Thursday, 24 February 2011

sekilas cerita 16.02.2011




Today is such a long long day!! Berangkat pukul 8an karena Introduction to Literature menunggu untuk dikuasai ilmunya jam 9 tepat. Karena memang lupa akut dan terburu2 akhirnya tugas yang harus dikumpulkan pun ketinggalan di rumah dan harus mengumpulkan besok pagi, atau nilaiku akan di diskon. GAswat!

Pagi pagi sudah disuguhi dengan pemandangan bis yang seperempat bagiannya sudah di ambang sungai dekat tikungan Ngisrep yang dahulu pernah masuk tipi. Dulu puluhan orang tewas terkena bis yang mundur saat mereka menghadiri salah satu resepsi di rumah yang memang persis berada di bawah kuburan yang juga di pinggir jalan, jalan menanjak dan meliuk tajam. Kini, bis pun menjadi korban. Untung semua selamat. Terlihat para wanita berjilbab berebutan keluar bis. Andai bis tidak menabrak pembatas jalan, entah apa yang terjadi. Alhamdulillah semuanya selamat.

Sampai juga di kampus. Inlit lancar, disusul dengan Introduction to Linguistic yang juga indah setelah sebelumnya 3 jam nganggur. Beruntung sekali punya teman named Widha, anak asli Purwodadi yang baik hati, tulus budinya, dermawan sikapnya, dan kelihatannya juga suka menabung. Menitipkan badan sejenak di sana setelah Inling selesai sambil makan nasi bungkus dan juga kopi panas. U know, I always feel energized and feel much better everytime I drink coffee…. I drink coffee everyday anyway… sebagai hiburan, Wida mempersembahkan film luar biasa untukku, sangat menghibur dan menenangkan pikiran. Final Destination 4!! Lalu karena waktu tinggal sedikit sebelum magrib, dengan begitu bersemangat dia memotong bagian bagian dan hanya menyuplik saat saat satu per satu pemainnya mati mengenaskan. Yang terbakar sambil terseret truknya sendiri trus meledak terus kepalanya terlempar, yang kebalang batu matanya sampai matanya copot, yang kecepit di lift sampai badannya ancur. Terimakasih lho wida, sangat membantu merefreskan pikiranku!! (Oh Tuhan…..sadarkanlah Wida, seharusnya aku nonton Spongebob saja, atau Doraemon, atau Ipin Upin juga boleh.)
Tapi ni, btw kata Anon, Success is a ladder that cannot be climbed with your hands in your pocket, mameeeeet……
Aku yakin struggle macam ini pasti ada upahnya. Apa pun yang kita lakukan, kita usahakan, pasti ada imbalannya.

Lanjuuuut….

Mendekati magrib, aku kembali ke kampus. Sepiring nasi dan segelas kopi memberiku energy hingga energy tertinggi, semangat seakan terpatik seperti korek gas yang dipencet tombolnya. Saatnya mentraining para LO, sekalian latihan mengajar dan terbiasa berbicara di depan orang banyak. Sudah aku putuskan, aku akan menjadi guru yang berdedikasi tinggi. Karena setelah aku telaah tentang diriku, bagaimana aku merasa bahagia tiap kali berhasil presentasi, bagaimana aku ingin berbagi ilmu dengan orang lain, bagaimana berbicara di depan orang banyak membuatku selevel berkembang dan mendapatkan kepuasan. insyaAllah, a qualified teacher!!May Allah bless me…bless you all as well, everybody…jadi aku jadi guru, sambil jadi guru les juga, dan juga pengusaha trus nyambi jadi penulis juga. Amiennn…..
Jangan dianggap remeh impian lho, kata Om George Lucas aja

“ Dreams are extremely important. You can’t do it unless you imagine it”

Lagian dengan ditulis sedemikian rupa, tiap aku lagi ngeper alias nge-down, akan aku baca, dan tralala…it can be a mood booster!! Trust me, it works!! :D

Lanjuuuuut….

Dan Lo meeting berjalan dengan lancar. Jam menunjukkan pukul 8 dan it is time to go home, dan hujaaaaaaaaan. Sedialah payung sebelum hujanlah, pelajaran hidup nomor 51 dan itu tidak pernah aku lakukan. Dengan spirit of kepepet, sendirian dan tanpa teman akhirnya aku menerobos hujan. Global warming menampakkan kuasanya, cuaca tidak bisa ditebak, persis seperti moodku. Labil.

Karena hujan tiba tiba segede jagung, akhirnya aku harus berteduh di konter di salah satu toko kecil yang berjejeran di sepanjang jalan depan kampus.
“Mbak, duduk situ aja nggak papa, mbak.
Liat aku yang agak memprihatinkan, masnya tergugah untuk sedikit meringankan bebanku, yaitu menyuruhku duduk. Meringankan beban tasku. 5 menit kemudian, hujan segede jagung tapi yang masih muda, aku mencoba peruntungan dengan berlari ke kedai nasgor setan yang buka setiap sore sampai jam 11 an atau sehabisnya nasi. Nasi goreng dengan rasa pedas luar biasa, hanya saja setelah harga cabai naik, rasa pedas menurun drastis. Ditarik pada satu kesimpulan bahwa si ibuk tidak menanam cabai sendiri. Pelajaran hidup ke-36 : menanamlah cabai di kebun rumah!!

Lagi lagi melihat aku seakan tidak berdaya melawan hujan segede jagung, apalagi setelah tahu kenyataan bahwa aku akan pulang ke Ambarawa yang mana 25 km jauhnya, si bapak nasgor yang kemarin dulu waktu aku pesen kopi panas sekonyong konyongnya dihidangkan kopi hitam dengan asap berkilat kilat di atasnya, sungguh, semerbak harumnya, berasa kayak mbak dukun seketika. Kini, si bapak tak kalah canggihnya, tanpa terelakkan mengambilkan beberapa lembar Koran dan menyodorkan kepadaku.
Versi sinetron Amira dan Meykke :

Bapak NAsgor : "Nak, bawalah ini untuk bekal perjalananmu, berlindunglah di bawahnya."
Meykke : "oh, tidak usah bapak. Saya sudah terlindung oleh sehelai jilbab berwarna merah ini".
Bapak Nasgor : "percayalah padaku nak, pakailah ini, hanya ini yang Bapak punya. Sungguh…tulus ikhlas bapak berikan ke padamu. Niscaya kamu tidak kehujanan, niscaya Koran ini akan menjadi petunjuk arah pulang."
Meykke : "terimakasih Pak Prabu, jangan jangan aku anak Pak Prabu, apakah aku putri yang ditukar???"

Berlari larilah aku dengan beberapa helai Koran di atas kepala, dan berhenti di depan toko kecil yang dahulu buat mangkal aku nunggu bis tiap pulang sekolah. Terlihat ibu ibu berjilbab dengan 2 tas besar dan 1 kardus berukuran sedang di sisi kanan dan kirinya. Perjalanan jauh, batinku.

pulang mana mbak?” “Ambarawa, buk. Lha ini pulang kemana bu?” “Lombok mbak.”
Aku syok. Se frontal itukah si ibu mengatakan hal ini? Sebegitu nampakkah hal ini??
“Apa bu” “Dari Lombok, mbak…mau ke rumah besan. Saya dapat mantu orang Jawa, blab la blab la….”
God, Alhamdulillah….ternyata tidak ada Lombok di gigiku, tadi makan nasi bungkus dengan masakan berlombok di dalamnya. #kriukkriukgaring

Tidak berselang lama si Ibu menceritakan kalau mau ke rumah besan, kalau selasa subuh berangkat dari Lombok dan sampai di kemiri ini Rabu malam, cerita perjalanan naik kapal dengan waktu tempuh di kapal 5 jam, masih menurut dia kalau Banyuwangi-Bali sih Cuma memakan waktu setengah jam saja. Lalu, cerita tentang pantai pantai di Lombok yang eksotis, paling terkenal adalah Pantai Sanggigi, tentang punggungnya yang capek karena duduk terus selama perjalanan, dan juga kehebatannya yang sudah hafal rute dari Lombok sampai ke Kemiri, Salatiga.

Si anak sudah datang, dan Ibuk berlalu. Semoga besok kita bertemu saat saya honeymoon di Lombok ya, bu. Semoga diberi umur panjang….:)

Perjalanan diteruskan saat angkot akhirnya melewati Kemiri, aku beserta 2 mbak senior yang tiba tiba muncul saat aku nyegat bis setelah bertemu Ibu Lombok, naik angkot dan senang. Bedroom, I’m coming!!!
Di terminal bawen, seperti biasa, akhirnya aku turun, dan kembali naik angkot untuk bisa sampai di Pauline, Ambarawa.
Menunggu sejenak dan akhirnya Ayah beserta 2 lovely sister datang, dan pulang!
Amazing day!!
16022011..10:55PM
Lovely bed..

kelaparan!!





Saya kelaparan!!!!

Bagaimana?? Hidup Anda baik baik saja?? Makan tiga kali sehari buat yang normal, 4 sampai 5 buat yang doyan, atau 1 sampai 2 plus apel buat yang lagi diet?? Pije?? Bisa beli baju incaran atau aksesoris yang lagi ngetren??

Waaaah, beruntung ya jadi kita? Pernahkah berfikir tentang orang banyak di luar sana?? Yang makan sehari sudah cukup, tidur di rumah reyot kalau keujanan ikut basah, kalau panas ikut sumuk sudah cukup, ganti baju kalau belum lethek2 amat belum ganti sudah cukup, makan sekali itu pun makan nya kadang nasi sisa milik tetangga yang dikeringin trus dimakan lagi sudah cukup, atau kadang ketela pohon atau pun sego jagung sudah cukup. Beli baju setahun sekali itu pun kalau ada yang mau ngasih utangan sudah cukup. Serba yang tidak cukup dicukup cukupkan. Wajah murung di belahan lain Indonesia dan dunia. Simak berita berikut, teman!

KINSHASA, KOMPAS.com - Menteri kesehatan Republik Demokratik Kongo (DRC) mengatakan sedikitnya 700 anak yang berusia di bawah lima tahun meninggal akibat kelaparan setiap hari di lima provinsi yang dilanda kerusuhan di negeri itu. Di Aceh 29 anak meninggal karena busung lapar sementara 1.336 lainnya kena busung lapar. Sebanyak 340.056 jiwa dari total 990 ribu penduduk Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur masuk dalam kategori keluarga miskin, yang berpotensi menderita gizi buruk.(Media Indonesia) Ada 5,1 juta balita bergizi buruk dengan 54 persen atau 2,6 juta jiwa terancam kematian seperti ditegaskan Dr. Yosep Hartadi (Lampung Post). TEMPO Interaktif, Jakarta:Direktur Program Pangan Dunia (United Nations World Food Programme ) Indonesia, Bradley Bussetto mengatakan saat ini lebih dari 850 juta orang di dunia menderita kelaparan kronis, 820 juta diantaranya tinggal di negara berkembang. "Setiap 5 detik, 1 orang meninggal dunia akibat kelaparan di Asia," katanya dalam jumpa pers Fight Hunger: Walk the World, di Wisma BCA, Jakarta, Rabu.

Bandingkan dengan kita atau Anda. . . buat yang cewek, sukanya shopping baju rata2 per piece 100 ribuan atau aksesoris at least 5ribuan masih yang gila tas atau sendal yang modelnya ga ketulungan bagus, maem di café yang kalau steak 8 mpe 20ribuan masih ditambah macem2 juice 4 mpe 8 ribuan, gaul di mall mungkin, masih beli aneka cairan kecantikan meliputi hand body, parfum yang sekecil botol minyak kapak 10ribuan,sabun cair bermerk, bedak nggak ketinggalan plus lipstik, lipbalm atau pun lipgloss. Yang cowok, ngegame dari pagi mpe malam dengan biaya 3000 perjam, atau ngrokok 3 bungkus dengan harga perbungkus 6ribu sampai 20 ribu paling mahal. Dudu, aku bukan pingin bilang, so. . .buat feel what they(poor people) feel, don’t go shopping,have a meal in café,etc!!! jelas dudu. . . hak kita untuk hidup senang as long as we can. . .

Coba, sekarang pikirkan sejenak andai Tuhan memutarbalikkan nasib kita. Andai kitalah yang dengan bermodalkan kemucing dari mobil ke mobil pas lampu merah, atau menyumbangkan suara sumbang buat minta sumbangan uang dari bis ke bis atau menyodorkan amplop dari jok ke jok bis.
Seperti siang dan malam, hidup ini pilihan. Dalam masalah ini, Tuhan telah memilihkan kita seperti ini nasib kita. So???

Dudu, aku bukannya pingin sok jadi malaikat yang sok2 ngasih saran buat saling berbagi, sok2 baik buat nggak pelit pelit ma orang lain,dudu. . .aku Cuma share apa yang aku amati, lihat, rasakan akhir akhir ini. Sering liat ibu2 yang banyak jentol2nya kayak manusia akar di TV suka minta minta di sekitar kampus, mbah2 yang dulu pernah kegilas dikit kakinya ma mobil babi pas minta2 di depan SMAku sering pas ujan ujan bawa keranjang dari tempat sampah ke tempat sampah lain, ngorek ngorek sampah, ngambilin plastik2, pakai baju biru lusuh sama jarit lusuh plus nggak pernah punya sandal, pernah liat sepasang kakek nenek yang ga bisa ngeliat saling tuntun tuntunan minta minta dari toko ke toko, sering liat kakek kakek duduk tiap hari di pinggir jalan mau ke kampus dengan tangan gemetar megangin mangkuk tempat uang dengan seplastik teh di tangan yang lain, atau pun kakek2 cacat dengan kotak besar bertuliskan “saya orang cacat, minta bantuan untuk makan sehari hari” di depan toko Laris yang kemarin ketemu lagi pas di pasar malam, sering googling busung lapar trus ketemu anak anak kulit hitam yang kurus kering tinggal kulit sama tulang plus semangat hidup minta minta, makan sampah, walau pun habis itu aku mewek2 diliatin mas mas yang ngenet di sebelahku. Begitu banyak orang yang butuh bantuan, serpihan2 koin yang mungkin buat kita rada nggak berguna, atau kadang buat kenek2 bis gedhe yang aku sering naikin malah dibuang tiap lewat kuburan,tapi buat mereka koin koin adalah penyambung hidup hari ini.

Yang aku pelajari dari sini adalah, janganlah hidup dengan berorientasi pada diri sendiri, mengenyangkan perut sendiri, memuaskan hasrat sendiri. kita tak pernah tau, besuk masih bisa memberi atau justru minta diberi.
. Selagi masih bisa tangan di atas, sisihkan uang saku kita untuk mereka yang berjuang di jalanan demi butiran butiran nasi, demi hidung yang tetap mengembang dan mengempis hari demi hari. Demi mata yang bisa terus merajai setiap pesona yang disuguhkan Tuhan. Itu adlaah rasa syukur kita terhadap apa yang diberi Tuhan untuk kita.. Karena sesungguhnya, manusia yang bermanfaat adalah manusia yang bisa “dimanfaatkan” orang lain. Mulai sekarang kawan, berikan apa yang bisa kamu berikan. Mugi mugi Gusti ALLAH mberkahi. insyaAllah. . .

Monday, 21 February 2011

cerpen : UTUH UNTUK KAK DYLAN





Seperti biasanya, sepulang sekolah dia menungguku di depan gerbang sekolah. Dia Dylan, pacarku yang juga seorang mahasiswa di kampus yang berada tak jauh dari SMA ku ini. Setahun yang lalu, kami berkenalan di sebuah game center. Tanpa sengaja saat aku dan sahabat sahabat ku bermain sebuah game dance, dan kita bertemu di satu room dance yang sama. Setelah berkenalan lewat game, barulah aku tahu bahwa ternyata dia ada di satu game center yang sama denganku. Unik memang, sebelum kami berkenalan di room dance itu, kami sebenarnya sudah beberapa kali bertatap muka, tetapi tidak pernah betegur sapa karena memang tidak saling kenal. Setelah bermain game bersama cukup lama, dia mengundangku untuk menjadi cuple di game itu. Jelas saja aku menerimanya. Tidak hanya karena dia jago banget bermain game atau charmingnya nggak ketulungan, tetapi juga karena aku merasa nyaman, senang, betah bersamanya. Sebenarnya ada satu alasan lagi tambahan. Karena dia mahasiswa. Dari dulu aku pingin banget punya pacar anak kuliahan, serasa punya kakak dadakan. Kalau dengar temen temenku ngobrol, aku suka iri dari dulu ngejomblo mulu. Apalagi kalau mereka bilang,
“Tau nggak sih cin, kemarin gue abis dibeliin boneka lucu banget sama pacar gue yang anak kuliahan itu lho. .tahu banget gue suka ngoleksi boneka babi.”, dengan gaya ngomong dibuat buat kayak abis menangin undian berhadiah uang tunai jutaan. Girang banget! Atau. . .
“Kemarin gue abis dinner romantis abis gitu sama pacar gue. Tau nggak sih, dia itu bela belain datang jauh jauh dari Jogjakarta cuman buat ngasih surprise gue. . .”, kayak abis dinner sama Shah Rukh Khan terus dinyanyiin Kuch Kuch Hotahai aja. Lebay banget!! Cukup sudah semua itu. Dan sekarang, aku akan punya pacar. Well, mungkin belum. Ini baru undangan buat jadi cuple dia di game dance itu. Yah, tapi setidaknya awal yang bagus! Bukan begitu??
Siang itu, seperti biasa sepulang sekolah aku dan sahabat sahabatku yang mendeklarasikan sebagai Pinqueenz sejak setahun yang lalu, bermain game dance itu di game center langgananku itu. Tiba tiba Kak Dylan datang, dan langsung duduk di belakangku. Bukannya ikut bermain seperti biasa, dia hanya melihatku bermain.
“Kak Dylan, tumben nggak main. . .”, tanyaku sembari konsentrasi memencet tombol panah di keyboardku ini.
“Iya, gue mau liat lue maen aja. Gue lagi males main.”, ucapnya singkat.
“Uhm. . . .”, aku hanya bergumam.
Lama berselang, dia masih duduk di belakangku. Jelas saja aku jadi nervous dan kalah terus sepanjang permainan.
Haduuuuuuuuu, q kalah mulu ni sob. . .
Aku mengetik di game itu.
Lha napa sih Raaaaaaa . . . ., balas Shinta.
Ada gue. Tiba tiba tangan Kak Dylan melingkar di bahuku dan langsung mengetik. Aku terkejut. Sesaat tak sengaja aku mencium aroma parfum Kak Dylan yang khas.
“Cool banget ni mas mas.”, pikirku saat itu. Jelas saja dadaku berdegup kencang tak karuan, bahkan, saking kencang nya seakan aku bisa mendengar beat jantungku sendiri. Setelah mengetik, dia ke posisi semula, masih dengan gaya coolnya, dan aku masih dengan gaya syokku. Beberapa detik aku mematung.
Lo? Kamu ma siapa Ra??, tanya Dwina. Walaupun kami di game center yang sama, tapi sayangnya hari itu kami tidak bisa mendapat komputer satu ruang, alias berbeda ruangan. Jadilah mereka tidak tahu betapa kerasnya degup jantungku.
Ada Kak Dylan.
Cieeee cieeee ternyata Sara sama Kak Dylan. . . . Mereka kompak.
Apaan sih kalian, ngawur!! Aku mencoba menghentikan mereka yang terkadang kayak mercon pas lebaran. Menggelegar, tak karuan, terus terusan.
Cieeee. . .cieeeee . . .udah de Ra. . .kami tahu kok, khan kamu udah pernah cerita ke kita soal. . . .
Tuh khan mereka nerocos mulu seakan ingin membunuhku di depan Kak Dylan.
Kalian apaan sih, nggak lucu!! Kurasakan kuping dan wajahku mulai memanas
Udah Kak Dylan, tembak ajah tuh si Sara. .
“Pasti kak Dylan bakalan illfeel liat kelakuan mereka. Mati akuuuuuuuu. . .”, batinku.
Emang mau gue tembak. Tiba tiba untuk kedua kalinya Kak Dylan yang totally cool melingkarkan tangannya dari belakang dan mengetik untaian kata yang bikin jantungku hampir copot itu.
Coba cubit aku, siapa tahu aku lagi mimpi!
Huaaaaaa. . . .beneran ni Kak?? Tanya Bella kegirangan.
Iya. Sara, gue suka sama lue. Mau nggak lue jadi pacar gue??, ketiknya sambil mengeja seakan menekankan setiap kata yang dia ketik. Dan ingat, masih dalam posisi meluk aku dari belakang. Baiklah, nggak meluk juga sih, orang Cuma ngelingkarin tangan.
Aku terdiam, menyelami pikiranku yang tiba tiba bersetting taman bunga warna warni di musim semi yang kayak di film film India. Aku pakai sarree, terus kejar kejaran di antara bunga bunga kuning. Tumpaseae. . . .
Kak Dylan melihat ke arahku. Pipiku makin merona melebihi pipi cewek cewek di iklan krim wajah yang sering aku lihat di TV TV.
“Loe jawab aja lewat itu. Ketik iya apa nggak. Yang jelas, gue serius bilang itu. Daritadi gue Cuma di belakang loe juga gara gara mau ngomongin perasaan gue itu sama lue.”, ucapnya lugas, tapi mengena. Jelas aku tidak mampu mengarahkan mataku ke mata teduhnya. Bisa bisa aku meleleh.
Beberapa menit berlalu, dan aku masih mencoba “menyadarkan” diriku. Meyakinkan diri bahwa ini bukanlah sebatas mimpi. Seperti dugaanku sebelumnya, ketiga temanku itu mulai gaduh.
“Terima!! Terima!! Terima!!” Mereka sekarang berteriak teriak dari ruang game sebelah dan mengacuhkan orang orang sekitar yang mulai mengerutkan dahi.
Berisik!!
Pelan tapi pasti, jemariku memencet tiga huruf.
I.Y.A
“Horeeeeeeeeeee. . . . .” Mereka gaduh lagi, sepertinya lebih girang mereka daripada aku. Dan pelan tapi pasti juga tangan Kak Dylan mengusap rambutku. Dia tersenyum padaku. Aku klepek klepek.
“Ra, sekarang tanggal berapa??”
“16 September, Kak. . .” ucapku semenit kemudian setelah aku mengecek tanggal di HPku. Mana ingat aku sekarang tanggal berapa. Itu setahun yang lalu. . .

Ingatanku buyar seketika saat Kak Dylan masih dengan senyum khasnya melambaikan tangan padaku. Aku membalasnya. Seperti biasanya kami makan siang di café dekat game center langganan kami.
Seperti biasa juga dia memakai celana belel plus kaos putih polos. Putih adalah warna kesukaannya. Tak lupa juga sendal jepit hadiah ultahku tahun lalu yang terlihat semakin akrab dengan kakinya yang jenjang. Setelah aku ingat ingat, di tidak pernah memakai sendal lain selain sendal bergambar tengkorak hadiah ulang tahun dariku itu. Betapa cintanya dia sama sendal dariku itu, sepertinya.
Kalau cinta sama aku, tunggu dulu. Seingatku dia tidak pernah mengucapkan suka lagi setelah tanggal 16 September tahun lalu.. Saat hari anniversary pun dia tidak ingat. Dia hanya mengajakku makan seperti biasa. Setelah aku mengingatkannya, barulah dia ingat dan hanya sekedar minta maaf. Moodku keburu terjun bebas. Aku makan kelewat lahap dan langsung mengajaknya pulang. Sehari setelah tanggal 16 September, yaitu hari ini, dia mengajakku ke café itu lagi, seperti tidak terjadi apa apa hari kemarin.

Tak bisa dipungkiri sebulan ini aku sedang gundah gulana. Bagaimana tidak? Anak pindahan dari Jakarta itu charming, ganteng, mempesona dan hebatnya lagi sudah sebulan ini aku duduk sebangku dengannya.
Hatiku mulai goyah tampaknya.
Tora, itu namanya, sangat perhatian padaku sejak kita berkenalan dan duduk sebangku. Belum apa apa dia sudah sering mengirim SMS kepadaku sekedar tanya aku sedang apa, udah makan belum, sapaan romantis lainnya. Kalau Kak Dylan, jangan ditanya. Kita jarang, bahkan hampir nggak pernah SMS an. Paling pol ditelpon dia pagi pagi buta pas aku masih mimpi.
Kalau aku baca di majalah, Kak Dylan itu tipe pacar cuek, tepatnya cuek bebek . Cuma seminggu sekali dia nunggu di depan gerbang sekolah dan mengajakku makan. Kemarin dua kali berturut turut karena tampaknya dia sedikit merasa bersalah gara gara lupa hari anniversary kami.
Kini datanglah Tora di hatiku.

“Tanda alam banget khan, Sob. . . namaku Sara Pratiwi. Dan dia, Tora Pratama. Cocok banget khan kita. . . .” celotehku di kantin siang itu. Mereka hanya menatapku sambil geleng geleng.
“Jangan gitu Sara. . .inget, kamu punya Kak Dylan, ntar nyesel lho. . .”, timpal Dwina.
“Ah, Kak Dylan. . .beda banget sama Tora. . .Kayak bumi dan langit. Tora langitnya, Kak Dylan buminya. . .” jawabku sembari membayangkan sosok mereka berdua.
“Tapi udah setahun juga kamu sama Kak Dylan, Ra. Apa nggak sayang kalau akhirnya kalian break up Cuma gara gara Tora yang baru kamu kenal sebulan ini??”
“Sebulan itu udah cukup buat aku tau kalau Tora itu lebih romantis, lebih baik, lebih perhatian, dan lebih nyenengin daripada Kak Dylan” Aku nggak mau kalah untuk mempertahankan seorang Tora di depan mereka.
“Aku sih Cuma mau bilang sama kamu, jangan sampai nyesel ntarnya, Ra.”, tambah Shinta dengan muka setingkat lebih serius.
Aku hanya mengangkat pundakku.
“Kita lihat aja nanti. Kalian semua khan tahu, dari dulu aku ngidam ngidamin pacar yang serius. Dan Toralah orangnya.”

Benar saja, makin lama aku dan Tora makin dekat. Bisa dikatakan kami TTM-an. Aku jelas lebih senang menghabiskan waktu dengan Tora yang super romantis. Seminggu sekali bertemu dengan Kak Dylan, masih dengan agenda yang sama. Makan siang di café dekat game center langganan. Sekarang pun aku dan PinQueenz sudah tidak lagi menyambangi game center, terbentur dengan jadwal sekolah dan les yang semakin padat.

Hari ini tampaknya cuaca sedang tidak bersahabat.
Sepulang kerja kelompok bersama teman sekelasku, hujan turun dengan derasnya. Karena aku lupa bawa payung, terpaksa aku harus menunggu hujan reda. Tetapi bukannya reda, hujan justru semakin deras, dan sekarang disertai angin kencang. Terbersit di pikiranku untuk menelepon Tora.
“Wah, makin romantis aja aku ma dia ni pasti, ujan ujanan bareng kayak film India.” Khayalku kegirangan. Aku tekan nomor Tora. Sesaat kemudian, terdengar suara Tora dari kejauhan.
“Napa sih Ra??”, ucapnya ogah ogahan.
“Nggak Tora, Cuma mau minta tolong aja. Ini khan ujan deras banget. Aku abis kerja kelompok bikin Fisika bareng Tina sama Rini. Mereka udah pada pulang, tapi aku nggak bisa pulang soalnya aku juga nggak bawa payung. Kamu khan punya mobil, bisa nggak kalau. . . . .” Belum juga aku meneruskan kata kataku, Tora sudah memotongnya.
“Sory banget ya Ra, nggak bisa. Perutku gi sakit, mules kemarin makan bakso kepedesan. Udah dulu ya, Ra. . .” Dia menutup telepon begitu saja.
“Sejak kapan Tora doyan pedes? Perasaan dia paling anti sama cabe. Mengada ada. Manisnya Cuma di bibir saja!.”, gerutuku.
Hari semakin sore, dan sialnya hujan semakin deras.

Kak Dylan, bisa nggak jemput aku di sekolah?
Aku terjebak ujan.

Dengan ragu ragu aku mengirim SMS itu. Perasaan bersalah seakan menyelimutiku. Sejurus kemudian, HPku berdering. Kak Dylan calling.
“Loe dimana, Ra?”
“Sekolah, Kak. Daritadi aku mau pulang nggak bisa. Ujannya kelewat deres.”
“Kenapa nggak SMS daritadi. Gue bentar lagi ke sana. Tungguin.”
Sepuluh menit kemudian, seorang cowok jangkung bersandal gambar tengkorak menghampiriku dengan motor Tiger nya. Tak pernah habis ke-cool an Kak Dylan, pikirku.
“Udah lama loe nunggunya??”, ucapnya sembari menyikap kaca helmnya. Aku lihat dari mukanya, dia sedikit pucat.
‘Udah, Kak. Pucat gitu kamu sakit??”, tanyaku cemas. Aku tak ingat lagi kapan terakhir aku cemas padanya. Akhir akhir ini aku sebal padanya, dan hampir menyesal mau jadi pacarnya.
“Napa loe nggak bilang dari tadi? Gue nggak apa apa. Cepet naik. Ni pakai helm sama mantelnya.”, aku menuruti kata katanya. Segera aku pakai helm, dan mantel yang dia berikan padaku. Tapi tumben banget, aku nggak bisa memasang tali pengait helmku. Segera dia menarik tanganku perlahan dan membetulkan tali pengaman helmku. Aku dengar lagi degup jantungku, persis saat dia melingkarkan lengannya di bahuku, setahun yang lalu. Sepanjang perjalanan aku dengar sesekali dia batuk batuk. Ah, bahkan aku tak tahu kalau kak Dylan sedang sakit. Pacar macam apa aku???
Tiba tiba terlintas di ingatanku saat Kak Dylan menjemputku di rumah dan mengantarku ke pesta ulang tahun temanku. Pulangnya, dia balik lagi ke rumah temanku dan menjemputku lagi.
Teringat saat Kak Dylan repot repot ke rumahku pagi pagi buat jemput aku dan mengantarku sampai sekolah untuk pergi berkemah.
Pelan pelan aku kaitkan jariku di depan perut Kak Dylan. Bodohnya aku yang dibutakan oleh definisi romantis. Rasa bersalah menjalariku, baru aku sadar aku juga bukanlah pacar yang baik untuknya. Aku hanya ingin kesempurnaan dari dirinya, tanpa memikirkan tentang apa yang sudah ku lakukan untuknya. Tak ada. Aku hanya menuntutnya, dan saat dia tidak bisa memberikan apa yang aku harapkan, aku mencari di tempat lain, tanpa memikirkan perasaannya. Bodohnya aku.
Bagai tersadar kalau memang Kak Dylan dan Tora sungguh sosok yang berbeda.
Kak Dylan memang masih bilang ‘loe gue’ walau kita udah pacaran, tak pernah ada SMS SMS romantis atau pun kata kata romantis yang meluncur dari bibirnya, apalagi puisi romantis yang diselipkan di buku Kimiaku. Seperti apa yang dilakukan Tora kepadaku.
Tapi, Kak Dylan rela hujan hujan untukku, sudah di depan rumahku pagi pagi buta, telpon pagi pagi untuk memastikan aku bangun pagi. Ada di saat aku butuh. Jelas mereka berbeda. Seperti langit dan bumi. Tapi kini, Kak Dylan langitnya, Tora buminya. Aku tempelkan kepalaku di punggungnya yang bidang. Benar semua yang Bella, Shinta, dan Dwina katakan. Jangan sampai aku menyesal. Tangan Kak Dylan menggenggam tanganku yang melekat erat di perutnya, dan airmata sudah mengumpul di pelupuk mata.
“Ini adalah hal paling romantis yang pernah aku rasakan. SMS romantis, puisi cinta, lewaaaaaaat. . .”
aku pererat dekapanku, dan aku kumpulkan lagi cintaku. Untuh untuk Kak Dylan.

to be different doesn't mean we have to be apart


Sometimes we are in troubles, and in another time, we can get along well. It is the way we build a relationship, and today, you are so sweet…..

I love you I love you more than before, the more we pass the days, the more I can not stay away from you, wanna hold you and stay so closed with you…

So naïve as to pretend that we are the same, because the reality shows the opposite, we are not same. Everything is different, baby…. We are not same at all…

Can not close my eyes and then say that there is no difference between us, and there is a big big gap indeed. Like I stay near the beach and you stay far far away in the top of a mountain. You like this one, I like another one. You like the moon, I choose the stars. Different, baby….

But, everything grows….. situation can be changed…

One day I can stay near the mountain, then I can climb the mountain to stay with you.

One day we can like all we do, you like what I like, and the other way around..

Everything will be OK, won’t it?

Hopefully yes, because 3 years are not a jiffy, it takes a long long time, and it is no longer ‘witing tresno jalaran ra ono sing liyo’. What I feel is more more that that. It is more than a common love. You are so special, like today….very very special, for me.

Thank you because you accept me, all things inside me, without wanna change everything. Me is me, you are you. To become together doesn’t mean to be the same. And we know for sure, we have the same thing. And the only same thing is our love. I love you, you love me.

I don’t know what will happen in the next years, because a long long road is waiting us to pass, I just have a hope. a hope that you surely know what it is.

Hopefully we have a happy ending, hopefully I can change everything that should be changed, and I can climb that mountain, mountain where you stand steadily, and we can stand together until the end….


Thursday, 17 February 2011

a bunch of red red flowers!!



Valentine? Walau pun valentine bukan berarti yang gimana gimana buat aku, tapi juga bukan seseorang yang anti Valentine atau apa pun itu, karena memang Valentine day atau pun bukan, semuanya berjalan biasa biasa aja. Tapi, ada yang tidak biasa. ingatanku melayang pada tahun 2008, 14 Februari saat aku masih duduk di kelas 2 SMA. Let me share my funny story or whatever it is for you all guys!!

Suatu hari aku pergi ke sekolah dengan letih, lemah dan lesu. Tiba tiba tanpa diduga, dinyana, di guess, waktu aku dengan asyiknya mau beli gorengan di kantin sekolah, ngomong ngomong gorengan kesukaanku adalah samarinda( nangka dikasih tepung terus digoreng) atau rolade (daun singkong digoreng), ada seseorang lelaki, dari kelas sebelah, datang ngindik ngindik di pintu (waktu itu aku duduk paling depan pojok kanan samping pintu persis) bersama temannya, dan tiba tiba, waktu guru Bahasa Jawa, bu Ning sudah selesai mengajar, entah dia habis tertemplok makhluk darimana, sekonyong konyong dia mendekatiku dengan a bunch of totally red flowers on his hand! Bunga beneran, bukan bunga plastic atau pun bunga bank (sebenarnya yang paling aku suka bunga tipe terakhir :p). langsung deh itu, massa berkerumunan tak terelakkan di bangku depan yang aku duduki. Berasa aku bawa magnet segepok dan mereka bawa besi dengan tingkat induksi sempurna. Aku dikerumuni, dan andai aku ini agak putihan pasti pipiku udah kayak tomat dijus ditambah sambal ABC rasa tomat. Blushing!!

Aku yang kayak dikasih shock terapy malah bingung harus bagaimana. Apa aku terus nari lagu india dan berganti baju berkain sari sambil berlarian di taman bunga kayak di film Bollywood waktu ShahRukhKhan ketemu Kajol di taman bunga warna kuning yang sebelumnya ada sapi pakai klontengan di situ. Atau aku langsung mencium bibirnya seperti kayak pilem pilem Hollywood waktu 2 orang bertemu dengan cinta yang membara yang dilambangkan dengan mawar warna merah( kalau yang ini MasyaAllah). Bingong aku. Dianya juga pasti bingong. Kita sama sama bingong, banyak pemain figuran di situ, dan kita makin bingong. Coba kalau dia ngasihnya di belakang sekolah, atau di mesjid saat semuanya sholat, atau di kuburan dekat sekolah, pasti lebih syahdu. Aku yang dari lahir sampai segede pentol korek gitu belum pernah dikasih bunga sama siapa pun juga takjub ngeliat ada juga cowok yang ngasih bunga. Aku terima khan itu, sorak sorai para pemandu terdengar. Blushing lagi. Dan entah bagaimana, pelajaran selanjutnya setelah istirahat itu, kepalaku pusiiiing, perutku mau muntah, mukaku pucat. Rasanya nggak kuat mengangkat kepala yang semakin berat saja ini. Dan aku bersama seorang teman menuju UKS tercinta. Aku jatuh sakit, setelah jatuh hati karena sikapnya yang frontal waktu istirahat tadi. Eits, tapi aku sakit bukan karena pemberian bunga mawar merah plus daun kayak sejenis daun cemara rindang sekali tadi, karena khan baca toh, aku udah bilang aku berangkat sekolah dengan lemah, letih dan lesu. Bengek hit me from the very first time I got to lovely school.

Pulangnya, karena aku masih di UKS dengan ditemani sahabat sahabat yang baik tak terkira, akhirnya aku dijemput olehnya. Aku hanya mringis mringis melihatnya di depan pintu UKS.

“Bis dikasih bunga kok malah sakit!”, banyak yang berkomentar kompak seperti itu.

Singkat cerita aku keluar sekolah bersamanya, dengan a bunch of fresh flowers di tanganku. Dia pun berkisah tentang seluk beluk datangnya bunga oh bunga itu. usut punya usut ternyata kakaknya yag kayak Barbie itu yang punya inisiatif. Thx for my lovely sister- wanna -be!!:))

Dari tampangnya emang aku juga meragukan kalau dia usaha sendiri buat ngasih itu bunga, dia bukan type romantic. Tapi, he had struggled anyway, appreciate it a lot, no matter what the hack was people thinking about us. We still stand on our love.

41 months and 1 day we have been in relationship. Yes we have a lot of trouble, yes we have difficult time and broke up many times. Yes we are sooooooo different seen from many aspects. Yes maybe some people seems like underestimated our relationship, like laughed at us at the very first time we went out and tried to have a relationship. I knew it, of course I knew. But it doesn’t matter at all. It is the past. I don’t care what on earth were people thinking about. The only thing and the important thing is we show around the world that yes we were soooo (sorry) f*ck, but by time goes, we turn into the better one, with a better relationship. Surely I don’t know whether he will be that ‘man’ or not, but we are trying, still trying to fit in each other, and get all achievements that we deserve to.

Hey boy, thanks for the flowers (:p), thanks for beautiful memories u have given to me, all pain I felt because of you, but that pain is just a part of the past, and life is about moving forward, not backward. Thx because you accept me just the way I am, because you love me until this time, hope you will always do the same, don’t be changed into the bad one. Without saying romantic words, you know what is inside my heart. Hey boy, mari nyanyi 50 tahun lagi by Yuni Shara and Raffi Ahmad.

Hey boy, es krim dong!

Thx for reading!!^^

13022011..7:18 PM

Lovely bedroom.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...