Tuesday, 6 December 2011

Ayah dan Ibu


Sekarang pukul 22:29 tanggal 5 Desember 2011.

Karena modem belum aku isi, maka aku berencana untuk mengepost esok hari, tetapi menulis tetap harus malam ini. Setiap tahun di tempat aku tinggal rutin diadakan acara santunan anak yatim.

Di sana prosentase jamaah adalah 30% bapak bapak, 65% ibu ibu, dan sisanya remaja tanggung macam aku ini. Setelah sambutan dan ceramah ceramah, tibalah dipanggil sekitar 10 anak yatim piatu. Semula aku pikir menyatuni anak yatim piatu yang didatangkan dari panti asuhan tertentu, ternyata yatim piatu tetangga sendiri. Mereka masih kecil kecil.

Ada satu anak dipanggil maju, sebut saja Muhammad. Dia maju dengan wajah tanpa menunjukkan wajah berduka. Umurnya sebaya dengan adikku, Astrid, 5 tahunan. Karena aku berada di luar mushola di depan pintunya, aku bisa mendengarkan percakapan ini.

“Ono opo to mbah??”

“Wes maju maju,”

“Karo kowe ya mbah…”

Ibunya baru 2 minggu meninggal akibat gagal ginjal. Dia anaknya satu satunya. Dan hatiku serasa dicabik cabik. Ingat biasanya ibunya pulang kerja dari pabrik bareng aku. Lalu, menyapaku.

“Baline sore sore ya nok?”

“Iyo mbak, jadwale loncat loncat.”

“Kuliah ning endi?”

“UKSW”

Dan sekarang sudah tidak ada. Saat dia dengan tanpa bebannya melangkah ke depan, ibu ibu nangis. Entah bagaimana menggambarkan suasana saat tadi. Aku benar benar merinding.

Ada namanya sebut saja Putri, ibunya berjuang hingga titik darah penghabisan saat melahirkannya, dan pada akhirnya tidak tertolong. Seumur umur dia belum pernah melihat wajah ibunya.

Ada juga sebut saja kakak beradik Budi dan Adi. Ayahnya meninggal beberapa bulan yang lalu karena sakit. Mereka juga masih kecil kecil

Sedih melihat anak anak yang masih kecil kecil ini sudahtidak bisa bertemu dengan orangtua mereka, orang orang terdekat sejagat raya. Mereka tentunya tidak bisa begini,

“Pak, sangu pak…”

Atau..

Buk, masak opo?”

“Pak, aku bali bengi. Jemput ya…”

“Buk, pijeti, keseeel…”

“Pak, renang yuk…”

Like what I usually do…

Saat kami menyalami satu per satu, mereka menangis sesegukan, semua orang terhanyut dalam suasana haru, sedih, kasihan, semuanya campur aduk. Trenyuh sekali.

Si anak yang sudah kehilangan ayahnya karena sakit menangis sampai sesegukan. Ibunya pun ikut menangis. Anak anak pondok yang juga sudah kehilangan orang tuanya juga begitu sedih.

Tak terbayangkan kalau aku yang ada di posisi mereka. Hidup tanpa ayah atau ibu, hidup tanpa kasih sayang mereka.

Membuatku semakin tersadar betapa tak ternilainya 2 harta yang aku punya. Semakin mengerti bahwa semua hal di dunia ini tidak ada yang abadi, hanya ketidakabadian itulah satu satunya yang abadi di muka bumi ini (selain Alloh tentunya). Semakin sangat sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk bisa melihat mereka setiap harinya. Kalau capek dipijitin, pulang malam diSMSin atau ditelponin, dinasehatin, banyak hal selama 20 tahun ini yang dilakukan bersama mereka. Dan sungguh, aku dan kamu yang masih didampingi kedua orang tua sangat sangat sangat sangat, dan sangat beruntung.

Melihat mereka menangis sambil menyalami satu per satu orang membuat setiap orang juga pasti sedih. Kalau mereka punya pilihan, pasti mereka ingin bisa melewati hari hari bersama ayah dan ibu. Dan hidup itu benar benar bukan pilihan. Semaki n tergugah untuk bisa mengulurkan tangan kepada adik adik yang tak seberuntung kamu dan juga aku. Semakin ingin berbagi pundak untuk mereka. Semakin ingin merengkuh mereka dalam kasih sayang yang sampai tua mereka tidak akan dapat dari orang tua mereka.

Dari beribu ribu anak yatim piatu, sungguh kamu dan aku termasuk orang yang beruntung. Malam ini seperti menamparku untuk tidak melakukan hal yang tak semestinya dilakukan kepada ayah dan ibuku. Seperti semakin melebarkan mata hatiku untuk menjadi yang terbaik untuk mereka. Dan hal pertama dari sekarang yang ingin aku lakuka untuk mereka, berfoto bersama mereka di depan Balairung Utama UKSW lengkap dengan toga dan senyum manis sekali. Maka ayah dan ibuku pasti bangga luar biasa. Hal kedua, mampu menguliahkan kedua adikku dari hasil keringatku sendiri, melihat mereka memakai toga seperti aku dengan ayah dan ibu di sampingnya dan kepada kamera kami tersenyum manis sekali. Lalu, melihat aku bersama seseorang yang mencintaiku apa adanya memantapkan hati untuk melangkah dalam nama sakinah, mawadah, warahmah, dan di depan kursi pelaminan, kami sekeluarga kepada kamera senyum manis sekali. Dan, ayah dan ibuku akan bahagia luar biasa.

Tak pernah tahu sampai kapan aku dan kamu berkumpul bersama mereka dalam canda dan tawa, maka cintai mereka sepenuh hati. Saat orang lain bilang kamu jelek, mereka akan senantiasa berkata kamu cantik. Saat orang lain mengolok olok, mereka senantiasa memuji. Saat semua orang pergi, mereka senantiasa mendampingi. Maka, akan aku buat ayah dan ibuku sebagai orang tua paling beruntung sedunia, pasti kamu juga begitu.

Dan selalu berdo’a untuk jangan mengambil mereka dulu sebelum mereka bisa merasa beruntung memiliku anak seperti aku dan kamu, seperti kita merasa sangat sangat beruntung memiliki mereka.

Dan Alloh benar benar Maha Penyayang dan Maha Pengasih, Alloh Maha Adil dan Maha Segalanya. Bagi mereka yang sudah ditinggalkan, akan digantikan kasih sayang dari tangan tangan orang dermawan dan penuh kasih, tangan Tuhan, yaitu aku dan kamu.

No comments:

Post a Comment