Friday, 27 July 2012

Fiction : Menepuk Udara Kosong


Bermodalkan curhatan teman, saya membuat cerita fiksi ini. Mari dimulai.

…………………………………….

Tik…tok…tik…tok…

Jam berbahasa lirih, memutar waktu ke depan, bukan ke belakang. Hanya saja tak kenal kata tahun, hatiku masih saja tertinggal di masa itu. Mengingatnya membuatku sulit terlelap, terlebih mengingat detik ini pun usianya bergulir, 21. Angka 17 sudah terhempas, ingatanku satu satunya yang tertambat, tak mau move on.

Hanya aku dan dia, duduk di bangku beton abu abu berdebu. Es krim berbentuk contong masing masing tergenggam di tanganku, dan tangannya. Jangan Tanya aku kenapa kita bisa duduk di situ. Duduk bersamanya saja sudah membuat perutku terdesak seribu kupu kupu. Hatiku bergelombang seraya bergemuruh tak terperi. Memegang ujung rok sambil menahan desakan segala pertanyaan.

“mulai darimana..mulai darimana…” mengaung ngaung di telinga.

“kalau ternyata nggak gimana…kalau ternyata nggak gimana..” menggema seantero batin.

Sebut saja dia huruf A. itu bukan berarti namanya berawalan huruf A, atau pun mengandung inisial A di dalamnya. A itu sebelum B, sebelum C, sebelum D, sebelum E sampai tertahan di Z. namun, A tidak akan pernah ‘setelah’, A itu ‘sebelum’. Dan bagiku, dia huruf A, sebelum B, C, D menyentuh hati. Ya, tepat sekali, dia bagiku huruf A, maka sebut saja A.

“eng…piye ya meh ngomong?

“ngomong opo?” tanyanya santai sambil tetap asyik mencomot es krimnya. Dia melihatku dengan tatapan penuh, as he usually does. Usually? Owh, bukan, as he used to do. Right, used to do.

Karena frustasi aku kalap menghabiskan es krimku, desas desusnya es krim mengandung zat tertentu yang bisa meningkatkan hormone endorgen, pemicu rasa senang dan penghilang rasa galau (I wish).

“emang ra kroso ya?”

“Ono opo?gempa?” jujur saja aku ingin menjotosnya, menjotos hatinya biar sadar satu hal.

“perasaanku..”

“ono opo?” jotosku naik level jadi tendang dan balang sandal.

“Seneng kowe..”

Es krimnya ketelan.

“seneng opo?” wajahnya satu level lebih serius. Dan hatiku mengkerut. Nyaliku menciut.

“Kowe..” kataku lirih, antara ada dan tiada. Kalau boleh ubah aku jadi kapas sekarang juga, Kapas menggelantung di permadani biru. Awan, oke nggak nyambung.

Aku benamkan wajahku dalam dalam. Jika tadi hatiku bergemuruh, sekarang petir menyambar pertanda mau hujan, kemungkinan disusul badai bonus puting beliung.

Dead air…

Dead air…

Seakan suara masing masing tenggelam oleh pikiran masing masing, seakan suara tersapu angin..

“Nduk, ….”

“Oke, santai we men…aku kan gor crito..” aku kalut, aku benar benar tak punya mental untuk mendengarkan jawabannya. Tidak perlu dijawab, aku bisa merasakan matamu, geliat matamu saat berpacu dengan mataku. Matamu…datar tak berbinar. Dan bila kau bisa melihat ke dalam mataku, jauh melihat tepat di pupil ku, pupil ku membesar, melihatmu membuat pupilku membesar, melihatmu membuat telapak tanganku membuka tepat ke arahmu, melihatmu tanpa sadar aku mencondongkan badanku mendekatimu. Melihatmu, jantungku berpacu dan bertalu. Dan lihat lah mataku, membara bercahaya apapun itu seakan berteriak,

“I am falling in love with you..”

Samar samar otakku mengelak,

“And you have to fall out of love afterwards. Poor you.” Otak sialan.

“Nduk…” tatapannya nanar,

Wajahku gamang, hatiku memar..

“Aku ngerti dewe konconan sue..soko kelas siji..”

“Well, kalau pengetahuan ini penting bagimu, aku mulai menjatuhkan hatiku saat melihatmu pertama kali di lapangan upacara hari pertama masuk sekolah, sebelum kamu menjadi temanku. Waktu itu kamu berdiri di depanku baris kedua dari depan dan aku baris kelima. Kita terhalang dua barisan. Sesekali kamu menoleh ke kanan ke kiri, bergerak gerak di teriknya matahari. Kadang kamu mengangkat tanganmu, dan dengan tangan terbuka menghadap ke depan, kamu gerakkan telapakmu ke kenan dan ke kiri berkali kali sambil tersenyum. Dia tidak sedang berdiri di podium dan menyebarkan pesonanya. Jangan berangan yang bukan bukan. Dia ramah dan apa adanya. Dan lagi kalau ini penting bagimu untuk tahu, perasaanku menjalar begitu cepatnya saat kita sekelas. Melihatmu setiap hari dari pagi pagi sekali hingga menjelang sore. Berceloteh denganmu sambil tertawa. Setiap kamu tertawa, lesung pipimu menyungging. Dan setiap itu pula aku ingin terus melihat lesung pipimu. Bahkan lesung pipimu aku bawa sampai rumah, dalam angan. Aku peluk dalam tidurku. Oke, terdengar norak sekali, sedikit menjemukan. Tapi, kalau kamu mau tahu, tak peduli betapa norak dan menjemukannya itu, selama kamu mau sebentar saja bertandang di hatiku, dengan senang hati aku akan norak setiap hari. Kamu tahu, betapa jantungku serasa mau loncat saat aku berdiri di depan pintu dan entah demi apa kamu tiba tiba berdiri di belakangku, kita hanya beberapa inci saja jaraknya, tapi soal hati bermil mil tak terjamah. Hatimu tak terjamah olehku. Tak pernah, tak peduli seberasa besar gumpalan rasa di hatiku. Mau tahu lagi, aku selalu melonjak bahagia (dalam hati) setiap kali kamu menendang nendang bangkuku saat pelajaran. Kamu selalu duduk tepat di belakangku, dan terkadang membuat onar, membuat onar hatiku. Dan aku senang. Lebih dalam lagi rasa senangku saat kamu duduk di depanku, menatap wajahmu yang serius terhanyut dalam cerita komik kesukaanmu, dan sekarang aku pun menatap, eh salah, meratap. Ingat saat kamu sengaja berdiri tepat di depanku saat kita menonton bersama film Dealova adegan ………. mencium…… kamu membelakangiku sedemikian rupa hingga hanya punggungmu yang tersisa. Aku nggak bisa lihat filmnya, goblok! Dan itu tujuanmu membelakangiku. Lucu sekali. Dan kini, ini semua tidak lucu sama sekali.”

Dead air….

“ra perlu omong opo opo lah A..” ucapku memecah kesunyian..

Semua ‘jika kamu harus tahu’ tak pernah terlahir di dunia ini.

Kami terdiam. Semakin diam, semakin hatiku retak seperti tanah di musim kemarau atau masker yang sedang mengering di wajah yang terlalu banyak bergerak, lalu retaknya menjadi nyata, memisah misahkan yang tadinya utuh menjadi potongan potongan random, lalu potongan itu berkeping keping, dan kepingan itu terpecah pecah, hingga menjadi bagian yang tidak bisa dipotong potong lagi, sel. Seremuk itu.

“yawes ya, ning kelas sek ya, maacih lho eskrime. Sugeng ambal warso yaaaaaa” senyumku mengembang. Senyum getir, pilu, senyum khas patah hati.

Aku berlalu, dan seribu harapan menjejali hatiku.

“Ayo…ayo…ayo…” gumamku sambil mengambil langkah demi langkah.

“Heh nduk, kowe ki sak penakke we ngibrit wet mau aku urung omong opo opo. Dasar!” dia menyusulku dan menjitak kepalaku, pelan.

“Aku meh ngomong opo jal?”

Seandainya aku dulu sudah bisa bahasa Inggris, aku akan menjawab,

“Honestly, I have no idea”

Tapi aku menjawab,

“La mbuh..”

Dia kembali menjitak kepalaku.

“Iyoo…iyoooo….kowe khan nak seneng uwong ketok banget. Aku wes ngerti lah…jane aku meh omong, eh kedisikan…” lesung pipinya menyembul di antara pipinya. Dia cakep, matanya meneduhkan, hatinya menggetarkan….

……………………….

Angan angan itu terus berkecamuk di hatiku, segala harapan bergejolak tak karuan. Dan inilah hidup, yang kita harapkan tidak selamanya menjadi kenyataan, dan memanglah kenyataan tidak selalu terpampang seperti apa yang kita harapkan, no matter how we want it the most, like a hell. Life sucks, sometimes. Love sucks the most! Sh*t!

Aku terus menelusuri langkahku, dan panggilan itu tak pernah ada, jitakan itu tak pernah berbekas di kepalaku. Aku terus berjalan, berjalan bertahun tahun mengobati semua nyeri.. trying to move on by passing years afterwards. 21, here we are now.

Dan di tanggal ini di siang hari nanti, empat tahun lalu hatiku melebur. Jangan Tanya soal sekarang, empat tahun mana bisa menyatukan leburan itu. Itu bukan kepingan, tapi leburan. Ibarat kata, I fall into pieces, kalau aku, I fall into even more than pieces, much more than pieces.

Sekarang kamu sedang apa? Yang jelas tidak mungkin sedang memikirkan aku. Siapa aku? Ha ha ha…

Tik tok tik tok…

Dini hari dan kopiku masih setengah cangkir, jariku masih sibuk menari nari, otakku bernaluri untuk menulis ini. Dan kini, semua rasa tertanam di sini. Dan bisakah kau mengerti betapa dalam, betapa nyeri, betapa tertatih tatihnya aku? Tidaklah, tak perlu tahu..

Aku akan menghilang bersamaan desiran angin laut, aku menghilang bersamaan dengan punggungku yang menjauh darimu di kala itu. Aku akan menghilang darimu, dan sebaliknya..tidak mungkin kamu menghilang dari relungku…

Lima tahun ke depan? Let’s see..

5 comments:

  1. Whew! Some parts are like mine back then.. XD
    *mendadak galau*

    ReplyDelete
  2. melihatnya setiap pagi di kelas bikin seneng, ciiee elaahhh sumthin that I used to do :p hihihi

    good writing, meyk! :)

    ReplyDelete
  3. Ah, Yan..kamu sih mau baca ini mau partnya sama atau apapu itu ya tetap aja gala, emang dasarnya penggalauuu:p hihi

    ReplyDelete
  4. ehehehehe, iya sebegitu tertatih tatihnya ya, Ray..cinta cintaaa...haha

    Oke, maacih! You, too!! Keep on writing!! Yeah!

    ReplyDelete
  5. Yet another place that people mix up a good deal can be that they can chanel outlet that will fiscal experts are insurance plan providers as well as accountantsIn terminology involving passing conditions to become 'financial planner' at this time there isn't really very much which in turn should be accomplished over and above holding a signal way up that will affirms 'financial specialist. woul Some may add while on an chanel outlet soups involving words immediately after his or her labels, nevertheless CFP (small pertaining to accredited fiscal coordinator) is undoubtedly your important abilities. A new CFP reputation is crucial and is also your initial indicator that this man or woman for you to do organization using is usually seasoned your chanel outlet sector. Anyone who has your CFP reputation can be dedicated to having carrying on with education and learning along with integrity coaching. Your CFP abilities is an excellent indication which a probable boss may give audio fiscal guidance. With that being said, since you could have handed down your examination will not necessarily mean you've got your believability along with knowledge essential for every single buyer. Like with most important life style judgements, create louis vuitton replica you happen to be quite detailed with regards to selecting the most appropriate boss. Customarily, fiscal specialists gain his or her cash flow sometimes via commission rates as well as by simply asking for by the hour as well as level price ranges because of their know-how. Customarily a new louis vuitton replica can be paid for while a person tends to buy as well as carries investment as well as a few other form of expenditure.

    ReplyDelete