Thursday, 18 November 2010

I versus Anda




Saya mengangguk ngangguk sambil mencoba mencerna kata kata dosen Speaking saya yng mempesona. Dengar dengar dari kakak angkatan, dosen ini terkenal super perfeksionis, terkadang cenderung menakutkan, dan hobi membuat make up class karena terlalu sibuk. Well, dia ini setahuku dosen paling sibuuuuuk sekampus. Yang ke Jakartalah, yang keluar negeri untuk mengisi seminar Internasionallah, hmmm….. I admire her, sooooo admiring. Bukan, dia bukan Chinese. Kulitnya eksotis. She is so confident and fashionable!! It makes me proud of being exotic!! #ngarep

Baiklah, setiap kali dia mengajar, saya selalu menenemukan pelajaran baru. Sejauh ini, dia dosen paling inspiratif, I get a lot of motivation from her!

Seperti kemarin, dia menjawab pertanyaanku tentang “Kenapa kita takut speak up?”

The answer is culture. Oke oke, mungkin kalian tahu part ini, bahwa saat kita kecil, kita dibiasakan mendengarkan yang tua ngomong, dibiasakan mengikuti apa yang mereka katakan, of course without arguing. Saat kita sekolah, culture megajarkan kita bahwa Guru adalah seseorang yang tahu segalanya. Dia selalu benar, dan kita tidak tahu apa apa. Apa pun yang guru katakan, kita setujui, sekali lagi without arguing. Nah, culture kita mengajarkan untuk menempatkan orang kedua atau Anda sebagai prioritas utama. Kita dibiasakan untuk mendengarkan, bahkan menyanggah atau arguing dianggap kurang sopan dan unusual di kelas, di rumah, atau di tempat lainnya, bukan? Kita tidak biasa untuk eyel eyelan dengan guru. Kita cenderung diam, dan guru menguasai kelas, memberikan materi, berbicara dan menyuruh membuat tugas. Mungkin tidak semua sekolah di Indonesia seperti itu, tapi stereotype yang terbentuk demikian adanya.

Sekarang, kenapa kata saya di English ditulis dengan huruf besar, I ??
Because they consider that"I" have an opinion,"I" have a right to speak up!!
. Dari culture itulah, orang Barat lebih berani untuk berbicara sebagai seorang personal. Ini jelas ada hubungannya dengan cara belajar dan mengajar di sana atau Class Tradition. Aku pernah mewawancarai seorang dosen berkebangsaan Amerika. Dia mengatakan Indonesian student is more shy to share in classroom or to question and answer. Mereka lebih bertahan di zona amannya, diam dan mendengarkan. Berbeda sekali dengan American student yang selalu aktif di kelas, tak jarang dosen dan student saling mengkritik atau memberikan pendapat yang berbeda. Intinya, mereka lebih berani berbicara daripada kita.

Sekarang, kenapa kata saya tidak capitalize, tapi kata Anda capitalize di Bahasa Indonesia?
Sudah bisa diduga, kita sangat menghormati orang kedua, atau yang berbicara hingga kita memposisikan “saya” di bawah “Anda”. Paham maksud saya??
Kita lebih cenderung menyembunyikan “saya”, merasa kalau saya banyak Tanya itu bodoh, bahkan kita cenderung merasa student yang banyak Tanya itu sangat mengganggu, bukan??
kapan baline ki, takon terus! Sok sok an!”
Berbeda dengan American student, siswa yang terus menerus bertanya dianggap sebagai siswa yang aktif dan memiliki critical thinking.
Saya pikir, hal ini juga yang mempengaruhi orang Barat seperti orang Amerika lebih sukses daripada kita. Karena apa?? They have a brave! Dimulai dari berani berbicara, berani menempatkan “saya” sebagai seseorang yang perlu diperhitungkan (sebagai prioritas), menempatkan “saya” sebagai “I”, bukan melulu soal “Anda”. Pada akhirnya mereka berani untuk keluar dari zona aman dan mendapatkan hal yang mereka inginkan, kesuksesan.

emang kamu active student, Meyk??” mungkin Anda bertanya demikian. “Belum, tapi saya akan.”
Saya belajar dari mereka yang memberikan saya motivasi untuk menjadi lebih baik, dan menuliskannya untuk berbagi dengan Anda semua. Mari kita melepaskan diri dari zona aman ynag kita buat sendiri yang sebenarnya zona penjajahan diri sendiri. Menjajah diri kita untuk stuck dan tidak melakukan apa apa. Mari belajar untuk lari dari zona aman dan mencoba hal hal yang kita anggap sulit. Karena sekali kita bisa mengatasinya, kita akan terus termotivasi untuk mengatasi kesulitan kesulitan yang lain.
Saya berjanji :
1. Tiap ada pertanyaan di otak gue, gue tetep mau Tanya. Masa bodoh mereka mau bilang gue bodoh! Orang dengan bertanya kita jadi ngerti. Katanya malu bertanya sesat di kamar??
2. Tiap ada jawaban di otak, just shout it out! Peduli semut jawaban gue salah atau benar. At least, gue udah berusaha mikir dan mengemukakan apa yang gue pikirin, gue berani!
3. Pikiran pikiran seperti malu salah, takut diketawain, dicap sok sok an, dan kawan kawannya, Cuma distract gue, menahan gue untuk bisa berkembang. Jadi????
SHOUT OUT WHAT’S ON YOUR MIND!!!!

1 comment:

  1. Thinking about the qualities they supply, you need to be willing to devote several further money, when necessary. It'd be described as a one-time rolex replica sale purchase. You can even receive breitling replica uk that being a big surprise regarding someone. Over time, the particular features regarding tag heuer replica sale timepieces provides altered. These kinds of components have been when used in order to see the moment. Yet nowadays, their particular opportunity provides widened. Not merely are usually they will employed since cartier replica uk watches, yet may also be employed since finishing touches to produce a type assertion. Nowadays, to become type star, it isn't adequate in the event you merely use stylish rolex replica uk garments; accessorising is very important also. Use Esprit timepieces to be able to endure right out of the masses and also develop a little league of your personal.

    ReplyDelete