Friday, 15 October 2010

CERPENKU DI KAWANKU MAGAZINE


Aku ingin segera pulang. Segera mengasingkan diri di dunia yang begitu nyaman untukku, untuk saat ini.
“Vel, sendiri aja??”, tanya Dika padaku yang saat itu sedang termangu menunggu bis yang nggak datang datang. Aku hanya menganggukkan kepala tanpa melihatnya. Sepuluh jerawat menempel anggun di pipiku. Bagaimana bisa aku memamerkan wajahku ini padanya?? Aku ingin dia segera pergi saja.

“Vel, kayaknya bakal lama de, kalau kayak gini. Udah ni hari panas banget lagi. Nebeng aku aja. Lagian, aku khan nglewatin rumahmu. . . .”

“Gapapa Dik, aku bisa naek angkot aja kok.” Seketika itu angkot warna kuning jurusan Ambarawa-Jambu melaju ke arahku. Terlihat terseok seok mengangkut penumpang putih abu abu. Dika memandangku seakan memberi tanda jangan naek angkot itu. Tanganku segera melambai lambai menyetop angkot yang aku sendiri nggak tau mau naek dimana.

“ Ga liat ni kalau udah penuh???”, cewe sebayaku yang kesulitan berdiri di pintu angkot angkat bicara. Aku hanya tersenyum dan mundur selangkah.

“Vel, uda ikut aku aja. .jam jam segini emang angkot pada penuh. ”, aku tak tau mau mengelak apa lagi. Dia menyodorkan helm, dan mau tidak mau aku pulang bersamanya. Sesekali dia memandangku lewat spion motornya.

“Ni cewek jelek banget sih. Udah bisulan di wajah, mana gendut, item lagi.” Tanganku menutup wajahku sebatas mata. Berpura pura melindungi pernafasanku dari debu dan asap knalpot. Aku tau apa yang ada di otaknya saat itu. Perjalanan 10 kilo terasa 20 kilo bagiku. Kenapa tiba tiba rumahku jauh sekali.

Aku pandangi wajahku. Aku ingin membeli cermin mahal yang bisa membuatku bahagia saat aku memantulkan bayanganku. Berlama lama di depan kaca membuatku lapar. Aku tak peduli lagi. Sudah ku coba makan satu kali sehari selama seminggu, tapi satu ons saja beratku tak kunjung turun. Masa masa pertumbuhan seperti ini membuatku cepat merasakan lapar. Aku ingat saat itu. . . .

Saat pertama kali aku makan di kantin bersama Medi.

“Vel, kamu mau pesan apa??”, tanya Medi, temanku.

“Mie ayam aja Di.”, jawabku sambil menahan lapar sehabis pelajaran olah raga. Pelajaran terkutuk untukku.>Saat itu aku benar benar lapar, dan menghabiskan dua porsi mie ayam. Medi hanya memandangku dan menggeleng gelengkan kepala.

“Ni cewek nggak isa jaga badan banget sih. Udah gendut, kayak balon mau pecah, masih aja makan kayak nggak makan dua hari.”

Aku langsung ijin ke kamar mandi dan memuntahkan semua mie ayam yang sudah aku telan.
Ah, ingat hal itu, aku ingin sekali memusnahkan rasa lapar yang seakan menyiksaku. Namun, bagaimanapun rasa lapar selalu aku rasakan. Rasa lapar. Rasa tidak puas. Hari ini aku makan dua piring. Ternyata sepiring nasi, paha ayam, sup dan telur tak menghentikan keroncong yang sedari tadi menyanyi indah di perutku.

“Vel, cepetan turun. . . ni keluarga dari Padang udah pada datang. . . .”

“Velna capek mah. . .”

“Jangan gitu Vel. . .cepetan turun. . kasian mereka ke sini mau ketemu kamu. . .udah sepuluh tahun nggak ketemu khan?? Cepetan turun mama tungguin. . .dandan yang cantik ya sayang. . .”

Mama menghinaku. Bagaimana bisa aku seperti itu. Dandan yang cantik. . .

Perasaanku campur aduk saat aku menuruni tangga dan melihat tatapan mereka.

“Ih, anaknya Mbak Soni jelek amat. Masa udah SMA kayak gitu dandanannya?? Mana gendut, item, jerawatnya banyak lagi. Idih. .

Aku ingin segera kembali ke kamar dan mengunci pintu. Kamar, tempat paling aman untuk ku, dari tatapan tatapan yang seakan menghujamku. Aku menyalami mereka satu per satu. Dan tentu saja berusaha sangat keras untuk tersenyum sangat manis. Walaupun aku tahu, senyumku sangat garing.

“Velna sekarang udah gede ya. . .”, kata Om Tito, adik dari mama yang tinggal di Padang bersama istrinya.

“Velna, ini saudaramu yang dulu sering main sama kamu. . .Akbar. masih inget nggak??”, ucap Tante Hesti, istri Om Tito sambil membawa anaknya yang berpenampilan so cool itu untuk bersalaman denganku.

“Nggak salah ni Velna yang aku ajak main dulu?? Kok sekarang beternak jerawat??”. Aku ingin tidor saja!!

“Hai Vel, udah lama nggak ketemu. Apa kabar??”

“Hai Bar, iya. . .sudah lama kita nggak ketemu. Ehm, aku baik baik ajah. . .”, ucapku.

“Hai Bar,. . .iya. udah lama nggak ketemu. Pinginku, nggak usah ketemu sekalian. Aku tau pendapatmu tentang ternak jerawatku. Kabarku jelas ajah nggak baik. Mana bisa baik dengan tampilan kayak begini???”, batinku.

“Oya Tito,Hesti. . .ayo kalian makan dulu. . .pasti udah pada lapar khan?? Biar Velna yang nyiapain semuanya. Coba dibantu Akbar.” Mamah memang paling tahu yang bikin aku tersiksa.

“Oke, Tante. Ayo Vel.” Aku hanya mengangguk dan ke dapur bersamanya. Aku tak banyak bicara.

Hari Senin, sekolah seperti biasanya. Kakiku dengan berat hati melangkah ke sekolah. Melihat teman teman yang begitu langsing, cantik, dan terlihat berseri seri membuatku ingin muntah. Kapan pulang??

“Vel. . . .tungguin aku dong.”, panggil Medi.

“Aku memperlambat langkahku dan menengok ke arahnya.” Bila dibandingkan denganku, Medi adalah sosok anak SMA yang bling bling. Berat badan sekitar 45, dengan tinggi 165. Berkulit kuning langsat khas cewek Asia, dengan rambut seperti rambut artis iklan shampo. Aku juga tak habis pikir kenapa dia selalu membuntutiku. Mungkin, supaya dia semakin terlihat jauh lebih bling bling disandingkan bersama cewe serba standar bahkan di bawah garis standar sepertiku.

“Vel, ntar aku ajak ke mal mau nggak??”, tanyanya sambil menggandeng tanganku. Baiklah Medi, aku tau maksudmu. Menggandengku seperti ini untuk memamerkan kulit mu itu dengan kulit gelap korban terik matahari saat nungguin angkot sepertiku ini,.

“Ehm, nggak bisa Di. Sory. Aku mau langsung pulang aja.” jawabku sambil berusaha melepaskan gandengan tangannya.

“Ayolah, Velna. . . .aku nggak pernah liat kamu jalan jalan, apalagi gabung bareng temen-temen. Kamu napa si Vel. . .”

“Aku malas melihat tatapan kalian terhadapku.”, batinku.

“Owh, nggak papa Di. . . .sori ya Di. Aku nggak bisa. . .”. Medi membuatku semakin tidak nyaman. Aku segera pamit dan buru buru pergi sebelum dia mengajakku lebih parah lagi. Misalnya, ke pesta dengan memakai gaun selutut dan bagian atas yang terbuka. Aku masih doyan nasi. Namun, Medi menarik tanganku.

“Kali ini saja Vel.”

Sepulang sekolah dia mengajakku ke mal. Entah apa lagi yang akan dia perbuat untuk membuatku malu. Kami berjalan melewati penjual koran. Terlihat seorang cewek, yang duduk di samping dagangannya dan asyik bercanda bersama teman temannya. Tunggu, aku melihat ada sesuatu yang beda darinya. Kulitnya tampak tidak rata. Banyak sekali bercak putih kemerahan di sekujur badannya. Teman di sebelahnya berjalan dengan tidak biasa. Tampak tulang kaki kanannya membengkok sehingga membuat dia berjalan pincang. Tiba tiba jantungku berdenyut kencang. Sangat kencang. Aku merasakan ada sesuatu yang ingin sekali meledak di dalam hatiku. Entahlah, apa yang aku rasakan sekarang. Mataku terpaku pada sosok mereka. Bercanda seakan tak punya beban.

“Dik, beli majalah biasanya dong. . .”, kata Medi pada gadis itu.Gadis yang merasa dipanggil segera menghampiri Medi dan mengambilkan majalah pesanan Medi.

“Tumben bawa teman, Kak.”

“Iya ni, kenalin Kak Velna.” Aku hanya menganggukkan kepala dan tersenyum simpul. Dia membalas semyumanku. Matanya terlihat begitu bening.

“Vel, mereka itu penjual majalah langgananku. Aku salut sama mereka. Walaupun dengan tubuh seperti itu, mereka sama sekali tidak malu. Tetap mau bergaul dengan yang lainnya.”

Aku hanya terdiam. Begitu merasa bersalah.

Sepulang dari mal, aku segera mengunci diriku di kamar. Gemericik air dari kamar mandi di samping kamarku seakan mengundangku untuk membasuh wajah dan tanganku. Bersujud dan meminta ampun dengan keluhan keluhan konyolku selama ini. Bersyukur dengan begitu banyak rahmat yang dialirkan untukku. Menangisi setiap kata kata kotor yang bermunculan di pikiranku selama ini.

Saat aku pulang sekolah. . .

“Vel, sendirian di sini. Angkotnya pasti penuh. Bareng aku ajah gimana?”

“Ehm, boleh juga. Gimana kalau kita makan dulu di situ. Es buahnya enak.” Tampak Dika memandangku heran.

“Weks, ni cewek emang bener bener jelek. Jerawat nemplok di mana mana lagi. Ngeri. . .”

“Diam!!! Cukup Vel! Cukup hasutan hasutan setan seperti itu. Aku ingin berubah. Bukan lagi Velna dengan pikiran pikiran kotornya.”

Dika mengangguk dan tersenyum manis sekali. Dia menyodorkan helmnya dan aku segera naik. Ku lihat dia tersenyum lewat kaca spionnya. Aku berbalik tersenyum. Tak ada umpatan. Tak pernah Dika bilang ada bisul di pipiku. Medi tak pernah bilang aku kayak balon mau pecah. Akbar tak pernah bilang aku peternak jerawat. Pikiran kotorku yang mengatakan itu semua. Dan mulai sekarang, akan aku bungkam. Aku adalah Velna Ayu Rosmayanti yang walaupun gendut, tapi sehat. Walaupun item, tapi tak punya penyakit kulit. Dan masalah jerawat, akan segera aku tuntaskan di dokter ahli kulit. Masalah gendut, aku akan melakukan diet sehat. Semuanya akan baik baik saja kalau aku mau bersyukur. Menerima aku apa adanya. Mencintai diri sendiri, dan aku yakin suatu saat, akan ada yang mencintaiku, apa adanya diriku. Aku bahagia dengan apa yang aku punya. Yeah!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...