Friday, 17 February 2012

Cerita Adik Manis

Tadi pagi seperti biasa aku berangkat kuliah dengan berseri seri, tas penuh perkakas mengadu nasib di kampus, berdo'a juga sudah..

Singkat cerita aku udah duduk si bis SARI, siap menikmati 20 menit perjalanan melewati jembatan, berkelok kelok naik bukit turun lembah sembari belajar Resmeth alias Research Method yang nanti bakalan ditesin, tak lupa mencantolkan setangkai headset ke telinga sebelah kiri karena yang tangkai satunya udah rusak sambil denger lagu lagu Fly, Mr. Know It All, dan lagu lainnya yang habis aku donlod kemarin di Stanfa.

Berasa kayak di film gimanaaa gitu kalau di bis, tepat duduk di seat ke 2 segaris dengan tempat duduk sopir, di sebelah kaca persis sehingga bias bebas menikmati pemandangan sepanjang jalan.

Di tengah perjalanan, masuklah ibu dengan satu adik seumuran Astrid, 5 tahunan. Dia mengenakan kaos hijau dengan gambar yang sudah terkeletek di bagian depan, tangan dan kakinya agak kotor, kuku kukunya panjang, tapi wajahnya sangat manis.

Aku asyik belajar, si adik tiba tiba senyum ke arahku. Aku balik senyum, lalu tiba tiba Tanya,

“Ini apa?” menunjuk pin gadis berjilbab warna biru dari kayu yang tertempel di tasku.

Pin dek…”

“Ini apa mbak??? INi kok diginiin?? Meh sekolah mbak??”

Dia mengutek utek bukuku, membolak balikkan bukuku, dia sandaran di bahuku, dia ikut ikutan pura pura baca, She is just so sweet….

“Nggak sekolah dek??”

“Sok…ngarep…” Mungkin tahun depan begitu maksutnya. Dia terus membolak balik halaman halaman buku Resmethku.

Berarti dua melewatkan masa TK. JAdi inget adikku yang sering dimanjain sama Ayah dan Ibu di rumah. Astrid juga terpilih jadi mayoret besok Minggu di kecamatan. Astrid yang menikmati masa kecil senikmat nikmatnya. Dan ini??

“Mau kemana dek??”

“Kerja….”

Saat aku Tanya kerja dimana dia menyebutkan alamat rumah orang. Mungkin membantu pekerjaan rumah tangga.


”Mbak sekolah ketemu bu guru??”

“Iya to, nanti dibiji bu guru, nanti kan mbake meh ulangan…”

Tiap tersenyum, ada 2 lesung pipi samar samara di kedua pipinya. Bener deh, adiknya cantik..

Saat mau turun di Kemiri, si adik bilang..

“Mbak, nanati aku didadain yo dari jendela yo mbak…” sambil menempel ke jendela dan mempraktekannya…

“Mbak, aku kerja dulu ya…”

Dia salim tanganku. Dia saliim tanganku, dan senyum manisss banget. Rsanya di dadaku tiba tiba ada semangka 5 kilo. Sediiiih banget liat adiknya.

"Dada Mbaaaak..." aku didadain sama adiknya, dan dia pun turun. Keliatan cerdas adiknya, sayang sekali belum sekolah...

Kasian, seharusnya dia lagi main di pekarangan TK, ini ikut kerja dengan baju yang lumayan lusuh. Bingung juga adiknya darimana kok pagi pagi kaki dan tangannya udah kotor.

Gambaran anak Indonesia yang kurang beruntung. Di luar sana masih banyaak dan masih banyak juga yang lebih menyedihkan... Generasi penerus bangsa yang terampas hak hak nya oleh label "ekonomi"

Jadi inget Astrid di rumah…

I wanna be the best eldest sister for her!!