Friday, 7 October 2011

jatuh, keujanan, mati lampu, pulsa habis.





Assalamualaikuuuuuum….
Semakin hari emang cuaca semakin nggak menentu. Dan semakin nggak menentu kalau rumahmu jauuuuh, kayak rumahku. Dan semakin nggak menentu kalau jadwal kebanyakan mengharuskanmu buat pulang jam 6 sore, kayak jadwalku.
Kemarin. Terseok seok berjalan keluar dari kampus bersama si Inggit. Dengan bakpao coklat kacang kemebul di tangan, yang aromanya menari nari di hidung seraya berkata, “kunyah gueee…”, aku dan Inggit menyusuri jalan melewati Dipo, Al-Azhar, dan nyebrang.

Berhubung si Inggit ketemu temannya dan menunggu teman yang lain, aku memutuskan untuk pulang naik angkot duluan. Tentu mengharapkan bis Sari di jam 5 lebih bak berharap rumahku tiba tiba 5 km dari kampus, tidak lagi 25 km. mustahil. Lalu, dengan masih bakpao kemebul, tas samping panjang, dan stopmap plastic warna biru yang aku peluk erat, aku berlari kecil mengejar si angkot warna merah. Baru 2 langkah menginjakkan kaki di angkot itu, si pak sopir mengerem tak tanggung tanggung. Berhubung hawa laper mengurangi keseimbangan tubuh, ditambah aku pake rok dan mengurangi area menjangkah, jadilah aku jatuh di pangkuan anak SMA, sodara sodara. Cowok SMA!!! Kenapa ya Alloh??? Kenapaaa????. Jatuh. Rasanya aku pingin melompat turun dan menghilang ke bulan. Tapi, semalu apa tetep sok cool. Berdiri lagi, dan duduk di sebelah si cowok SMA. Seraya berkata dalam hati,

“Cuma jatuh doang, swt dah. Bawen mana???? Kapan nyampe Baweeen???? Pura pura mati.”
Karena perut udah mulai protes dan demi apa pun, urusan perut adalah urusan yang patut diutamakan. Kasian perut aku, makanan sudah ada, tapi nggak dimakan juga. Dan seketika, bakpao kemebul akhirnya aku kunyah. Sabar perut sayang, hidup emang kejam, tapi ummi pasti berhasil…

Bukan berarti siang aku nggak makan. Tapi, berhubung di kelas itu aku study hard, dan menghabiskan banyak tenaga untuk berpikir, jadi habis kelas bawaannya lapar. :D

Nah, tiba tiba setelah kebun kopi Banaran, semuanya gelap, saudara saudara!! Mati lampu! Tidak hanya itu, tiba tiba nggak ada angin nggak ada apa, hujan. Payung jelas nggak bawa orang biasaya juga nggak hujan, bawa senter apalagi. Mau kuliah apa mau cari belut??

Dan aku berjalan di kegelapan malam dan ujan ujanan di terminal Bawen, sodara sodara! Rumah si Via, di depan mata. Rumahnya memang di depan terminal, bercat hijau dan jendelanya ada banyak. Dan sialnya lagi adalah, pulsaku abis!! SMS Via nggak mampu, SMS ayah juga apalagi. Agak lama berdiri sambil basah basahan n gigitin kuku and ngorek tanah basah di depan rumah Via, sambil nimbang nimbang, masuk, lewat, masuk, lewat. Tuh rumah Via gelap bukan kepayang, dan akhirnya aku lewat doang.

Setelah sampai di terminal paling pojok, aku nunggu angkot lagi ke Ambarawa. Ada bis 1, dan itu masih duduk manis nggak bergerak. Entah kapan jalannya tu bis, daripada seteres nungguin jalannya, mending aku oper ke Ambarawa dulu. Masalah Ambarawa sampe rumah, pikir entar. Alloh pasti ngasih jalan.

Sampai Ambarawa, Alhamdulillah yaaah…ada angkot kuning yang aku tanyain,
“Tekan kurahan ngisor, mas?” “Tekan, mbak…”

Biasanya angkot kuning jarang sampai di rumahku. Bukan karena rumahku di pelosok lho ya, wong rumahku di pinggir jalan utama kalau kalian mau ke Magelang atau Jogja kok. Cuma emang angkot nggak menjamah sampai area sana. Dan masnya mau. Entah karena di kegelapan malam aku kliatan cantik, atau karena kasian malem malem ada mbak mbak berkerudung panjang dan terkiwir kiwir ujungnya seperti icon Annida, menjinjing stopmap penuh buku, berrok panjang, dan lusuh tak ketulungan.
Masalah selanjutnya terpecahkan.
Masalahnya adalah, masih mati lampu. Sekitar gelap gulita, dan nggak mungkin aku jalan sendirian, nggak liat jalan karena terlewat gelap menuju rumah. Yang ada aku ditemenenin mbak kun atau om Cong. Asal tau aja, rumah gede dari kayu di pinggir jalan yang sering aku lewatin itu terkenal dengan ‘penghuni’nya.

Aku yakin orang Indonesia itu baik baik, dan sepatah dua patah keluar, aku bisa ngirim sinyal minta pertolongan ke ayah.
“Mbak, isa minta SMS 1 mbak? Pulsaku abis.” Dengan seringai wajah ramah aku berkata.
Ya…” si mbak menyodorkan HP touch screennya. Sebagai penjual pulsa aku merasa gagal.

Dan, singkat cerita, ayah menjemputku di pinggir jalan dan kita pulang bersama sama. Sesampai di rumah, mandi air anget, maem, dan nyicil tugas. Sebelum tidur, liat drama Korea sambil tiduran.

“What a life!!”
And I do love myself, my life, everything in me.
I love Alloh who always gives me amazing experience and make me realize that life is totally wonderful.
I love my family who always be there when I need them a lot. Live a full life because of them.
I love my bestfriends who always listen my cry, either my sad story or my happy story, always be there to give me a harm big hug.
I love my boyfriend who gives me happiness and sadness, laugh and tears (in a relationship, it is impossible to get only happiness, right?). And that stuff really makes me rich. I’m getting mature because of him.
And loving them all makes me love my life more and more in gratitude.

Wassalaaaam^^

07.10.2011 8:44 AM

2 comments:

  1. akakakakakak tragisnya ndukku sayang satu ni. mumumu :3 untung ga ketemu om cong sama tante kun yah :p
    semangat trus ya nduk! :*

    ReplyDelete
  2. Iya emanggg....hahaha, jane kalau ketemu khan bisa foto bersama, biar heboh letoy blogku. hehehehe (ngayal, ketemu tenan, semaput...):D

    ReplyDelete