Saturday, 20 August 2011

Tubuh, jiwa, ruh, malaikat, dan syetan




Assalamualaikuuuummm…

Habis baca buku milik mas mas bernama Abi Maulana, seorang penyiar radio di Mustang Fm dan mengampu acara bernama Get Real yang isinya curhatan dari pendengar terus dia si tukang jawab gitu. Judulnya sama, Get Real. Walau pun si abang pake ‘gue’ ‘elo’, tapi sumpah deh bukunya nendang banget nget nget. Dan justru yang paling nendang dari yang nendang nendang lainnya berasal dari bagian belakang buku. Ini juga yang mau aku tulis kembali biar daya tangkapku lebih mudah mencerna dan sekalian bisa dibaca oleh sejuta umat yang bersedia membaca blog saya. :D

Buku ini keluaran 2007, jadi nggak maksut hati buat memperbanyak apa menyebarkan isinya secara semena mena toh ya? Khan Cuma pingin bisa lebih mencerna setiap makna yang tersimpan di serangkaian kata bermakna dari abangnya dan juga siapa tahu bisa sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui, sukur sukur sekalian bisa mancing sembari mendayung seperti halnya menyelam sambil minum air.

Menurut buku ini tentang bagaimana dan untuk apa manusia tercipta begini,

Pertama kali Tuhan menetapkan NAFS-Nya sebagai rahmat dengan manifestasi atau perwujudannya: jiwa(kita tulis nafs dengan huruf kecil). NAFS dipercikkan menjadi jiwa kecil kemudian agar jiwa ini memiliki media operasionalnya untuk mengungkapkan kehendak ruh (sebagai kehendak Tuhan), rahmat Tuhan diwujudkan dalam penciptaan tubuh. (saya butuh beberapa kali baca untuk memahami maksut ini. Hehehe) bumi berperan sebagai alam dualitas yang dinamis.

Nangkepnya saya jadi Alloh menciptakan bumi ini lengkap dengan yang baik (malaikat) dan yang jelek (syetan) untuk membuat hidup kita dinamis, dan dengan begitu kita bisa mengambil pelajaran dari setiap kejadian (kejadian baik dan kejadian buruk yang disebabkan keterlenaan terhadap nafsu akibat syetan). Pikir saya, biar hidup itu nggak flat, melainkan seruu…kan kalo di sinetron sinetron gitu, ada yang suka perang batin, antara mau ikut apa kata malaikat atau apa goda syetan, biasanya yang lebih menggoda khan setannya gitu ya, nah, kalau bisa mengekang nafsu dan kembali ke fitrahnya sebagai wakil Alloh, maka bisa mengikuti mana perilaku yang benar dan akhirnya berkata, “Alhamdulillah yaaah…hidup memang sesuatuh…yang penting sabar yaaah…” begitu kira kira….

Dan, masih menurut buku karena saya juga belum tau banyak soal begini, inilah hidup dengan fungsi dari lima unsur yang berjalan selaras, harmoni.

F;(tubuh, jiwa, ruh, malaikat, dan syaitan)

TUBUH. Yang saya tangkap dari ini adalah tubuh itu syarat yang paling krusial, tanpa tubuh fungsi keempat penopang itu tidak bisa terungkap karena tubuh tidak lain tidak bukan adalah sarana atau alat untuk mencapai tujuan. Adapun soal keadaannya, seberapa tinggi, seberapa padat berisi, seberapa seksi, seberapa mancung, dll adalah bukan suatu kebetulan semata, tetapi merupakan kesiapan yang paling sempurna untuk menjadi wakil Tuhan-sudah sesuai dengan tujuan ruh kita.

Dijelaskan lagi menurut analogi Zukaf soal tubuh, tubuh bak instrument ruh. Seandainya pemain piano sakit, apakah memperbaiki piano dapat membantunya?? Yang dihasilkan oleh instrument tidak hanya tergantung pada kondisi instrument itu sendiri, tetapi juga pemusiknya (yang artinya ruhnya). Bahkan, instrument yang bagus, mengkilat sekalipun kalau pemainnya berada dalam kesedihan juga hanya akan menghasilkan nada nada sumbang penuh kegundahan. Maka tubuh mesti ditempatkan kembali pada posisinya semula, tidak diabaikan, tidak pula dimanjakan. Kalau diabaikan, kesehatan tidak dijaga, sibuk sana sini sampai memforsis diri sendiri, bahkan memakai obat obatan terlarang yang merusak tubuh, sama halnya merusak kendaraannya sendiri, sementara kendaraan itu masih digunakan untuk perjalanan jauh mencapai tujuan, yak, tujuan hidup. Dan kalau terlalu dimanjakan, nggak mau melakukan ini dan itu, bermalas malasan, tubuh ibarat kerangkeng besi yang memenjarakanmu. Padahal, Tuhan menginginkan wakilnya untuk mengembangkan kreasi Tuhan sebagai bukti wakil-Nya.

Jadi ingat waktu ikut pelajaran Kristen di kampus, waktu pak dosen bilang kalau manusia itu ‘the image of God’, artinya semoga nggak salah, manusia diciptakan sesuai gambar dan rupa Tuhan. Dan memang manusia, makhluk yang paling sempurna, yang melaui manusialah perwujudan Tuhan terlihat nyata.


NAFS, JIWA. Bagian diri kita yang lahir, hidup, mati dalam dimensi waktu. Jiwalah yang merasakan kemarahan, kebencian, ketakutan, penyesalan, dll. Jiwalah yang menjadi perantara bagi kehendak ruh untuk mewujudkan baktinya pada Tuhan melalui aktivitas tubuh karena jiwa begitu dekat dengan wadag (bersifat jasmaniah)kasar kita.

Maka aktivitas jiwa adalah fungsi :

f; (amarah, lawamah, mulhamah, mutmainah)

sebelum ke situ, jiwa manusia mengalami evaluasi. Yang paling dasar adalah jiwa mineral atau jiwa bebatuan (diem, tidak tumbuh dan bergerak). Lalu, menjadi jiwa nabati: tumbuh, struggling dalam mengatasi gravitasi untuk memberi hasil berupa dedaunan, bunga dan buah, tapi untuk dilepas di alam, bukan untuk dirinya sendiri-mana ada buah makan buah??. Berkembang, jiwa hewani: yang mencari perlindungan untuk kenyamanan hidup, bertahan hidup melalui peran mencari makan untuk dirinya dan kadang untuk anaknya juga bergenerasi.Manusia pada jiwa ini masih belum sampai pada titik kehendak-Nya. Dan terakhir adalah jiwa insani, yaitu ketika jiwa menjadi manusia dari ruh dan menerjemahkan kehendak kehendak ruh kemudian berinteraksi dengan fisik untuk mewujudkannya.

Nah, untuk menjalankan peran jiwa insaniah-nya, fungsinya seperti jiwa amarah menghadirkan fungsi perlindungan, pembelaan diri dengan kesadaran fisik, maksudnya kesadaran indera (mencermati situasi luar lingkungan dengan hitam-putih). Jiwa ini lah yang bikin kita benci sama seseorang, yang merasakan ‘waah, si A nggak pernah setuju sama pendapatku, dia itu musuhku’. Jadi, jiwa ini bekerja merespon informasi enam pintu indera kita. Maka dari itu, jiwa ini termasuk kesadaran rendah yang didukung dengan kerja pikiran ganda pada gelombang beta. Sifatnya subjektif, dualitas. Missal, aku bilang bagus, orang lain bilang jelek. Aku bilang ‘wahhhhh, manis beuuut’, orang lain bilang, ‘pait pait pait…’
Jiwa Lawamah: jiwa yang penuh sesal. Jiwa inilah yag merasakan penyesalan atas kejadian kejadian pait dalam kehidupan sehingga kita bisa merasakan kegetiran, frustasi, dan kesedihan yag berlarut larut. Missal, saat pacaran tapi kebablasan, jual tubuh demi kepingan uang,bentak bentak ortu, nyontek tapi kunci jawabannya salah jadi nggak lulus,dan hal hal yang bertolak belakang dengan kehendak diri yang tinggi atau ruh, maka jiwa akan berada dalam keadaan penyesalan yang dalam, sulit memaafkan diri sendiri, frustasi. Tetapi, jiwa inilah yang mengantarkan manusia pada keadaan titik balik. Kata Bu Kartini, habislah gelap, terbitlah terang. Dan, jiwa mulhamah menyapa…
Jiwa mulhamah adalah jiwa yang dapat menangkap gagasan, ide, ilham didukung dengan kerja pikiran pada gelombang alfa, untuk terus berkembang merespon tawaran ruh yang selalu mengarah kepada cahaya, terang, suatu keadaan tenteram tidak terganggu dengan apapun dari luar dirinya. Inilah saat jiwa selaras dengan keadaan ruh, yaitu jiwa muthmainah dan mengantarkan ruh kembali pada pemiliknya.

Itulah mengapa malaikat dan syetan hadir di muka bumi ini. Untuk membuat dinamis dan memperkokoh keberadaan ruh. Dan keadaan ini harus terjadi karena akan memberi pengalaman pada ruh dalam perjalanan menuju pulang. That’s why bener beuut kalau “Tidak ada kesalahan, yang ada hanya pelajaran.”

Lanjuuut…. (maaf yak panjang benerrrr, bukunya aja juga tebelll…hehehe)

RUH. Sebagai amar Tuhan, perintah, titah Tuhan, wajah Tuhan. Ruh yang awalnya ditiupkan dari Diri-Nya, setiap saat ingin mengungkapkan diri, menghadirkan Tuhan melalui kehadiran diri di tengah orang lain, di tengah tengah makhluk lain, di tengah peristiwa di setiap ruang dan waktu.

(Bagian di bawah ini yang paling saya suka dan benar benar membuka selebar lebarnya apa yang kemarin kemarin agak tertutupi oleh sikap sikap individualistis dan akhlaqul madzmumah.)

Dalam keseharian, sering kita menyaksikan anak anak mengamen, meminta minta dengan peluh berderai, baju compang camping, kulit hitam pekat hasil sengatan sinar matahari. Tetapi, kita selalu kehilangan momen kehadiran Tuhan, kita tidak mampu menangkap amar Tuhan karena mengedepankan tubuh dan indera kita. Jiwa menstimulasi rasa empati, tetapi indera berkata “ Ah, anak anak ini hanya korban eksploitasi orang tua dan mafia pengemis terorganisir”
Maka saat itulah pengkhianatan terjadi atas misi yang diemban sebagai wakit Tuhan, untuk menjelaskan dan meyakinkan dengan kesaksian yang sebenar benarnya bahwa Tuhan ada. Bukankah anak anak ini mestinya menjadi iman, bahwa Tuhan memang ada dan Pemurah, karena telah memberi uang receh melalui wakilnya yang menjalankan amarnya??
Jadi mikir, ya khan Alloh itu memberi rejeki, memberi berkah melalui tangan orang lain? Nggak uang langsung jatuh dari langi??seperti halnya menjadi tangan dan kaki Tuhan, saling berbagi dan menjadi berkah atau pun berkat bagi orang lain. Perwujudan Tuhan… Saat kita memaafkan orang yang pernah menyakiti kita, misalnya pernah menusuk dari belakang, atau mempermalukan, atau bahkan pernah melakukan kekerasan terhadap kita, maka inilah keadaan saat kita menyaksikan amar Tuhan, wajah Tuhan, kehadiran Tuhan, ghafururrahiim-penuh kasih dan ampunan.
Saat kita dipenuhi dengan sikap yang baik, membangun, dan melayani siap saja tanpa memilah milah modus, komunitas, agama, keyakinan, warna kulit, suku bangsa, jenis kelamin, status social, sesungguhnya kita telah menghadirkan, menyaksikan, dan bersaksi atas kehadiran Tuhan yang Maha Memelihara, Maha Memberi dan tak harap kembali, Maha Bijaksana, Maha Lembut dan Maha Memiliki.
“Hanya melalui pribadi kita sebagai manusia yang bertumbuhlah, segala kemahaan milikNya bisa kita rasakan dan kita wujudkan”
Maha Kasih-Nya kita wujudkan dengan kedermawaan kita,
Maha Lembut-Nya kita wujudkan dengan bersikap ramah pada siapa saja,
Maha Pengampun-Nya kita wujudkan dengan murah memaafkan orang lain,
Maha Pemberi Rizki-Nya kita wujudkan dengan cinta kasih antara sesama,
Maha Suci-Nya kita wujudkan dengan kebaikan kebaikan perilaku kita, berprasangka baik pada apapun yang menimpa kita dan pada siapa pun yang membenci dan memusuhi kita, (dan ini yang paling sulit untuk dilakukan buat saya. Tobat…tobat)
Maha Bijaksana-Nya kita wujudkan dengan sudut pandang kita yang luas terhadap perilaku orang lain sehingga kita bisa memakluminya,
Maha Pencipta-Nya kita wujudkan lewat karya yang embangun dan bermanfaat bagi orang lain,
Maha Adil-Nya kita wujudkan melalui menempatkan suatu persoalan pada posisinya,
Dan pada akhirnya dituliskan pada buku ini,
“Manusia yang bertubuh ini, adalah bayang baying kehadiran-Nya, keberadaan-Nya.”

Sebelumnya aku sama sekali tidak berpikiran seperti itu, dan melalui buku ini saya mendapatkan sesuatu..

“Alhamdulillah yaaaah…. Buku ini emang sesuatuuuh…yang penting sabar yaaah…”

Sekian, semoga bermanfaat!! ^^

Wassalam…
19.08.2011 21:31 PM



No comments:

Post a Comment