Monday, 7 March 2011

Dan aku pun mengeluh

(sekali baca, tolong baca sampai akhir, agar tidak menimbulkan salah persepsi.ehehehe)

Mengeluh. Pernah kamu mengeluh?? Apakah mengeluh itu berarti tidak bersyukur?? Bagaimana kalau memang kita tidak bisa menghindari keluhan dari diri sendiri. Bicara soal keluh mengeluh pun aku punya banyak keluhan dalam hidupku. Aku jabarkan satu per satu pun tidak akan cukup.

“Napa sih rumah gue jauh amet, mamet?? Gue harus nimbal sekali waktu berangkat ngampus dan nimbal 2 kali waktu pulang dari kampus kalau udah kemalaman dan bis nan eksotis si Sari dan juga Esto udah pulang kandang. Kenapa sih gue nggak dikondisikan ngekost aja?? Bisa bobok siang, bisa leyeh leyeh nggak kayak orang ilang berkeliaran di kampus tiap jam kosong?? Napa rumah gue letaknya harus 25 km dari kampus gue??”

Aku juga suka mengeluh soal ini.

Nape gue nggak punya mobil sendiri, yang bagus, warna biru dan bisa dibawa kemana mana. Bisa dijadiin rumah kedua, bisa buat tidur kalau emang kagak ngekost, bisa ngajakin temen temen dolan kemana kek, bisa naruh barang barang juga. Oke deh, ato setidaknya motor Scoopy yang sekarang lagi in itu lho mamett, yang warna putih, gaul benjet gue mesti, dan gue nggak usah pake acara nunggu bis, nunggu ngetem atau pun nimbal di terminal tiap malam.”

Itu baru soal kegiatan ngampus, belum lagi soal hal yang tememplek jelas di badanku.

Nape sih badan gue kurus benjet, mameeet?? Perasaan gue udah makan buanyak, tiap beli nasi prasmanan sama temen temen pun nasi gue yag paling memblep memblep kayak gunung Merapi. Gue juga udah pernah treatment minum susu putih campur telur campur jahe, nggak ada hasil. Gue pernah nyoba minum jamu buat nyuburin badan juga nggak ada hasilnya, pas nyoba nelen pil gemuk juga Cuma pipi doang yang memblep memblep. Nape??? NAPE?????”

Masih soal penampilan…

Kulit gue napa eksotis gini, mameeet?? Sisa sisa dulu pas kecil kalau maen nggak inget tempat, di kebun, di sungai, dimana man ague jabanin. Dan akhirnya masih melekat sampai sekarang hasilnya. Gue kalau foto bareng temen temen terlihat lebih eksotis, lebih coklat, berharap lebih manis, kayak melted Javanese sugar. But I don’t know the truth! Nape?? Perasaan gue juga udah facial kesana kesitu, dari yang Cuma berapa sampai harus merogoh kocek lebih dalam. Dasar nggak mo diajak kompromi!! Gue ini pingin kayak mereka ini lho, mameeet….”

Banyak sekali keluhan dalam hidupku. Itu saja belum mencakup hidung yang ingin lebih mancung, badan yang ingin lebih tinggi lagi, dan bagian tubuh lainnya yang merasa belum enak dilihat. Tambah lagi soal yang berhubungan dengan hal vital di dunia ini…

Nape sih gue nggak kayak dia?? Mau beli apa juga nggak perlu mikir tinggal ayok aja, sangu bisa berkisar sampai 400 per minggu, buseeeet dah!! Itu gue sebulan aja nggak nyampe kaleee….tiap beli makan mahal kayak beli lothek di pinggir jalan. Atau dia yang idupnya hura hura, ke clubbing, baju upgrade terus, shopping udah kayak ngasih pengamen di bis SARI, rutin. Bisa beli modem 5 biji, laptop isa genti genti, HP blackberry type ter gress dan tercanggih tak lupa udah mantengin I-pad di toko terdekat buat dibeli. Perfecto!!” (Cuma sebanyak pun uang gue, ngamal tetap diutamakan,clubbing NO, inget waktu susah soalnya.)

Tuh khan, itu baru beberapa yang keliatan doang. Masih banyak keluhan rahasia, khan tidak harus semua diceritakan..

Keluhan bersifat duniawi seperti penampilan dan materi menjadi keluhan terfavorit abad ini. Masih lagi…

Nape sih badan gue lemah benjet!! Cuma diajak pulang malam aja udah pilek hacing hacing mulu gini, kayak diajak kerja rodi buat rel kereta api sepanjang Pulau Jawa. Nape sih, nih badan hawanya loyo mulu, nggak ada gairah, gue harus minum apa biar loe ini bisa fresh gitu lho!! Udah kayak zombie kuliah aja loe!! Badan kualitas menengah ke bawah loe!”

Atau soal brain…

Nape sih ni otak nggak bisa buat mikir, kadang gue juga oon gitu pas nggarap test, mana lagi banyak pikiran, mana bisa gue mikir…ni soal juga nape sulit benjet, heran deh gue…”

Sepertinya tiap hari aku pasti mengeluh, sekarang mengeluh soal ini, besok soal itu, lusa soal yang berbeda, dan seterusnya. Rasa rasanya keluhan itu nggak ada matinya, eksis beut bo’

Seakan keluhan demi keluhan membutakanku, seakan aku ini paling dari yang paling, seakan aku ini nggak ada beruntung beruntungnya, seakan kata kata sejahtera flee jauh sekali dariku, tanpa pernah melihat ke bawah, tanpa mau melihat di sekelilingku, tanpa mau beralhamdulillah dengan semua yang diberikan Allah padaku.

Dan….

Aku pernah membaca kisah Bpk Bibit Samad Riyanto juga mengalami masa kecil yang penuh perjuangan. Beliau sangat berbakti pada orang tuanya, setiap pagi beliau membawa gerobak berisi mesin jahit untuk keperluan bekerja orang tuanya ke pasar dengan berjalan kaki, menyiapkan semuanya dan baru berangkat sekolah, juga dengan berjalan kaki beberapa kilo (kisah Bpk Jamil juga semasa SMA bersepeda 46km pulang pergi). Sepulang sekolah Bpk Bibit masih berusaha berjualan untuk membiayai keperluan sekolahnya.

Pernah membaca di salah satu sumber tentang kisah semasa kecil seorang ilmuwan bernama Bashiruddin. Bashiruddin berasal dari keluarga tak berpunya. Ayahnya hanya seorang pekerja sosial yang miskin di Lahore, Pakistan. Tapi, kemiskinan tak membuat sang ayah abai terhadap pendidikan anaknya. Dengan penghasilan pas-pasan, ayahnya menyekolahkan Bashiruddin dengan sekuat tenaga. Dia bahkan rela berjalan kaki berkilo-kilo meter tanpa mengenakan sepatu menuju sekolah, demi mengejar cita-citanya menjadi seorang ilmuwan. Melihat semangat belajarnya yang menggebu, sang ayah menyekolahkan Bashiruddin di Sekolah Pemerintah Lahore - sekolah terbaik di masa itu.

See?? Mereka jauh lebih berat daripada seorang aku. Mereka harus berjalan berkilo kilo, bahkan pernah liat juga toh di iklan TV?? Seorang anak harus berjalan berkilo kilo meter dulu, melewati sungai, melewati sawah sawah dan hutan. Harus berangkat dari rumah subuh subuh untuk bisa sampai di sekolah tepat pada waktunya.

Nggak usah jauh jauh deh, tetanggaku, anak kecil sekolah di SMP yang berjarak kira kira 3 km dari desaku, dia bernama Aji. Dia harus berjalan melewati jalan pintas, melewati semak belukar, kebun kebun untuk bisa sampai di sekolah karena nggak ada sangu. Dan dia tiap hari tidak pernah jajan. Nggak ada sangu. Terakhir dia sakit dan harus terus berobat, kata nenekku beberapa waktu lalu, penglihatannya agak terganggu, badannya kurus karena kekurangan gizi dan tidak punya dana berobat. Pada akhirnya, seisi desa iuran untuk biaya rumah sakitnya. Nyesek liat kenyataan di sekitarku yang begitu memprihatinkan.

See??

Dan alangkah tercengangnya kita setelah mendapati fakta bahwa menurut data resmi yang dihimpun dari 33 Kantor Komnas Perlindungan Anak (PA) di 33 provinsi, jumlah anak putus sekolah pada tahun 2007 sudah mencapai 11,7 juta jiwa. Jumlah itu pasti sudah bertambah lagi tahun ini, mengingat keadaan ekonomi nasional yang kian memburuk. Itu tahun 2007, dan sekarang sudah 2011. Kamu bisa menebak jumlah bertambah atau berkurang. Absolutely, bertambah!!

Lihatlah, pada tahun 2006 jumlahnya “masih” sekitar 9,7 juta anak; namun setahun kemudian sudah bertambah sekitar 20 % menjadi 11,7 juta jiwa. Dan sekarang berapa?? Nyesek rasanya. 11,7 juta anak harus memadamkan segala impiannya, dan akhirnya bergelut pada dunia keras, mencari makan membanting tulang. Saat itu aku lagi apa ya?? Jeng jeng bareng temen, belajar asyik sekali dan sama sekali nggak mikir hari ini bisa makan atau nggak. Mereka?? Makan pun nyari sendiri. Ambil contoh seorang pengamen kecil yang sering ngamen di bis SARI. Laki laki dan perempuan. Yang perempuan sebaya anak SMP, dengan tindik 3 di telinganya, ngerokok dan kumal sekali. Yang laki laki sering memakai celana SD warna merah, dekil sekali. Saat aku tanyai, dia sudah putus sekolah, orang makan aja baru setelah ngamen, makan cari sendiri, coy…

Belum kelar, let’s see it!

Menurut Sekjen Komnas Perlindungan anak, Arist Merdeka Sirait, kasus putus sekolah yang paling menonjol tahun ini (2008) terjadi di tingkat SMP, yaitu 48 %. Adapun di tingkat SD tercatat 23 %. Sedangkan prosentase jumlah putus sekolah di tingkat SMA adalah 29 %. Kalau digabungkan kelompok usia pubertas, yaitu anak SMP dan SMA, jumlahnya mencapai 77 %. Dengan kata lain, jumlah anak usia remaja yang putus sekolah tahun ini tak kurang dari 8 juta orang.

MENURUT catatan Komnas PA, pada tahun 2007 sekitar 155.965 anak Indonesia hidup di jalanan. Sementara pekerja di bawah umur sekitar 2,1 juta jiwa. Anak-anak tersebut sangat rawan menjadi sasaran perdagangan anak.

Menurut survey juga membuktikan, sebanyak 86% anak Indonesia belum sempat menduduki bangku perkuliahan.

Sangat menyesakkan melihat realitas di negeri yang katanya subur ini, anak anak menjadi gelandangan, anak anak hidup di jalanan, anak anak yang bermasa depan suram karena tidak mampu bersekolah. Bagaimana bisa bersekolah?? Makan saja sudah susah, seragam, buku buku, pendidikan, jauh dari mereka. Sungguh deh, nangis aja aku.

Dan sekarang masih punya gairah buat mengeluhkan rumahmu yang jauhnya 25 km hingga harus naek angkot beberapa kali untuk bisa sampai ke kampus, meykke ??

Kalau aku masih aja ngeluh soal rumah jauh, soal tugas yang berjibun, soal klontang klantung di kampus kalau jam kosong kelewat lama, soal harus pulang malam gara gara harus ngetem di terminal Bawen, soal iri irian, aku bener bener orang yang tidak tahu berterimakasih. Dibandingkan mereka, perjuanganku tidak ada apa apanya. Dibandingkan mereka, kita jauh lebih beruntung, walau terkadang rasa rasanya hidup begitu sulit untuk dijalani, terkadang rasa rasanya tidak tahan lagi, terkadang putus asa rasa rasanya melambai lambai di depan mata. Keep fighting, meykke!! Terus bersyukur kepada ALLAH SWT yang Maha Segalanya.

Masih soal perjuangan anak anak di belahan dunia untuk bisa mengenyam pendidikan, sangat tersentuh saat membaca review buku berjudul Mayan ( Menembus Batas Kemiskinan), diangkat dari kisah nyata seorang anak di Zhangjiashu ,sebuah kota kecil yang terletak ribuan kilometer di sebelah barat laut Beijing yang memiliki semangat luar biasa, mental baja, impian setinggi langit, dan tidak mudah putus asa. Untuk sampai di sekolah Ma Yan harus menempuh jarak 20 Km. Dia merelakan kaki kecilnya bengkak akibat menempuh perjalanan selama empat sampai lima jam, dengan jalur berupa ladang – ladang pedalaman yang berbukit , trayek berbahaya dengan jurang –jurang dengan dakian dan turunan curam serta celah lebar diantara karang terjal. Tidak hanya itu saja, dalam melakukan perjalanan tidaklah selalu mulus karena ada saja penghadang berupa hewan liar yang siap memangsa dan para pencuri yang tak berhati nurani siap menjarah harta, meski hanya berupa perbekalan makanan ataupun alat –alat tulis. Kadang jika punya uang, untuk menghindari itu semua Ma yan naik traktor dengan membayar satu Yuan. Bagi Ma Yan uang satu Yuan sangatlah banyak, satu Yuan bisa untuk biaya hidup Ma Yan selama seminggu dan untuk mendapatkan uang satu Yuan, ibu Ma yan harus memeras keringat. Pernah suatu ketika Ma Yan tidak bisa membayar traktor, dia tidak punya apapun untuk dibayarkan kepada sang sopir, maka untuk menjaga kehormatan ayahnya dia merelakan pena yang dengan memperolehnya dia harus rela menahan lapar sampai 2 pekan, untunglah si sopir yang bijak menolaknya dan mengatakan untuk membayarnya lain kali. Setiap akhir pekan Ma Yan pulang ke desanya, dan ketika kembali dia membawa roti kukus buatan ibunya sebagai bekal makam malam selama seminggu di Asrama.

Kutipan novelnya:

“Ayah dan ibu rela mengorbankan segalanya agar kami bisa tetap sekolah. aku harus belajar supergiat untuk masuk universitas suatu hari nanti. Setelahnya aku akan mendapat pekerjaan yang bagus. Ibu dan ayah tidak akan hidup sengsara itulah tujuan hidupku, itulah pengharapanku. “( Hal . 61)

Aku harus terus bekerja keras sehingga tidak mengecewakan ibu. Harapan terbesar hidupku adalah kesehatannya membaik dan keluarga kami akhirnya berkumpul bersama selamanya. Jika aku sekiranya berhasil dalam hidup. Keberhasilanku adalah keberhasilan ibu. Aku akan selalu mengingatnya.” (Hal. 89)

Penulis : Sanie B. Kuncoro

Semoga aku, kalian semua bisa mendapat sesuatu dari sini.

Kira kira kuat tidak seperti itu?? Betapa Allah Maha Segalanya telah memberikan semua yang ada di kehidupan kita.

Benar adanya bahwa di atas langit masih ada langit, begitu pula kiranya dengan tanah yang berlapis lapis. Di bawah tanah, masih ada lapisan tanah lainnya. Does it make sense??

Pelajaran hidup nomor 2 : keep in mind, di bawah tanah masih ada tanah, sedalam dalamnya lembah, masih ada lembah yang lebih dalam, bahkan palung di dasar laut. Mengeluh hanyalah membuatku tidak bersyukur, karena pada kenyataannya, banyak yang bernasib kurang beruntung daripadaku.

Bukan berarti aku membandingkan aku dengan anak anak lain, dimana aku lebih tinggi atau bagaimana, tetapi sekedar melihat kenyataan kenyataan bahwa masih banyak anak anak yang kurang beruntung lainnya untuk bisa stop mengeluh dan start bersyukur, menyadari ALLAH SWT begitu maha Pemurah.

Berlanjut ke hal lainnya,

Soal badan ya, let’s see the picture Meykke Alvia Yuntiawati, mereka itu super modal level dunia, look at their body!!

God, extremely thin!! Dan mereka bangga dengan kekurusan mereka. Oke, tidak bisa dipungkiri, banyak yang tidak suka dengan badan over kurus seperti ini. Lalu??

Aku sudah berusaha sekuat tenaga, dan hasilnya masih sama. Dan hal yang bisa aku lakukan adalah bersyukur. Kurus, it’s okay. Betapa ALLAh sudah memberikan nikmat luar biasa atasku, memberiku sepasang telinga, tangan, kaki, mata. ALLAH mengoptimalkan kinerja 5 inderaku dengan sempurna, ALLAH memberiku daya ingat dan daya tangkap, ALLAH memberiku kemampuan linguistic dan mampu mencerna grammar dengan baik, ALLAH telah memberiku hati dan pikiran untuk bisa membedakan mana yang halal dan haram, ALLAH memberiku waktu untuk bisa berkarya di dunia ini hingga detik ini, ALLAH memberiku kesempatan untuk bisa belajar menutup aurat dan menjadi pribadi yang solehah, ALLAH maha sempurna memberiku kesempurnaan dalam kapasitas sebagai seorang manusia.

Dan apakah karena tingkat ketebalan tubuh aku harus terus mencerca nasib dan keadaan??

Bersyukur, mencoba mencintai diri sendiri dan terus berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik dari segala sisi, hanya itu yang bisa aku lakukan.

Soal kulit, yes, aku lebih eksotis (aku pake eksotis aja, daripada item, terlalu vulgar) dari yang lain, dan mari kita lihat bersama..

Dan aku pun yakin se yakin yakinnya, aku lebih putih ketimbang Rihanna, dll.

See?? Aku bukan yang paling kok, masih buanyak yang lebih dan mereka bangga. Aku pun bangga. Intinya yag harus aku tanamkan di otakku adalah syukuri dan usahakan yang lebih baik yang aku bisa lakukan.

kata mutiara bilang, yang paling penting bukan keadaannya, tapi sikap kita menghadapi suatu keadaan. Punya kulit item adalah keadaan mereka, dan bangga serta PD serta berusaha untuk membuat kulit item mereka jadi mempesona adalah sikap mereka menghadapi keadaan. Oke deh mbak Rihanna, mbak Nicole, mbak Ashanty dan mbak Beyonce, you are all the wonderful women!!

Lanjut masalah materi, hal vital di dunia fana ini.

Money is not everything, but you can not buy everything without money.

Perekonomian yang carut marut membuat keadaan menjadi memprihatinkan.

Mari simak fakta di bawah ini!

Pernyataan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan 60% atau 50,15 juta orang pekerja yang dibayar (karyawan) di indonesa masih berpenghasilan rendah (Rata-rata penghasilan mereka US$ 2.284 per tahun) membuktikan hal itu. Jika setiap pekerja menanggung seorang istri dan 2 anak, maka setiap orang pendapatannya cuma US$ 1,5/orang/hari. Secara matematis, lebih dari 75% rakyat Indonesia penghasilannya di bawah dari US$ 2/orang/hari!

Artinya, sebagian besar rakyat Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. Katakanlah 1 dolar itu 10.000 an, berarti gaji mereka di bawah 20.000. Padahal kebutuhan pokok seperti beras, gula pasir, cabai, dll pun merangkak naik seiring dengan tidak menentunya cuaca akibat global warming masih lagi soal gagal panen karena hama yang menyebar dimana mana.

Sekarang sangu kalian berapa?? Ada yang kurang dari 20.000, namun ada juga yang 2 atau 3 kali lipatnya.

Pelajaran hidup nomor 1 : bersyukurlah dengan apa pun keadaanku, karena betapa ALLAH maha Pemurah dan bila melihat sekelilingku, masih begitu banyak orang yang tidak seberuntung aku dan juga kalian.

Bicara soal jumlah pengangguran, faktanya adalah memasuki 2011 pengangguran terbuka sekarang ada pada angka 9,25 juta. LIPI menggunakan istilah setengah pengangguran bagi mereka yang kerjanya kurang dari 35 jam seminggu untuk lebih menggambarkan kesejahteraan. LIPI mencatat, tingkat warga yang termasuk dalam kategori setengah pengangguran terus mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir. Dari 29,64 juta orang pada 2005 menjadi 32,8 juta pada 2010. Diperkirakan pada 2011, jumlah warga dengan kategori setengah pengangguran diproyeksikan meningkat menjadi 34,32 juta orang.

Dari sini aku bisa menyimpulkan bahwa

Pelajaran hidup nomor 3 : bekerja keraslah, ikhtiar dan tawakal, bahwa aku harus menjadi orang yang sukses dan tidak terjebak menjadi salah satu orang di dalam 34,32 juta itu.

Aku tau bagaimana bapak dan ibu memeras keringat untukku dari aku segede anak kelinci sampai sekarang setinggi jerapah begini, alangkah bodohnya aku kalau kuliah telatan dan akhirnya bolos (aku banget T.T), alangkah tidak tau diri aku kalau mengerjakan setiap tugas dengan setengah hati, alangkah tidak bersyukurnya aku kalau terus bermain dan tidak bersungguh sungguh menimba ilmu.

Tujuan aku menulis semua ini : setiap kali aku merasa sangat terganggu dengan segala ujian hidup yang ada, saat aku merasa berada di palung laut, akan aku baca tulisan ini, dan menyadari betapa hidupku patut aku syukuri dengan segala kelebihan dan kekurangan yang diberikan Allah SWT.

This is me.



GOD knows who I really am, and I love my GOD, ALLAH SWT.

Terimakasih telah membaca, silahkan kalau ingin berkomentar.

Semoga tulisan ini berguna bagi kalian yang membacanya.

5032011..10:21 PM

Beloved bedroom.

Referensi :

http://diifaa.multiply.com/

http://ayomerdeka.wordpress.com/

http://www.pks-jaksel.or.id/

http://ekonomi.kompasiana.com/

http://lowonganterbaru.uni.cc/

http://www.diary-kenzie.com/

http://www.voa-islam.com/

No comments:

Post a Comment