Monday, 7 February 2011

sepotong pelajaran dari sahabat




Kemarin aku bertemu dengan sahabat karibku yang sudah bersahabat sejak SD kelas tiga. Melihat kehidupannya saat ini, mengispirasiku untuk menulis cerita ini. Masih ingat dengan sangat lekat, dahulu kita sering bermain bersama, mengumpulkan cengkih bersama saat panen cengkih tiba, sering bermain di sungai bersama dan mencari sebatang lidi berwarna hitam yang sering kita sebut ‘tuding’ untuk mengaji, atau pesta nasi goreng di rumahnya dengan cabe yang masyaAllah banyaknya, menyukai orang yang sama saat duduk di kelas 6 SD, tau sendiri bagaimana masa SD emang salah satu masa terindah. Bermain dan bermain, berbanding terbalik dengan sekarang, no time to play game.

Berbanding terbalik juga dengannya, dulu dan sekarang. Menggunakan daster dan menggendong bayi perempuan mungil yang baru 2 bulan dilahirkannya. Tak bisa aku bayangkan bila aku menjadi dirinya, dalam usia masih 19 tahun sudah menimang bayi dan kehilangan masa muda secepat itu. Namun, hidup kita memang berbeda. Dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di sebuah pesantren milik Haji fenomenal yang dulu sempat menggemparkan Indonesia karena ulahnya. SMP dia habiskan dengan berjibaku di sana. Saat aku beranjak SMA, dia sudah bekerja. Hari gini nggak ada uang, mana bisa pintar??
Pemerintah yang menggalakkan sekolah gratis juga hanya isapan jempol. Dia tidak bisa melanjutkan sekolah karena memang minimnya gaji ayah dan ibunya, ditambah mahalnya biaya sekolah. Di usianya yang belasan tahun dia sudah mengadu nasib menyeberangi samudera, pulau seberang sebagai sales kuningan dengan pemilik yang sama dengan pesantrennya terdahulu, haji fenomenal. Pemikirannya jauh lebih dewasa ketimbang usianya. Dia pernah bercerita kepadaku kalau dia ingin menikah, saat itu aku masih SMA dan sama sekali abu abu soal pernikahan. Masih bermain dengan para sahabat, menikmati masa muda, dan dia sudah berjibaku, bermandikan peluh demi rejeki, dan kini dia ingin mengakhiri masa lajangnya, secepat itu, semuda itu.

Harapannya terwujud, dan sekarang dia sudah memiliki seorang anak mungil yang membuatku terkesima dan terheran heran. Satu yang aku pikirkan, bagaimana bisa dia, teman yang dahulu bermain layangan bersama, bermain di sawah bersama, sekarang sudah bisa memproduksi seperti itu? Subhanallah….

Namun, karena dia dan suaminya bertemu saat menjadi sales kuningan, menikah di sini, dan belum menjadi sales kembali. Itu berarti mereka masih nganggur, dan siapa yang akan membelikan susu, popok, dan piranti bayi lainnya?? Akhirnya dia berencana untuk menyeberangi lautan lagi, mengadu nasib di pulau seberang lagi, dan itu berarti mereka harus meninggalkan anak tercinta. Hidup terasa sulit bagi mereka sekarang. Hidup adalah pilihan, dan mereka harus memilih. Semuda dia, 19 tahun sama sepertiku sudah berfikir sedewasa itu, sudah sangat berbeda cerita hidupnya denganku, dengan kita.
Bisakah kita bayangkan andai nasib mengantarkan kita pada cerita yang sama?? Bisakah kita bayangkan bagaimana seandainya kita adalah sahabat karib tercintaku itu??

Kita masih berjibaku dengan buku dan segala kesibukan yang ada, dan dia sudah berjibaku dengan pilihan hidup yang sulit demi sesuap nasi. Kita masih bisa bersenang senang sebagai anak muda belia dengan segala kesenangannya, dia sudah menjadi ibu dan berfikir berpuluh puluh kilometer ke depan. Menjadikanku sadar akan arti bersyukur. Bersyukur yang sebenarnya, bersyukur karena aku terlahir menjadi seorang meykke, walau pun terkadang mengalami keadaan yang sulit, terkadang hampir putus asa, terkadang rasa rasanya tidak sanggup lagi, terkadang hampir tidak jauh beda dengannya, tetapi sampai detik ini aku masih bisa pergi ke kampus, menyimak pelajaran dari dosen, merasakan tempat duduk lipat yang waktu SMA selalu aku impikan, menjadi anak 19 tahun yang semestinya, menuntut ilmu.
Sahabat karibku memberiku banyak pelajaran. Sungguh aku harus memanfaatkan masa masa ini sebaik mungkin. Bersyukur dan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik dari kapasitas diriku sendiri.

Beda lagi dengan tetanggaku yang satunya, dia adik kelasku. Saat ujian nasional beberapa bulan lagi akan berlangsung, dia justru keluar dari sekolah. Dia lebih pintar dariku, saat SMK pun dia menjadi peringkat kedua parallel di sekolah, dia sangat rajin belajar dan agak introvert. Namun, kepuasaan yang katanya sesaat menghancurkan semuanya. Dia keluar sekolah karena hamil, akibat pacaran yang sudah tidak pada batasnya. Balik modal sudah tidak mungkin, gadis pintar itu tidak lulus SMA secara otomatis. Kini, dia hanya mengurus anaknya yang masih balita di rumah. Harapan harapan yang dahulu mengakar di otaknya dicabut dengan paksa, kenyataan sangat berbeda dan dia harus melaluinya.

Memberiku pelajaran untuk terus menjaga diri, selagi muda….. masa yang paling produktif dalam menggapai masa depan cerah, titik langkah awal untuk sebuah kesuksesan, dan aku berjanji akan selalu menjaga apa yang harus aku jaga, membangun sebuah kesuksesan dengan terus bersyukur, berusaha dan juga menjaga.

Suatu hari, sekali lagi Bapak akan bangga padaku. Mendapatkan apa yang aku inginkan, mencapai titip pencapaian tertinggi yang tidak terbayangkan sebelumnya, dan tetap rendah hati dan saling menolong.

Untuk sahabat karibku, sahabat masa kecilku, saat aku sudah menjadi orang nanti, kamu tidak akan lepas dari ingatanku, dan aku akan melakukan apa yang bisa ku lakukan untukmu, seperti saat kamu mengajariku mengaji dahulu itu, menjadi teman pertamaku saat aku menjadi penghuni baru di desa ini, mengajakku pit pitan tiap sore bersama yang lain, menjemputku untuk berangkat bersekolah bersama, menjadi ustadzah bersama di TPA dahulu itu,mengejarkanku banyak hal yang sangat tidak mungkin aku lupakan, wahai sahabat…..

Semoga hidupmu indah lusa,semoga Allah memberiku kesempatan untuk berterimakasih padamu, semoga aku bisa melihatmu tersenyum lebar esok hari, semoga kita berdua, kita semua bahagia…..

Rasanya ada silet di hatiku, tajam sekali.
Wanna give a big hug for my lovely close friend ever.. see you when u come back again, will wait you, sorry because I almost never meet you or your beautiful cute little baby.. >.<

Thx for reading! 1.2.2011 7:11 AM Lovely bed in the morning….

No comments:

Post a Comment