Friday, 14 January 2011

Buka matamu, hatimu, dompetmu..

Lihat sekitar, sayang….
Tangan tangan mungil begitu akrabnya memeluk kotak kecil bertuliskan semir sepatu,
Lihat di antaramu, sayang….
Kamu ingin apa? Dalam sekejab ada…
Lihat jauh di sana, kaki kaki dekil menyeret bak beroda kian kemari. Rongsok!
Melihat mata bening mereka di antara wajah hitam terbakar, lingkaran agak putih menghiasi di beberapa bagian, miris!
Anak laki laki kecil itu selalu menyanyi, berbekal tepukan tangan, dan suara yang mendayu dayu, fals sekali.
Celananya selalu sama seingatku, celana pendek sedengkul, merah, celana sekolah.
Sekolah?? Sekolah baginya seperti memanjat Monas, wahai sahabat….
Mustahil!
“Nggak sekolah?”, dia menggeleng,
“Mbak, minta uang buat makan.”, katanya malu malu, saat itu dia duduk di sampingku, bis belum melaju.
Setelah selesai menyumbang lagu, dan orang orang menyumbang uang, dia segera turun.
Menyodorkan uang kepada seorang pedagang asongan penjual nasi bungkus.
Pukul 9.
Jadi teringat setiap harinya. Bangun tidur pukul 7 saat liburan, dapur sudah ada ini dan itu, semuanya sudah disediakan oleh ibu tercinta.
Dan dia. Makan pun harus dengan jerih payah sendiri. Kulitnya dengkil, beberapa bagian berwarna hitam seperti terkena angus knalpot. Giginya kuning, dan rambutnya tak pernah disisir.
Dilahirkan untuk hidup di jalanan, tidak etis sekali rasanya aku mengatakan ini.
Lihat dirimu, sayang….
Mau baju model terbaru, tinggal minta ayah dan ibu, baju baru siap dipamerkan.
Di antara kalian bahkan bisa kemana mana naik rangkain mesin, canggih!
Mereka itu?? Naik bis ini dan itu, lari lari mengejar bis untuk bisa membeli sebungkus nasi,,,
Nasi, gan! Cuma nasi….
Yang lain, saat kamu, kamu, dan kamu menikmati semilir angin dan hamparan warna alam, mendaki candi eksotis satu per satu, rekreasi.
Mereka itu, lengkap dengan box kayu, tali melilit diantaranya dan tergantung kuat di leher mereka. Kamu mau apa?? Ada kacang Garuda, minuman ber ion, atau mungkin jagung godog?? Mereka siap mengantarkannya untukmu. Memakai baju lusuh dengan sweater seadanya untuk menahan dinginnya terpaan angin Gunung Ungaran, berjalan sembari terus mengatakan ucapan yang sama berulang kali.
“Jagung Godog, bu, pak. Mizone, mbak…”
Saat kamu, kamu, dan kamu tidur terlelap di kamar dengan hiasan dinding attractive wana warni, selimut seharga ratusan ribu, dan kasur yang mentul mentul,
Mereka itu tidur beralaskan tanah beratapkan langit. Selimut seadanya, yang penting cukup untuk mengantarkan mereka tidur malam itu, dan malam malam berikutnya.
Saat kita mengenyam pendidikan, mereka mengenyam jalanan.
Bukan, aku bukan menyalahkan nasib kamu, sayang….
Tidak ada yang perlu disalahkan, Tuhan Maha Tahu Segalanya….
Dan Tuhan begitu adil, memberi kesempatan padamu, padaku, untuk saling berbagi…
Tuhan Begitu Adil, memberi kesempatan padamu dan padaku untuk tidak terus menerus mengeluh, mencari cari apa yang tidak ada, dan melupakan apa yang sudah dipunya.
Sabarlah, para anak bangsa….adik adik kecil penyambung hidup para orang tua, sabarlah sayang…..
Tuhan pasti punya rencana…..
Wahai sahabat, buka matamu, buka hatimu, buka dompetmu….
Lembaran uang sangat berharga, penyambung nyawa, pemuas dahaga, meringankan derita mereka.
Sekarang saatnya, sayang…..
Karena tak pernah kita tahu, esok bagaimana jadinya,,,,,
Hidup adalah roda, saat berada di atas, berusahalah untuk menolong yang di bawah, dan saat kita di bawah, Allahlah yang akan menolong kita, mungkin saja lewat tangan mereka…. Semuanya berputar, berputar, dan berputar…

No comments:

Post a Comment