Saturday, 30 July 2011

Susahnya Jadi Jilbaber




Assalamualaikum...

“Kadang emang bikin ribet, gue harus prepare lebih awal karena harus mikir pake jilbab model kayak apa, masih belum kalau jilbabnya nggak bisa melengkung sesuai harapan, atau dalemannya melengkung tidak seimbang. Masih lagi kalau pake inner model terbaru kayak bule bule, telinga gue sakit gara gara keteken sama inner yang ketat beut nempel di kepala. Itu soal preparation. Gue juga harus mikir biar warna top dan bawahan dan juga jilbab nggak wagu (walau kadang kadang juga masih wagu.:D). Masalah lain juga muncul. Dulu gue Cuma pake kaos, jeans, tas, flatshoes dan ready to go. Lah sekarang, kalau pake kaos juga otomatis harus pake ya sweaterlah, ya cardiganlah, atau apa saja untuk menutupi kulit tangan berhubung itu juga salah satu aura. Tau sendiri kalau musim panas tiba, gue berasa kayak sauna di mana saja, keringat istilah kata menganak cucu dan ya tau sendirilah keringat menyebabkan biang keringat dan akhirnya jadi agak nggak nyaman juga. Nah, kadang juga pingiiiiiin banget nampilin rambut gue yang sekarang sudah panjang, lurus, karena hal yang paling gue suka dari tubuh gue adalah rambut yang alhamdulillah titisan si Ibu jadi lurus begini. Nah, sekarang khan lagi rame ramenya bermain dengan poni yang begini dan begitu, lengkap dengan bandana yang unyu unyu, atau jepit jepit yang kiyut kiyut tak terelakkan. Pingiiiin beut gitu ya, bisa pergi pake jeans, kaos, dan rambut tergerai sebahu lebih dengan model yang sekarang lagi in,

How come??"


Namanya juga manusia, ada kalanya aku berpikir seperti itu. Betapa ribet sekalay jadi seorang jilbaber. Dan kalau otaknya lagi menciut dan berpikiran sempit bin dangkal, komentar komentar seperti itu yang bergelimpangan di benak. Kalau sudah begitu, aku cari akal supaya bisa meredam nafsu dan berfikir lurus kembali. Nggak lucu beut kalau sekarang sudah memutuskan untuk berjilbab dan pada suatu hari tiba tiba pake rok bunga bunga sedengkul dengan baju super feminin berbahan licin beserta payet payet bunga di depan dada yang mana si katty kelihatan. Sungguh aku tidak ingin berakhir seperti itu. Insya Allah... walau pun aku belum seutuhnya pake karena memang semua butuh proses dari segi apapun... tetapi dari proses itu sedikit demi sedikit pasti juga ada perubahan.
Jadi, kalau pikiran pikiran seperti berkecamuk semi ngamuk di pergulatan batin, maka datanglah Meykke2

“Menjadi jilbaber adalah pilihan yang wajib untuk disyukuri dan dipertahankan sampai akhir. Memang saya belum sepenuhnya bisa menutup aurat karena memang tidak bisa dipungkiri bahwa faktor lingkungan juga sangat berpengaruh pada perubahan kepribadian dan penampilan seseorang termasuk saya. Saya bukan dari keluarga yang sangat religius, standard istilah kata. Dan saya memang tidak pernah disuruh untuk menjadi seorang jilbaber. Semua adalah kemauan saya. Kenapa? Karena alhamdulillah Alloh memberi hidayah. Darimana?? Semua itu khan ada sumbernya, asap juga ternenal lewat tak ada asap kalau tak ada api, nah dan sumber inspirasi saya tidak lain tidak bukan adalah teman teman SMA. Be totally grateful cause having gorgeous senior high school friends. :D. Lagi pula memang terkadang sumuk sekali berada di balik segala penutup aurat ini, tetapi mari tinggalkan kesumukan itu dan mencoba mencari berlian di dalamnya. SEJUK TIADA TERKIRA HATI SAYA. Berbalut jilbab saya merasakan kedamaian hati dan hidup. Dan jilbab itu bak pagar untuk saya, dimana selalu menjaga saya di dalam pagar, kalau minggir dikit bak pagar beralarm. Maksut saya adalah, dengan jilbab ini, saya harus berpikir seratus kali untuk bilang “ndes”, dan kata sejenis lainnya. Saya harus berpikir seratus kali untuk bertingkah yang tidak sewajarnya (opo meneh iki?@@). Walau pun tetap saja saya masih punya banyak salah dalam hal attitude, setidaknya jilbab sangat berperan aktif dalam perbaikan attitude saya. :D. Masalah rambut dan apa pun, saya ingin mempersembahkan untuk suami saya kelak (hehehehehehe) sebagai seorang wanita gitu khan ya pinginnya lusa suami bilang, “Wah, bersyukur aku punya istri jenis jenis kayak kamu.” Masih lama sih, tapi ya direncanakan dulu dengan instropeksi diri sendiri (Amieeeeen). Tak terhitung berapa manfaat yang bisa dipetik dari menjadi seorang jilbaber. Contohnya kalau lewat terminal Bawen malam malam pulang kuliah, para ABG tua udah nggak suiiit suuiiiit (siulan menggoda), maksimal bilang, “Assalamualakuuum...” maksut hati ingin menggoda, apa daya malah mendoakan kalau begitu khan?? Dan nambah pahala."

Dan kalau Meykke 2 sudah begitu, aku jadi lebih lega dan bersyukur telah memantapkan hatiku untuk berjilbab. Karena bagaimana pun jilbab adalah perhiasan wanita, dan perhiasan laki laki yang beruntung adalah wanita yang sholehah. Jadi, tiap aku pingiiiin banget nglepas lagi, aku terus inget,

“Wanita yang baik, akan mendapatkan laki laki yang baik pula, dan juga sebaliknya.

Tanpa maksut menggurui karena merasa sok baik (Alloh Maha Tahu aku belum menjadi orang baik seperti yang Alloh minta, dan aku yakin aku masih dalam proses untuk menuju ke ‘kebaikan’ itu), mari berbondong bondong jadi orang baik.

Salam Jilbab Unyu SeIndonesia.:D
Wassalam.:))

27.07.11 20:18

4 comments:

  1. Assalamu'alaikum Meykke.. salam kenal yaa.. blog nya baguss.. lagi wara-wiri nyari artikel jilbab malah nyasar disini..heheheh.. Alhamdulillah.. semoga pelan tapi pasti kita bisa jadi muslimah yg lebih baik lagi.. Aamiin.. salam kenal yaa.. :)

    ReplyDelete