Wednesday, 27 June 2012

Rawa Pening With An Old Friend!




Akhirnya, setelah terbiasa dengan netbook yag entah demi apa tiba tiba separo dari layarnya memutih seperti kebijakan perpustakan kampusku awal tahun kemarin dan hingga aku beserta teman teman bersorak sorai bergembira tak perlu membayar denda, I’m back!:)

Dengan secangkir kopi yang asapnya menggulung gulung syahdu sekali, mendengarkan lagu bahasa Inggris yang 7 tahun yang lalu terpusingkan aku tak tau artinya apa, dan segenap jiwa dan cinta yang membumbung di dada, aku menulis entri kali ini. Nak tak pula ambil pusing akan dibaca atau hanya untuk sekelebat mata saja, bertahun tahun lagi kalau ini masih bertengger dan tak kena gusur Google, pasti akan aku baca lagi.

16 JUNI 2012. Itu tanggalnya. Pukul 7 dengan langkah cerah ceria menuruni jalan di tempat tinggalku, sampai pada depan Laris menyongsong teman lama kala SMP dulu. Sudah 7 tahun mungkin tak pernah dolan dan berkisah bersama (bahasaku….). dan nasib mempertemukan kita di gedung F genap dengan segala piranti hidup yang ada. Dan here we are, dandan cantik (at least, semoga…), dan menunggu angkot yang sepagi itu sudah menderu deru mengikis aspal jalanan kabupaten.

Kemana kita? Mudah saja, tak perlu menelan biaya besar demi air yang berjuntai juntai jumlahnya. Aku suka air terhampar, aku suka laut, aku suka danau, rawa, kolam renang, bak mandiku yang besar. Dan hari itu, kita akan ke hamparan air tenang, Rawa Pening Selalu Dikenang. Kisahku yang lama tentang Rawa Pening ada di sini

Setelah sempat salah naik angkot yang kalau tidak segera mencari klarifikasi dari pak Sopir, kita akan dibawa sampai ke Bawen, akhirnya kita singkat cerita turun dari angkot dengan penumpang yang agak memprihatinkan jumlahnya, kita berdua menghempaskan diri di sebuah serupa dua gapura selamat datang yang masih berupa bangunan tak berbaju, diam, dingin, masuk angin. Under contruction kata bu dosen. Entah kapan jadinya. Pemerintah lah sana urusannya..

Bukit Cinta dan Rawa Pening itu bagai jarum dengan benangnya, tembok dengan atapnya, serupa ukhti Oki Setiana Dewi dengan hijabnya, penulis dengan kopinya, pen dengan kertasnya, manusia dengan dosanya, dan perempuan dengan galaunya. Bukit Cinta yang menjulang menantang limpahan air tenang tepat di depannya, bagai kekasih merindukan limpahan cinta kekasihnya, bagai dua hal berbeda yang bila disatukan enak dipandang mata. Yang pasti tidak serupa hati dan otakku, Dua hal yang tak hakiki itu memang beda dan selalu berseberangan, bak dua besi kereta api yang menukik bersama demi menghidupkan jalur kereta api, namun sekali pun tak pernah bertemu di satu titik, berjalan bersama dan tak pernah benar benar bersama. Apa jangan jangan seperti cintamu itu? (pengaruh kopi ternyata memabukkan)

Pulang ke topic, dengan udara segar menelingkupi kita berdua, berjalan riang gembira. Penjaga karcis belum berangkat kerja, dan kami membangun keyakinan, kami bukan pendosa. Salah sendiri tidak berangkat kerja pagi pagi. Dan terlihat gundukan Cinta bertengger dengan megahnya, anakan tangga menjulur sejadi jadinya, sekali naik, terlihatlah segala keindahan Tuhan yang Maha Segalanya.

Menengok ke kanan seleluasa mata memandang, di situ air tenang bertahta, nun jauh di ambang mata pegunungan menjulang mencium gumpalan kapas raksasa, bersentuhan dengan permadani biru ciptaan Tuhan. Air berkolah kolah, Baru Klinting memadu mimpi di bawah. Menengok agak ke atas, matahari masih merangkak naik khas jam 9 pagi, hamparan warna biru kesukaan berkepak kepak selebar bola mata berpendar

“Is, ayo poto poto..”

Dengan gerakan tangan mengagumkan dan cekatan aku mengeluarkan sekotak alat yang bila ditekan tulisan camera akan berganti layar dengan objek di depannya, dan bila ditekan capture, terekamlah objek itu untuk selamanya.

Kita berdua foto berdua seperti ini, secara bergantian…



Ganti posisi. Akibat renovasi yang belum jadi, terdapatlah tulang tulang rusuk beton di batas bukit dengan rawa, berdiri sedemikian rupa dan melambai lambai untuk dititi.

Aku kerahkan segenap kekuatan jiwa dan raga untuk meniti tulang tulang itu dan berdiri bak orang mau bunuh diri di titian terluar. Imajinasi bermain dan seakan akan meniti juntaian tali berdiamater tidak lebih dari tia sentimeter saja. Aku pikir aku hebat, padahal tidak, belum…

Dan akhirnya foto serupa ini…ada gaya JilbabRindu Baru Klinting, Jilbaber Atraksi di depan Baru Klinting. Pose seorang model tak tergapai aku lakoni demi kepuasan hidup di segala himpitan yang ada. Wekwekwek…

Iis, teman SMP juga sama halnya. Hanya saja dia tidak berani berpose Jilbaber Menyerahkan Diri ke Baru Klinting dan melakoni titian maut di atas air tenang menenggelamkan itu.

And here we are…








Tak lupa Jilbaber Membacakan Cerita Legenda Rawa Pening juga aku lakonkan..

Ada pula pose Jilbaber Kagum Gethek, Jilbaber Berangkat Berlayar, dan Jilbaber Pergi Menjaring Ikan ada juga…

Ini dia…





Kami cantik khan? Serumpunan ilalang liar bergoyang goyang…

Capek memanjakan hati, kami duduk di tepi Bukit di tempat duduk berwarna warni biru hijau merah dengan jalinan besi besi panjang yang serupa tempat duduk di tempat bermain anak PAUD. Mengamati segerombolan bapak pelayar yang dari satu sisi di rawa memacu getheknya sembari memukul mukul permukaan air yang aku tengarai seperti mengarahkan serumpunan ikan untuk masuk ke jalinan jaringan di satu sisi Rawa yang lain. Lihat perbedaan foto ini dan kau hendaknya mengerti apa yang aku maksudkan.


Imajinasi melemparkan anganku, andai aku bisa melihat lembaran air dengan rerumpulan eceng gondok yang bisa berjalan di siang hari dari satu sisi ke sisi yang lain dengan segenap hembusan angin, andai seperti ini sambil meminum kopi dan berleha leha makan lothek, atau dengan seonggok netbook untuk memuntahkan segala ide di otak,andai seperti ini sambil duduk diam saja begitu dengan pendukung hati, duduk saja diam berjam jam mengarungi alam pikiran masing masing. Duduk saja begitu menikmati hembusan angin, duduk dengan lengan saling bersentuhan. Dari pagi sampai sore. Menikmati alam dengan segala keindahan yang disajikan. Indahnya hidup kalau begitu.

Imajinasi memulangkanku ke kenyataan. Duduk bersama teman lama dengan angin sepoi sepoi yang menyapu nyapu wajah, mau menyapu lengan tapi ketutupan.

Bercerita mengenai hiruk pikuk dunia di kala muda, semburat semburat kisah cinta, hati yang bak eceng Gondok di Rawa Pening, kisah kisah yang meng-mejikuhibiniu kan hidup di tepi masa produktif. Lapar begitu, kita makan lothek dengan kerupuk berjuntai juntai, cukup 5 ribu saja.


Memanjakan mata, melapangkan dada, menyegarkan pikiran, namun tidak menipiskan dompet. Itu favoritku. Syukur syukur menaikkan level kesyukuran. Alloh begitu cantik, segala hal yang diciptakannya cantik mempesona. Mulo to mulo, irung pesek, kulit eksotis, lambe kandel, awak opo meneh, rambut koyo mie instan, kui ciptaan Alloh, disyukuri, Alhamdulillah wa syukurilah… amien…

Hati kenyang, pikiran kenyang, perut juga demikian, kita memutusan untuk menyudahi pengalaman hari itu. Tapi sungguh, berdolan, bercegkerama, salah naik angkot, berkisah, berfoto, menghabiskan waktu bersama teman memang sungguh menyenangkan. Apalagi dengan teman yang sudah lamiiii tak dolan bareng seperti IIS itu.

Mengingatkanku pada masa SMP walau tengik tetapi ada juga sukanya. Hehehe, Alhamdulillah…

Kami yang dulu masih rambut menjuntai juntai, sekarang semua dari kita mengubah sedemikian rupa berwarna warni menyesuaikan warna baju. Dan seketika menyadari, indahnya berjilbab…

Belum sempurna memang…sangat belum sempurna dan sesuai syariah seperti yang tertera di Novel Alloh…dan bagiku tak mengapa, setidaknya kami telah sedang mencoba. Dalam hal Menggapai titiap ke 20 tentunya melakoni titian kesatu, kedua, dan seterusnya, bukan? Hehehe…

Dan di sini aku sekarang, mematung di depan layar netbook, masih minum kopi dan belum mandi,

Tertanggal 27 Juni, 2 hari setelah sahabatku bernama Ellena Rosmayanti genap 20 tahun usianya. Hehe..

Ngomong ngomong soal dia, aku pernah berkelakar menikmati Rawa Pening bersamanya di waktu lampau, di sini.

Terpukul 12:46 siang hari waktu Indonesia barat. Di sini aku sekarang, mengabadikan moment Rawa Pening milik Baru Klinting itu.

Bagi kalian yang suka dolan nggak suka uangnya habis, kesana saja.. hamparan air tak berelombang, bak remaja sudah stabil Linknggak galau terus terusan, Rawa Pening menawarkan segala kenikmatan hidup itu. Dan lagi, benar benar tidak akan membuat kepalamu pening, pening tak lagi tampak setelah awak berpusing pusing di Rawa Pening.

Trust Me, It works! Sukseskan Wisata Jawa Tengah 2013!! Yeah!!

Wassalam. :D


3 comments: