Post-Elementary sudah katam kelas Conversation.

Kembali ke jaman SD, motivasi lainnya di Sholat Taraweh adalah biar dapet jaburan. Macam macam jajanan dari beberapa rumah yang memang sudah dijadwal dan diatur sedemikian rupa. Kalau beruntung bisa dapat Beng-beng, Top, ciki ciki 500 rupiah. Dan kalau sedang agak apes harus puas membawa pulang Krupuk rasa jengkol seratusan beserta onde onde tak jarang arem arem sebesar pisang Kepok.

Dan kami melewati hari per hari di Bulan Ramadhan dengan hati yang berbinar binar. Dulu banyak cerita tertumpah sewaktu aku adalah seorang anak kecil, masih lugu dan polos, bermain dan bermain bersama teman teman yang juga masih lajang semua.

Mengingat bulan Ramadhan tahun tahun terdahulu memberikan segudang cerita yang worth-remembering. Dan aku masih bisa mengikuti semua aktivitas itu sampai sekarang. Sholat Subuh masih eksis, Tadarus masih bertalu talu menghiasi langit sore di desaku karena dari 5 mesjid dan mushola semua membaca, pake toa. Taraweh tak berbeda pula.

Ramadhan menghadirkan segala kesenangan dan sumber rejeki berupa pahala, waktu tepat dimana dosa dosa diputihkan, hati dibersihkan, setan setan dipenjarakan, nafsu nafsu dikurung, segala hal baik dimuliakan, dan hal buruk dikungkung dalam dalam. Bulan penuh berkah, penuh pengampunan. Bulan dimana tidur pun dihitung sebagai ibadah. Betapa Alloh Maha Pemurah, Alloh Maha Segalanya.

Thus, happy fasting, happy Ramadhan!! In order to reach all happiness in our life.

Marhaban Ya Ramadhan!!:)

Wassalam J

Saturday, July 21st 2012, my blue room

No comments:

Post a Comment