Monday, 10 January 2011

MATI

Tergopoh gopoh mendekati mercusuar, dan dihadang oleh serigala serigala, mencakarnya, menginjaknya dengan begitu beringas, menggencetnya tanpa ampun,
Peluh memandikan tubuhnya, rintihan tak terdengar lagi karena hampir tak bisa menggerakkan pita suara yang kering kerontang,
Kerongkongannya tercekat sejak dua hari lalu, tubuhnya bak jalinan tulang terbungkus kulit yang berparut di mana mana,
Jangan kan serigala, setan pencabut nyawa pun tak pernah bisa memadamkan geloranya,
Memandang mercusuar dari kejauhan, berkata di dalam hatinya, bertekad untuk mengayuhkan langkah sampai di sana,
Menginjakkan kaki di setiap tangga tua dan lapuk itu, namun jalan masih panjang,
Mercusuar masih jauh, dan serigala masih terus merobak robek kulitnya,
Tak terelakkan sakitnya, namun lakon utama tak pernah mati, setidaknya dalam kisah ini,
Serigala sialan harus dibunuh, dirobek robek dagingnya, dicincang cincang tubuhnya, dimakan sampai tidak bersisa lagi,
Makanlah serigala itu, aduk aduk perutnya sampai untaian usus sialan tersembul keluar, minumlah darahnya, peras setiap dagingnya, lumat hingga habis.
Patahkan setiap tulangnya, kuliti dia, lepaskan matanya dari rongga di wajah sangarnya, jangan biarkan dia menyombongkan badan, LAGI.
Penghalang. Harus mati.
Terseok seok, melaju, tujuan hanya satu, mercusuar.
Dinginnya malam yang memeluk erat dan membekukan darahnya, tak juga menyurutkan gairahnya,
Darah serigala masih terasa manis di bibir tipisnya, dilumatnya hingga habis. Penghalang. Harus Binasa tak Bersisa.
Dengan terus berharap malam masih tersisa, pagi masih lama menjelang, dia pompa semangatnya,
Terus memompa dan memompa,
Harus sampai di puncak itu sebelum subuh memperlihatkan urat uratnya,
Lari, dan terus berlari memburu waktu yang terus bergulir, waktu sialan yang terkadang tak mau berpihak,
Kali ini harus berpihak, lari hingga kaki tercabik cabik pun bukan masalah yang berarti,
Selagi langit masih berpelukan erat dengan sang bulan,
Nafas yang tersengal sengal, wajah yang beringas walau sakit di sekujur tubuh seakan ingin mengirimnya ke neraka, tidak sekarang, tidak akan dia biarkan.
Mercusuar itu, ya, mercusuar, tangganya yang gemeletak setiap diinjak, hidup yang terasa pahit setiap dijalani, ah, tidak ada bedanya,
Rapuh semua. Sialan. Harus ke mercusuar, tak boleh hanya sampai di sini, dan mati,
Tak kan dia serahkan hidupnya pada nasib yang dia buat sendiri, nasib pahit sepahit empedu dalam tubuhnya, tak bisa, tak akan dia biarkan.
Satu per satu mercusuar dipijaki, entah berapa tangga lagi yang harus dilewati, melayang pun tak kuasa, karena memang tak pernah semudah itu,
Mati di puncak mercusuar tak lagi masalah, selagi angin malam masih membelai belai mesra…
Akhirnya mati, MATI.
MATI, saudara saudara,…
Mati dengan menatap jajaran bintang Maha Sempurna, dengan melihat lautan hitam dengan titik titik sinar di antaranya,
Permadani hitam yang mengantarkan dia menju keabadian,
Sungguh usahanya kini tamat sudah,
MATI SUDAH.

No comments:

Post a Comment